Bakasan Selangkangan Dalam Perspektif Santri

Prspekif santri terhadap bahasan slakangan

Pagi masih buta. Tetapi Kasmudi sudah menyuguhkan pertanyaan yang membabi buta. Sambil membanting naskah baru saya, dia bercocot, “Ini buku tentang agama apa selangkangan sih, Kang?”

“Tentang banyak hal. Selangkangan hanya sebagian kecil dari yang kubahas di dalamnya. Itu pun bukan pembahasan yang porno. Aku membahasnya dalam perspektif agama, loh.”

“Agama itu pembahasan suci, Kang. Sampean kan santri. Mestinya, sampean tahu perihal sopan santun?”

Saya memperbaiki posisi duduk senyaman mungkin. “Sini, Kas. Duduk yang manis. Aku baru saja menyedu kopi.

Tidak banyak, hanya secangkir kecil bertutup pentil. Semoga cukup untuk menghilangkan penat yang kauderita. Tidak manis, agar nikotin dalam paru-parumu akibat rokok yang kaukonsumsi ternetralisir. Seruputlah pelan-pelan dan jangan terlalu agresif. Nikmati pahitnya, nikmati sensasinya.”

Kasmudi duduk di samping saya. Sangat dekat, sambil menatap mata saya. Seperti sedang menilik dan menilisik.

“Jangan menatapku seperti itu. Banyak yang gagal tidak jatuh cinta padaku jika sudah memandang macam itu.”

Kasmudi tak mengeluarkan ekspresi.

“Oke. Aku ingin memberitahumu sedikit tentang sopan santun. Dengarkan baik-baik, dan anggukkan kepala jika sudah paham!

“Sopan santun adalah Adab. Dari bahasa asalnya, adab memiliki arti sastra. Orang yang kualitas sastranya baik, mampu meletakkan pada porsinya, yang dilakukan dinamai dengan Husnul Adab. Yang sastranya buruk, dinamai dengan Suul Adab.

“Seorang anak yang mengomentari berat badan ibunya, ‘Mak, Koen kok tambah kuru ae. Ndasmu sampek kimpes kabeh ngono. Iku ndas toh plembungan ….’ Ini adalah contoh Suul Adab. Padahal, jika dilakukan dengan tutur yang halus, perempuan mana yang tidak bahagia dibilang langsing?

“Bukan itu yang saya penasarankan, Kang. Tetapi sikap sampean yang cenderung mencampuradukkan soal agama dan selangkangan.”

Kasmudi menyela sebelum saya buka sesi tanya jawab. Baiklah, tidak mengapa.

“Begini, Kas. Kalau kamu rajin ngaji, kamu akan sering menemui kata-kata yang oleh sementara orang dianggap tabu, tetapi sebenarnya biasa saja di kalangan orang-orang ngaji.

Mungkin karena bahasa Arab terlalu indah, sehingga bahasan selangkangan pun terkesan seperti doa. Kata Dzakar misalnya. Hurufnya sama persis dengan kata Dzikir, begitu juga dengan kata Dzakara.

Bahkan, untuk menyebut laki-laki, bukan saja hurufnya yang sama, tetapi juga harakatnya. Sama-sama Dzakar. Bayangkan kalau kata-kata seperti ini berlaku di Jawa: Seorang ayah sangat gembira tatkala buah hatinya lahir. Lalu dengan girang ia berkata pada tetangganya, ‘Lur … anakku kont*l.’ Kan nggak lucu.

“Demikian juga kata Farji dan Rahim. Dua kata itu jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi cukup aneh. Padahal dalam bahasa Arab, Farj bisa berarti kenyamanan, kebahagiaan, atau solusi permasalahan. Dan kata Rahim bisa berarti cinta dan kasih sayang.

“Di banyak pesantren, tidak jarang kiai-kiai memaknai kata-kata tersebut dalam bahasa Jawa apa adanya, itu lebih simpel dan tidak perlu memperpanjang keterangan.

Ada kiai yang terlalu menjaga muruah, tetapi ujung-ujungnya menjelaskan juga. Ada yang dengan bahasa metafora, misalnya memaknai Hasyafah dengan heleme manuk.

Santri yang telat mikir mungkin malah akan menyangka manuk dalam arti sesungguhnya: binatang berkaki dua, berbulu, dan bersayap.

Lalu mungkin akan berfantasi, ‘Ternyata manuk punya aturan berkendara juga, ya? Pantesan manuk kutilang sering ketilang, nggak pernah pakai helm, sih.’

“Bukan gitu, Kang.” Kasmudi menyergah lagi. Seakan-akan jawaban panjang saya tidak sesuai pertanyaan.

“Lalu apa?”

“Masalahnya, bagaimana jika anak kecil juga ikut mendengar atau membaca bakasan ini?”

“Begini, Kas. Kesalahan terbesar orang tua dalam mendidik anak adalah: mereka membiarkan anaknya berjalan sendiri, tanpa diberi bimbingan, tanpa dikasih tuntunan, sehingga jika mereka tersesat, mereka akan benar-benar tersesat.

Jika orang tua menyuruh anaknya ke Jakarta, orang tua harus memberi alamat yang lengkap, yang jelas. Jika tidak, mereka akan mencari sendiri.

Iya kalau nyasarnya ke Istiqlal atau Monas, kalau ke lokasi-lokasi prostitusi?

“Demikian pula dengan seputar selangkangan. Berapa banyak anak yang sudah mulai balig tetapi belum mengerti cara mandi janabah?

“Jika anak tidak dikenalkan dengan  yang begituan dengan baik, saat ia mendengar kata ‘sperma’, maka yang terbesit dalam otaknya boleh jadi adalah cairan yang muncrat di wajah gadis cantik asal Jepang.

Itu orang-orang tuanya, loh, yang dosa. Namun, jika sejak dini anak dididik dalam lingkungan religius yang anggun, ketika mendengar kata ‘sperma’, maka yang terbetik dalam benaknya adalah babakan syariah.

Misalnya: sperma adalah bahan penciptaan manusia, itu sebabnya mayoritas ulama tidak menghukumi najis, meskipun ia keluar Min Aẖad al-Sabīlayn. Hanya saja, yang bersangkutan dihukumi berhadas, dan harus mandi janabah, baik keluarnya karena mimpi basah, maupun hasil persebadanan pasangan suami istri.

Jika Hasyafah seorang lelaki masuk ke Farji pasangannya, keluar sperma maupun tidak, tetap wajib mandi. Permulaan kebaligan anak laki-laki adalah keluarnya sperma di usia sembilan tahun (kalender Hijriah) ke atas. Jika sebelum itu, maka tidak. Jika tidak pernah keluar sperma, maka balignya terhitung sejak usia lima belas tahun (kalender Hijriah).

“Anak yang tidak dididik dalam lingkungan religiusitas yang intensif, saat mendengar kata ‘darah haid’, maka yang terbayang olehnya adalah ….”

“Stop! Kita lanjutkan nanti lagi. Berikan saya waktu untuk menyeruput kopi racikan sampean yang mulai dingin.”

0 Response to "Bakasan Selangkangan Dalam Perspektif Santri"

Post a Comment

Tinggalkan Komentar Anda

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel