Cakrawala Terbuka, Cerpen Santri

Cakrawala Terbuka, Cerpen Santri

Cakrawala terbuka. Dari cela-cela dedaunan, sinar merah keemasan matahari pagi menerobos dan membelai lembut wajah kuning langsat Rafa yang lemah. Rambutnya yang sudah mulai memanjang berkibar melambai-lambai seperti sedang menyambut kebahagiaan.

Jarang-jarang gadis mungil itu tersenyum dalam derita hidupnya. Senyumnya sangat manis, seperti tak pernah merasakan penderitaan. Rafa ingin sekali menceritakan mimpi manisnya tadi malam, tapi tidak tahu kepada siapa ia bercerita.

Sambil tersenyum Rafa memandang kucing hitamnya. Mereka saling pandang. Kucing itu menghampiri Rafa dan duduk di pangkuannya. Rafa mengelus bulu-bulu lembut kucing itu dan dan menceritakan kisah mimpinya pada kucing itu.

“Mengapa kau diam saja, Bojel?” tanyanya pada kucing hitam itu setelah menceritakan kisah mimpinya.

Kucing itu mengernyitkan dahi, Rafa menamparnya. “Percuma aku bercerita padamu, tapi kau tak pernah memberi saran atau nasehat. Tak ada bedanya kau sama Tante Sari.”
Kucing hitam itu mengeong.

“Apakah kau tidak punya kosakata lagi selain meong? Kau tidak ada bedanya dengan kucing-kucing lain, Bojel.”

Rafa berdiri meninggalkan Bojel, tapi kucing hitam itu terus mengikutinya dari belakang. Rafa menendang pada perutnya hingga Bojel terlempar. Rafa terus berjalan, kucing hitam itu terus mengikuti. 

Sudah bertahun-tahun Sari duduk di depan cermin menyisir rambutnya yang terurai. Ia memakai lipstik merah pada bibirnya yang ranum. Ini adalah pertama kali ia memakai lipstik, didapatnya dari seorang pria kemarin sore.

“Pakailah lipstik ini agar bibirmu tidak pucat,” kata pria itu.
“Aku tidak biasa dan tidak bisa memakai seperti ini.”
“Oleskan saja di bibirmu. Kau akan terlihat lebih cantik dengan itu, bahkan kau bisa menaikkan tarifmu.”

“Mas ini ada-ada saja, wong dua puluh lima ribu saja sudah banyak yang protes kok.”
Seharian ini belum ada satu pelanggan pun. Berkali-kali Sari menengok lewat jendela kamarnya, tak ada bunyi sepeda motor satu pun. Siang ini sangat sunyi, tak ada bedanya dengan tengah malam kecuali sinar matahari yang membedakannya.

Sari terus menyisir rambutnya di depan cermin, meskipun sudah berkali-kali, dia tetap terus mencari senyuman mana yang paling manis yang dia punya.

Ketika senja menghampiri, suara sepeda motor terdengar dari kejauhan. Suara itu semakin mendekat dan akhirnya berhenti di depan rumah Sari. 

Seorang pemuda berkemeja biru dan celana hitam mengetuk pintu dan beruluk assalamualaikum. Ia menutup mulutnya, dan mengganti dengan permisi.

Rafa membukakan pintu untuknya. Pria itu bertanya, “Ibu kamu ada?”
“Tidak ada, Ibuku telah membuangku,” jawab Rafa dengan keluguannya.
Dari balik selambu datanglah Sari. “Dia bukan anakku. Dia adalah anak penderitaan. Orangtuanya membuangnya di depan rumahku. Sebejat-bejatnya aku, tetap mempunyai rasa kasihan pada manusia.”

“Mulia sekali hatimu, Sari. Perkenalkan, nama saya Arif,” kata pria itu.
Sari menatap tajam mata pria itu. “Saya tidak bertanya nama, dan saya tidak pernah ingin tahu nama siapa saja yang ke sini. Masuklah!” 
Sari menadahkan tangannya, pria itu memberikan uang seratus ribuan.
“Aku tidak punya kembalian.”

“Ambil saja untukmu!”
Sari berdiri. “Mas, saya ini bekerja. Bukan ngemis. Pekerjaan ini adalah pekerjaan mulia, seperti yang kaukatakan tadi. Dan pengemis sama sekali tidak ada kehormatan untuknya.”
“Saya tidak pernah berkata pekerjaan Anda adalah pekerjaan yang mulia. Saya bilang hati Anda sangat mulia. Itu juga bukan karena pekerjaanmu, tapi karena kebaikanmu mau mengentas anak itu dari penderitaan.”

“Sudah, tinggalkan banyak omongmu dan katakan apa yang kauinginkan?”
“Saya hanya ingin berbincang-bincang.”
“Saya tidak menerima bincang-bincang. Saya sudah kenyang dengan tausiah-tausiah orang-orang sepertimu. Saya sudah hafal ayat wala taqrabuzzina beserta terjemah dan tafsirnya.” 

“Anda salah sangka. Saya bukan orang yang Anda maksud. Saya hanya ingin menawarkan Anda pada kehidupan yang lebih layak. Anda menyayangi anak kecil itu, bukan?”
“Sudah banyak yang menawarkan seperti itu. Tapi saya tidak tertarik. Saya ingin tetap seperti ini. Menjadi seorang istri hanya akan membatasi dan mengungkung.”

“Rupanya Anda gemar sekali menebak-nebak. Dan tebakan Anda tidak pernah benar. Hidup ini nyata, Mbak, bukan tebak-tebakan.”
“Katakan siapa dirimu?”
“Saya Arif.”
“Saya tidak bertanya namamu. Kau polisi?”
“Saya adalah seorang germo. Harga yang Anda patok itu terlalu murah, dengan kecantikan Anda seperti ini, Anda bisa menjual diri lebih mahal dari itu. Hanya tinggal menambah sedikit polesan.”
“Maaf, Mas. Saya bukan seorang pelacur. Silakan Anda tinggalkan tempat ini!”

“Pikirkan baik-baik.” Pria itu berdiri, sesampai di tengah-tengah pintu, ia berkata lagi, “Pikirkan hal ini baik-baik.” Pria itu kembali mendekat ke Sari, memberikan kartu nama, lalu pergi lagi.  
Rafa mendekati Sari, berharap ibu asuhnya itu membelai rambutnya dengan mesrah, namun bukan belaian yang ia dapatkan, melainkan jambakan hingga beberapa helai rambutnya rontok. 
“Mengapa Tante kasar sekali padaku? Apakah Tante marah pada pria tadi terlalu menjengkelkan lalu lampiaskan padaku? Kalau memang begitu, lakukanlah!”'

Sari terdiam. Matanya basahnya. “Besok kamu harus mulai sekolah, Rafa,” katanya.
“Sekolah?” Wajah Rafa bersinar. “Berarti aku akan segera mendapatkan banyak teman ya, Tante?”
“Sekolah bukan untuk mencari teman, tapi mencari ilmu. Agar kau pintar, tidak seperti ibumu.”
“Memangnya ibuku bodoh ya, Tante?”

“Tidak ada yang lebih bodoh melebihi ibumu. Ibumu adalah orang paling bodoh di dunia.”
“Memangnya Tante kenal sama Ibu? Mengapa Tante tidak pernah mempertemukanku dengannya?”
“Malam ini kita ke pasar malam. Kita belanja untuk perlengkapan sekolahmu besok. Bersiap-siaplah!”

HARI PERTAMA SEKOLAH


Rafa memperkenalkan diri di depan teman-temannya. Suaranya  sangat pelan meskipun sudah beberapa kali gurunya mengingatkan agar memperkeras suaranya. Malah ia gemetaran. Wajahnya pucat. Dan bibirnya bergetar. Rafa meremas-remas ujung bajunya untuk meminimalisir kekalutannya. Tapi tetap saja, terlihat. Hingga kemudian gurunya menyuruh untuk menempati tempat duduknya yang terletak di bangku paling belakang. Pojok kanan, dekat jendela.

Selama pelajaran berlangsung, pandangan Rafa hanya tertuju pada apa yang ada di luar jendela. Ketika gurunya menyuruh menulis dan membaca, ia malah menangis. Teman-teman sekelasnya sudah bisa baca dan tulis. Maklum, mereka sebelumnya telah belajar baca dan tulis di taman kanak-kanak. Sementara ini adalah hari pertama Rafa bersekolah. Jangankan baca dan tulis, cara memegang buku dan pulpen pun ia tak tahu.

Sisa isaknya masih terdengar. Beberapa teman ada yang menyorakinya, tapi banyak yang kasihan. Di antaranya adalah Feri, ia menghampiri Rafa dan memberinya coklat. Rafa tersenyum dan berterima kasih, meskipun sisa isaknya masih ada. 

Dalam sesaat ia sudah mulai beradaptasi dan akrab dengan teman-temannya. Beberapa temannya, saat jam istirahat, memposisikan menjadi guru dan mengajarinya membaca dan menulis. Rafa memang anak yang cerdas. Dalam waktu singkat, ia mampu menghafal beberapa huruf dan mampu menulisnya. Feri menuliskan di buku tulisnya huruf abjad dari A sampai Z, agar Rafa menghafalkannya di rumah.

KENANGAN SURAM


“Bagaimana sekolahmu?”
“Sangat menyenangkan. Rafa sudah mempunyai banyak teman.”
“Sudah Tante bilang, sekolah bukan untuk mencari teman, tapi mencari ilmu, Rafa.”
“Tapi teman-teman Rafa baik-baik, Tante. Apalagi Feri. Sudah tampan, pinter, baik lagi. Tadi Rafa dikasih coklat. Terus Rafa juga diajari membaca dan menulis.”

“Memangnya gurumu tidak mengajarinya?” tanyanya setengah membentak, “besok kamu sudah tidak usah sekolah lagi! Percuma,” pungkas Sari.

“Memangnya tante mau mengajariku membaca dan manulis? Teman-temanku semua sudah bisa baca dan tulis karena mereka sudah sekolah TK. Rafa malu, Tante. Rafa tadi ditertawakan banyak anak karena tidak bisa baca dan tulis.”

Sari terdiam. Harusnya dia memang sudah menyekolahkan gadis kecil itu sedari TK, namun kegalauan jiwanya telah mengorbankan bukan hanya dirinya. “Tante akan mengajarkanmu baca dan tulis. Kamu harus tetap sekolah, tapi tidak usah berteman. Dengan siapapun.” Perempuan berparas cantik itu bergegas ke kamarnya. Duduk di depan cermin. Menyisir rambutnya meskipun tak ada sehelai pun yang berantakan. 

Air matanya tumpah, membasahi seluruh wajahnya. Air matanya, meskipun sudah berkali-kali tumpah, namun tak ada habis-habisnya. Air mata itu bersumber dari pengalaman buruknya beberapa tahun silam ketika ia mulai mengenal seorang lelaki bernama Sholeh, tapi tidak ada kesalehan padanya.

Pertama kali kenal Sholeh, lelaki itu terlihat sangat baik, juga pintar. Sholeh selalu mendapat rangking satu dalam kelasnya. Hampir setiap tahun ia selalu menjadi siswa teladan di sekolahnya. Banyak sekali perempuan yang kagum dengannya, di antaranya adalah Sari.

Cinta Sari rupanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ketika Sari duduk di bangku taman sekolahnya seorang diri, Sholeh menghampirinya. Tanpa basa-basi yang terlalu panjang, Sholeh menyatakan cintanya pada Sari. Tentu saja, Sari yang sejak semula telah mengagumi Sholeh, langsung menerima tembakannya itu. Sari sangat bahagia. Mereka pun jadian. 

Ketika mereka lulus SMA, Sholeh mengajak Sari untuk jalan-jalan ke tempat wisata. Saking menikmatinya, tak terasa siang telah tergantikan oleh malam. Pantulah cahaya bulan dan gemerlap bintang di langit memperindah suasana. 

“Sari, kekasihku.”
“Iya, Mas.”
“Bolehkah aku berbicara padamu?”
“Dari tadi kita juga sudah bicara, Mas.”
“Ini pembicaraan yang serius.”
“Seserius apa sih, kok sampai segitunya?”
“Aku ingin kita putus.”

Sari terbelalak. “Maksud kamu apa? Mengapa tiba-tiba tanpa alasan yang pasti kau memutuskanku? Apa kau sudah tidak mencintaiku?”
“Bukan begitu, Sari. Justru aku ingin kita putus karena aku sangat mencintaimu.”
“Aku benar-benar tidak paham dengan apa yang kau katakan.”

“Aku ingin kita putus dalam hubungan seperti ini. Aku ingin kita tidak pacaran lagi. Aku ingin kita menjadi pasangan yang sah. Aku ingin kau menjadi istriku, dan ibu dari anak-anak kita kelak.” Untuk pertama kalinya Sholeh menyentuh tangan Sari. “Maukah kau menikah denganku, Sari?”

“Apa ini tidak terlalu cepat, Mas? Memangnya orangtua Mas tidak menyuruh untuk kuliah terlebih dahulu?”

“Kuliah kan bisa setelah menikah, Sayang.”
“Apakah orangtua Mas sudah tahu tentang hubungan kita?”
“Malam ini juga aku akan membawamu ke rumah, akan kuperkenalkan kau dengan orangtuaku.” Suara Sholeh mantap. Meyakinkan.

Rumah yang luas itu kosong. Tidak ada siapa pun di rumah itu. Rupanya orangtua Sholeh tidak sedang berada di rumah. Sebenarnya Sholeh sudah tahu akan hal itu.
“Abi sama Ummi sedang keluar, kita tunggu saja, mungkin sebentar lagi pulang. Kau mau minum apa?”

“Sudahlah, Mas. Sari pulang saja ya? Ini sudah malam.”
Sholeh duduk di sebelah Sari. Sangat dekat. Tangan Sholeh membelai lembut rambut Sari yang tergurai panjang. Entah angin apa yang kemudian mendorong kepala Sholeh hingga sedikit miring, lalu mendekat ke wajah Sari. Napasnya memburu. Sari hanya terdiam pasrah. Matanya terpejam. Dan ...

Itu adalah ciuman pertama yang dirasakan Sari. Matanya basah, lalu jatuhlah berkeping-keping air mata dari sudut matanya. Sholeh bermain sangat halus, hingga tak disadari oleh Sari, malam itu juga, keperawanannya telah direnggut oleh pria keparat itu. 

Setelah kejadian itu, Sholeh tiba-tiba menghilang. Pindah rumah tanpa memberi kabar pada Sari. Hingga pada suatu hari Sari mendapat surat darinya, Sholeh mengatakan kalau dia telah menikah dengan gadis pilihan orangtuanya. “Semoga kejadian malam itu tidak membuatmu hamil. Kalau hamil, gugurkan saja kandunganmu.” Begitulah kurang lebih penutup kalimat surat itu.

Sari hamil. Sudah empat bulan. Tidak mungkin baginya menggugurkan kandungan itu. Betapapun, anak dalam kandungannya itu tidak pernah salah, dan ia tidak berhak untuk mendapat hukuman dari perbuatannya itu.

Tidak ada yang tahu tentang kehamilan Sari kecuali sahabat dekatnya, Wulan. Wulan lah yang kemudian membawa Sari ke tengah-tengah hutan dan merawatnya di sana selama kehamilan. Hingga lahir gadis cantik yang kemudian dinamainya Rafa. Ya. Rafa. Gadis malang itu bukan anak angkat dari Sari, bukan pula anak yang dibuang ibunya.

Hanya Sari tidak mau anak semata wayangnya itu tahu bahwa ibunya adalah manusia bejat, lebih bejat dari yang dikiranya itu.

“Maafkan Rafa, Tante. Izinkan Rafa untuk terus sekolah. Rafa janji tidak akan berteman dengan siapapun.” Rafa mengusap air mata Sari dengan telapak tangan mungilnya itu.
“Maafkan Tante juga, Rafa. Tante hanya tidak ingin ada seseorang yang menyakitimu.”

ISA


Isa. Pemuda berparas tampan itu entah sudah berapa lama mendekap dalam kamarnya. Menghabiskan berbungkus-bungkus rokok. Diharapkannya asap rokok yang dihisap itu ketika dikeluarkan akan membawa penderitaannya ikut keluar.

Namun, asap rokok itu terus berputar-putar di dalam kamarnya, dan tidak disadarinya kembali tersedot oleh hidungnya dan masuk ke dalam paru-parunya. Menyatu bersama penderitaan.

Isa merasa gagal menjadi seorang pria. Harusnya saat ini Isa tertawa terbahak-bahak karena telah berhasil memenuhi hasratnya dengan wanita yang dicintainya secara Cuma-Cuma. Benar-benar Cuma-Cuma. Bukan saja tidak membayar, tapi tak perlu bertanggung jawab untuk menikahi wanita itu.

Harusnya sebagai pria, Isa tersenyum bangga serta bahagia. Tapi apa yang dinamai orang-orang sebagai cinta itu rupanya telah memporak-porandakan kehidupannya sebagai pria, mencabik-cabik hati dan perasaan seorang pria yang harusnya sekuat baja. Isa terlalu lemah. Karena cinta.

Tiba-tiba semilir angin yang berhembus dari cela jendela kamarnya menerpa otaknya dan mengarahkan pandangannya pada sebuah gunting yang tergeletak di atas meja. Isa ingin segera mengakhiri penderitaannya.

Ia memungut gunting itu. Kemudian berdiri di hadapan cermin. Memandangi gunting yang ada di tangannya itu berkali-kali, membolak-balik. Lalu dengan kasar gunting itu menebas rambutnya. Semangatnya berkobar. Tidak ada gunanya meratapi kesedihan. Hidup ini terlalu sayang untuk tidak ditertawakan, teriaknya dalam hati.

“Isa ...” Sebuah suara terdengar dari balik pintu kamarnya, “Tadi Ibu ketemu sama Bu Aminah di pasar. Dia menanyakanmu, kapan kau mau masuk lagi? Sudah beberapa hari ini kau tidak mengajar.”
“Iya, Bu. Hari ini saya mau masuk lagi,” jawab Isa sedikit berteriak, tapi tidak sekencang ibunya. Ia tahu sopan santun. Tidak boleh seorang anak suaranya melebihi nada suara orangtua.

Sebenarnya Isa merasa sangat malu untuk kembali mengajar. Pelajaran yang ia pegang adalah pelajaran Agama.

Sementara kelakuannya sendiri telah menyimpang begitu jauh dari ajaran Agama. 
Dosa yang dilakukan Isa tidak ada yang tahu kecuali dia dan pacarnya. Oh, ada lagi, dan Tuhan. Oh, masih ada lagi. Malaikat. Oh, ada lagi. Ranjang, selimut, dinding, dan semua yang ada di situ. Tidak mengapa. Asal jangan manusia yang tahu. Karena manusia seringkali tidak bisa menjaga mulutnya sendiri.

“Wah ... ada yang beda nih dari Pak Isa,” ledek Hamid, teman mengajar Isa, melihat rambut baru Isa, “dari mana saja beberapa hari ini kau tidak terlihat? Tanpa meninggalkan surat izin pula.”
Isa tersenyum simpul. “Aku mencari-cari tukang cukur yang bisa memotong rambutku, Mid. Karena rupanya aku masih keturunan dari Samson.

Dan butuh orang yang benar-benar sakti yang bisa memotong rambutku. Disuruhlah aku untuk bertapa beberapa hari,” jawab Isa disertai gelak tawa.

“Kau memang pandai mencari alasan, Pak.” Sebenarnya Isa tidak lebih tua dari Hamid, tapi semua guru selalu memanggilnya “Pak”, karena wajah Isa memang terlihat lebih tua dari umurnya.
“Aku pengen ganti mata pelajaran, dong,” ujar Isa setelah menyeruput kopi hitam di atas meja. 
“Mau ganti mata pelajaran apa, Pak? Memangnya kamu bisa selain pelajaran Agama?”
Isa terbungkam. Dia memang lemah di semua pelajaran. Hanya pelajaran Agama lah yang benar-benar dia kuasai. 

“Ya, apa kek, kerajinan tangan atau apa lah. Aku bisa kok menggambar.”
“Terus, Pak Jayadi mau kamu taruh mana? Sudah puluhan tahun dia mengajar kerajinan tangan, masak kamu rela menggeser profesi yang sudah digelutinya berpuluh-puluh tahun itu?”
“Tapi aku malu, Mid. Mana mungkin aku mengajar pelajaran Agama, sementara kelakuanku saja masih berantakan.”

“Bukan pelajarannya yang harus diganti, Pak. Tapi kelakuanmu itu. Sudahlah, jangan malu-maluin. Malu tuh sama nama. Malu sama Nabi Isa. Beliau itu sudah cukup malu sama Allah karena sudah dituduh menyaingi-Nya.”

“Apalah arti sebuah nama, Mid. Lagi pula ada-ada saja orangtuaku memberi nama. Mentang-mentang aku lahir pada 25 Desember. Untung bukan Yesus.”
Hamid tertawa, seirama dengan bel masuk kelas. 

Memang, Isa hanya mengajar di sekolahan SD. Meskipun begitu, siswa SD tidak wajar untuk diremehkan. Di usia mereka lah, dasar-dasar kehidupan harus ditanamkan dengan matang. 
Isa memasuki ruang kelas dengan sambutan meriah dari siswa-siswanya. Ada yang nyeletuk, “Pak, dari mana saja sih. Saya kangen sama Pak Guru.”

Isa memang guru yang paling disukai oleh anak-anak, mungkin karena dia sering bercerita saat mengajar. Biasanya ia bercerita tentang Abu Nawas, kadang-kadang ia bercerita dengan karangannya sendiri.

“Baiklah, anak-anak. Siapa yang mau mendengar cerita?”
Semuanya angkat tangan. Kecuali satu anak yang duduk paling pojok. Wajahnya sangat datar, nyaris tanpa ekspresi. 

Isa berusaha tetap tenang. Ia menghela nafas sebelum bercerita. “Cerita”
hsjk

anak-anak sangat antusias mendengar cerita Isa. Sesekali mereka tertawa. Sesekali bertepuk tangan. Lagi-lagi hanya satu anak yang masih saja datar. Sejak tadi tatapannya kosong. Entah anak itu mendengar ceritanya atau tidak.
Hal ini membuat Isa penasaran dengan anak itu. Ia berniat mengintit gadis kecil itu seusai jam pelajaran habis. 

Langit mendung. Awan menggumpal. Hitam. Padat. Sekali hentakan petir, gumpalan itu pecah dan hujan turun sangat lebat. Anak-anak dijemput oleh orangtuanya masing dengan membawa payung. Hanya seorang gadis kecil itu yang masih termenung menatap lekat tiap tetesan hujan.

Isa menghampirinya, memberikannya sebuah payung merah. “Ayo, Pak Guru antar ke rumah kamu.”
“Terima kasih, Pak. sebentar lagi Tante Sari pasti menjemput,” kata gadis mungil itu datar.
“Baiklah. Pak Guru temani sampai ada yang menjemputmu.”
“Tidak usah, Pak. Terima kasih.”
Isa memandangi gadis kecil itu. Ia melihat sorot mata Rafa dalam. Meskipun baru kelas 1 SD, tapi tatapan kosongnya seperti ia sudah sangat dewasa. 

Ada satu jam mereka berdiri tanpa kata. Hujan masih sangat deras. “Biar Pak Guru antarkan kamu pulang,” Isa memulai bicara. Canggung. Seperti berhadapan dengan wanita sebayanya. “Gimana?”
Rafa mengangguk. “Tidak perlu!” Seorang perempuan berambut panjang menggelendeng tangan mungil Rafa. Mata Isa dan Sari sempat bertemu.

Melihat payung yang tak seberapa lebar, Isa menawarkan payung yang ada di tangannya. Sari menolak dengan tetap menorobos hujan yang disertai angin kencang itu.  Tentu saja, badan mereka basah sebagian.

Hamid dengan sepeda motornya, berhenti di hadapan Isa. “Kenapa bengong begitu?”
“Rafa. Siapa dia sebenarnya?”

“Dia anak baru. Baru kemarin dia masuk. Plis. Jangan gila. Dia masih kelas 1 SD.”
“Bukan, Mid. Ada yang aneh dengan gadis kecil itu.”

Persediaan dapur hampir habis. Sementara tidak ada lagi tamu yang bertandang ke rumah Sari. Berkali-kali ia memandangi kartu nama yang diberikan Arif. Perasaannya teraduk-aduk. Saya bukan pelacur. Saya bukan pelacur, gumamnya berkali-kali.

Sari menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Merenungi hidupnya. Memikirkan jalan lain. Yang lebih baik dari ini. Berharap Tuhan berbaik hati, menuntunnya pada kehidupan yang lebih baik. Ah, sama saja. Tuhan tak bisa diandalkan. Yang ada hanya memberi iminng-iming pada ketidakpastian. Surga lah. Pahala lah. Apa lah. Padahal bukan itu yang ia butuhkan.

Kartu nama itu dipandanginya lagi. Aku harus terima tawaran ini, pikirnya. Ia bangkit, duduk tegak menghadap cermin. Menyisir rambutnya yang gemulai.

Malam kelam. Masih ada sisa rintik hujan tadi siang. Halimah masuk pintu kamar Isa tanpa permisi. 
“Sa, tadi temanmu kemari. Dia nawarin katanya ada lowongan beasiswa S2 di Surabaya. Kamu mau ambil, ndak?”

“Iya, Bu,” jawab Isa sumringah, “eh ...” kalimatnya tercekat. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya hingga merasa berat untuk mengambil beasiswa itu. Rafa. Ya, gadis kecil yang membuat pikirannya selalu terhantui, “Nggak dulu deh, Bu. Saya belum pengen nerusin kuliah.”
“Iya, tapi kenapa?” tanya Halimah setengah protes tak terima.
“Saya kan baru ngajar di SD setahun. Masa tiba-tiba saya tinggalin begitu saja. Kan nggak enak sendiri.”

“Setahun itu sudah lama loh, Sa. Ini kesempatan belum tentu akan datang untuk kedua kali. Lagi pula nanti kalau kamu berhasil lulus S2, kamu kan bisa jadi dosen.”

“Ibu ini gimana sih? Katanya ngajar SD itu pekerjaan yang mulia.”
“Ya memang.”
“Lah, terus?”
“Tapi Ibu kan ndak pernah bilang kalau jadi dosen tidak mulia. Pekerjaan menjadi guru itu mulia.”
“Iya tapi saya nggak bisa sekarang, Bu. Tahun depan lah. Doain saja ada kesempatan lagi.”
“Ya sudahlah kalau itu maumu. Yang penting itu yang menurutmu terbaik.”

Isa tidak tahu pasti apa penyebab yang membuatnya selalu memikirkan gadis kecil itu. Yang jelas, sinar mata Rafa tidak pernah berlalu walau sedetik pun dari ingatan Isa. Jangan-jangan dirinya sedang jatuh cinta, pikirnya. Namun ia menepis pikiran itu. Mana mungkin dia jatuh cinta pada anak yang masih bau kencur. Tapi dalam saat yang sama, ia tak bisa memungkiri, perasaan itu benar-benar berbeda. Mirip dengan orang yang sedang jatuh cinta.

Jam dinding yang menempel di dinding kamarnya telah menunjuk pada jam dua malam. Namun matanya tetap membelalak. Tidak ada rasa kantuk sama sekali. Ketika ia berusaha memejamkan mata, yang hadir adalah bayangan Rafa. Gila. Ini benar-benar gila.

Sampai lantunan tarkhim pertanda fajar segera tiba, matanya masih saja membelalak. Tak ada yang ia kerjakan. Hanya tatapan kosong. Hingga azan Subuh berkumandang, barulah ia merasa ngantuk. Memang, azan adalah lagu paling merdu yang cocok sebagai pengantar tidur. Setelah ia melaksanakan dua rakaat Subuh, ia berhasil memejamkan mata dengan tenang.

Dalam tidurnya, ia melihat dirinya berada dalam sebuah taman. Oh, bukan taman. Lebih tepat disebut dengan hutan, yang sekelilingnya, sejauh mata memandang, yang tampak adalah pepohonan jati. Di hadapannya adalah seorang perempuan cantik yang ia terasa agak asing. Kecuali sinar matanya. Ia sangat kenal sinar mata itu. Rafa. Ya, itu Rafa. Namun pada bentuk yang berbeda. Dewasa. Seperti sepantaran dengannya. Ia perhatikan lagi. Lekat. Matanya tak bergerak sedikit pun. Begitu pula dengan perempuan di hadapannya.

“Rafa,” desisnya pelan. Sangat pelan. Mungkin perempuan yang memiliki nama itu tidak mendengar namanya disebut. Gadis itu hanya tersenyum, dengan senyuman yang sangat manis. Melebihi manisnya gula maupun madu.

Berlama-lama ia saling pandang, hingga akhirnya ia terbangunkan oleh suara cempreng ibunya. “Isa ... sudah jam berapa ini? Memangnya kamu tidak ngajar? Libur?” rentetan pertanyaan itu terus meluncur, “libur atau tidak libur, tetap saja tidur pagi itu tidak elok. Lebih baik tidak shalat Subuh daripada tidur setelah shalat Subuh.”

MURDHIATUN DAN TANAMAN SAWO


Murdhiatun duduk termenung menghadap pekarangan rumahnya. Matanya yang basah itu terus menatap pohon sawo kecik yang berdiri tegap di depan rumahnya. Ingatannya berputar ke belakang, kembali pada beberapa tahun silam.

Ia menanam pohon sawo itu bersama suaminya saat iya mengandung bayi Sari. Pohon sawo itu tidak ditanamnya dari biji, tapi dari tukang pohon keliling yang sesekali lewat depan rumah, sehingga tidak perlu menunggu bertahun-tahun lamanya untuk bisa berbuah. Setiap kali sawo itu berbuah, dengan penuh bangga dan gairah, ia selalu berkata, “Pohon sawo ini, Ibu tanam sama Bapakmu waktu kamu masih berada dalam kandungan. Setidaknya nanti kalau Ibu sama Bapakmu mati, tidak meninggalkanmu dengan tangan kosong,” senyum Murdhiatun tersemburat penuh cahaya, “pohon sawo itu bisa buat pengadem, selain karena nanti daunnya akan lebat, pohon-pohon yang ada, termasuk di antaranya adalah pohon sawo, itu senantiasa berdzikir dan bertasbih pada Allah Subhanahu wa taala. Buah sawo itu mengandung banyak vitamin, dan buanyak manfaatnya. Di antara manfaatnya adalah agar tulang seseorang kokoh. Kuat. Tahan banting.

Karena hidup ini keras, dan seseorang butuh tulang yang kuat untuk bertahan hidup. Sawo juga sering disebut-sebut imam shalat sebelum mengimami jamaah. Sawo.. sufufakum. Artinya, rapatkan barisan. Kuatkan pertahanan. Jangan sampai pecah belah.

Jangan sampai ada tali yang putus. Ibu berharap. Meskipun kalau diurut ke atas, keluarga kita tidak jelas jluntrungannya.

Nama buyut Ibu saja Ibu tidak tahu. Tapi Ibu berharap, nanti keturunan Ibu, akan terus mengenang Ibu, mengenang Bapakmu, mengenangmu, dan tidak melupakannya begitu saja seperti nenek moyang kita yang sudah-sudah. Ibu saja tidak tahu, apakah benar kita ini memang keturunan Nabi Adam atau bukan.”

Air mata Murdhiatun tumpah. Membanjiri pipinya yang mulai sedikit lemah. Mengingatnya, membuat hatinya hancur berkeping-keping. Sudah lima tahun ini, anak semata wayangnya tidak jelas rimbanya, tak pernah ada kabar sama sekali. Terakhir kali mereka bercengkerama adalah di meja makan.

Makanan malam itu adalah makanan spesial, opor ayam. Biasanya, sehari-hari yang mereka makan adalah tahu tempe yang diolah dengan beragam bentuk. Untungnya Murdhiatun pintar memasak, sehingga tidak ada satu pun dari mereka yang mengeluh bosan dengan masakan Murdhiatun. Kecuali jika ada tetangga yang hajatan seperti saat itu. Mereka bisa merasakan daging ayam.

Dengan nada sendu dan tertahan-tahan, Sari berkata, “Ibu, Bapak,” sambil bergantian menatap keduanya. Ia menghela dan menghembuskan napas berkali-kali sebelum melanjutkan kalimatnya, “besok Sari mau berangkat ke kota. Mau kerja. Kerja di kota itu dapat uangnya lebih banyak daripada di desa. Sudah cukup lama Sari merepotkan Ibu sama Bapak. Dan kini sudah saatnya Sari membalas budi Ibu dan Bapak.

Ya, meskipun sebanyak apapun yang Sari usahakan tidak mungkin bisa mencukupinya, tapi setidaknya Sari tidak lagi membebani Ibu dan Bapak. Sari sudah besar, dan sudah saatnya Sari untuk mandiri ...” Sari terdiam. Entah sedang menyusun kata-kata untuk kalimat berikutnya atau sedang menunggu respon dari keduanya, atau memang kalimatnya sudah berakhir di situ.

“Sari ...” Amrullah akhirnya angkat bicara setelah lama sama-sama terdiam. “Niat kamu memang sangat bagus dan mulia. Tapi yang penting kamu tahu, kami sama sekali tidak merasa terbebani. Sama sekali.

Dan, selama Bapak masih diberi kemampuan untuk bekerja, itu adalah tanggung jawab Bapak sebagai kepala rumah tangga. Apalagi kamu itu perempuan. Mau bilang apa Bapak nanti di hadapan Gusti Allah kalau Bapak membiarkan anak perempuannya terlantar.”
Kata terakhir pada kalimat bapaknya itu membuat Sari menelan pahit ludahnya sendiri. 

Tenggorokannya kering. Kata “terlantar” itu apapun makna yang terkandung di dalamnya atau dimaksudkan oleh bapaknya, cukup membuatnya terpukul. Tersindir. Karena saat ini ia memang sedang terlantar. Benar-benar terlantar. Tapi bukan diterlantarkan oleh kedua orangtuanya. Bukan pula terlantar dengan sendirinya.

Tapi dirinya sendiri yang menterlantarkan diri. Kedua orangtuanya telah mendidiknya dengan baik. Sungguh tidak adil jika nanti ia harus masuk neraka lalu kedua orangtuanya dimintai pertanggungjawaban karenanya.

Sari masih terdiam. Ia memeras otaknya untuk menanggapi kalimat bapaknya. Karena mau tidak mau, Sari harus segera meninggalkan rumah ini. Sebelum bangkai busuk tercium baunya. Sebelum mereka dan orang-orang di luar sana tahu bahwa dirinya telah hamil. Apa tidak hancur perasaan kedua orangtuanya yang telah mendidiknya dengan kasih sayang sejak kecil.

“Ibu tahu Sari sudah besar,” Murdhiatun ikut angkat bicara setelah beberapa saat hening, “Ibu yakin Sari pasti bisa jaga diri dengan baik. Tapi sebagai Ibu, tetap Ibu merasa berat melepasmu sendirian, ke kota lagi. Kehidupan di kota itu kejam, Nak. Di televisi itu setiap hari, berentet-rentet berita kekejaman tak ada ujungnya.”

Sari semakin merasa tercekik dengan kalimat yang baru saja didengarnya. Seperti ada cemeti yang disambarkan di lehernya, lalu cemeti itu berputar-putar menggubat lehernya, dan cemeti itu ditarik dengan kencang. Tenggorokannya kering. Perutnya mulas. Pengen muntah. 

“Sari ke kamar mandi dulu ya, Bu ...” dengan sigap Sari berlari kecil menuju kamar mandi. Sebisa mungkin ia menahan suara muntahannya, agar tidak terdengar oleh kedua orangtuanya. Ia mencoba untuk memotong-motong suaranya, supaya terdengar seperti orang yang sedang batuk, tapi memang tidak mudah menahan muntah dan suaranya. 

“Kamu sakit?” tanya Murdhiatun khawatir.
“Tidak, Bu. Mungkin Sari kebanyakan makan.”
“Tapi kamu baik-baik saja kan?”
“Sari baik-baik saja kok, Bu.”

Tidak ada kecurigaan sama sekali pada Murdhiatun maupun Amrullah, karena mereka tahu dan yakin putri yang didiknya itu tidak akan berbuat yang bukan-bukan.

Kendati demikian, Sari tidak bisa tetap berlama-lama lagi. Harus secepatnya angkat kaki dari rumah itu. Ia teringat, pernah, saat ia masih duduk di bangku Tsanawiyah, ada salah seorang temannya, waktu pelajaran berlangsung muntah tiba-tiba. Tentu saja gurunya khawatir dan hendak membawanya ke dokter, namun keengganan siswi itu justru membuat para guru khawatir. Akhirnya siswi itu dipaksa untuk diperiksa, dan, ketahuan hamil. Dikeluarkanlah ia dari sekolah secara tidak terhormat. Sari tidak membayangkan apa yang akan terjadi ketika ia ketahuan hamil di luar nikah.

“Sari besok sudah harus pergi, Bu.”
“Besok? Apa tidak bisa sebulan lagi”
Sari menggeleng.
“Seminggu lagi?” tawar Murdhiatun.
“Ndak bisa, Bu. Soalnya ini mumpung ada pekerjaan kosong.”
“Memangnya bekerja apa sih?” sahut Amrullah dari ruang makan, “terus mau berapa lama?”
Sari menelan ludah. Mempersiapkan lidahnya untuk bicara. Jangan sampai kesleo, karena akan berpotensi membongkar semua kebohongan. “Menjadi kasir di supermarket, Pak,” jawabnya lancar.
“Terus?”
“Terus apanya?”
“Terus berapa lama?”
“Oh ...” Sari memainkan jemarinya, seperti anak kecil yang belajar hitung-hitungan, “lihat saja nanti lah ...”

BROKEN HOME


“Kamu ini kan sudah cukup umur, sudah lulus S1, dan sudah punya pekerjaan tetap. Ya ... meskipun gajimu ndak seberapa. Tapi apa kamu ndak kepikiran buat membina rumah tangga?”
“Kepikiran sih iya. Tapi keinginan belum.”
“Kenapa?”
“Merasa belum ada yang cocok saja.”
“Merasa belum ada yang cocok?”

Halimah mengulan jawaban anaknya, “cinta yang kamu maksud?” matanya mendekat pada Isa. Isa tak berani menatapnya, “Rumah tangga itu tidak perlu cinta. Tapi komitmen. Penyebab rusaknya hubungan ibu sama ayahmu yo karena cinta itu. Dulu Ibu sangat mendewa-dewakan namanya cinta, dan Ibu pikir cinta lah yang akan membuat seseorang bahagia.

Ternyata tidak. Karena cinta itu tidak akan selamanya bersemayam di hati manusia. Ayahmu dulu itu ada ribuan bahkan jutaan kali bilang kalau dia cinta sama Ibu. Tapi, setelah cintanya habis, dia berpaling kepada cintanya yang baru. Ibu berharap kamu tidak seperti Ayahmu. Kamu harus punya komitmen, cinta atau tidak, keharmonisan harus selalu terjalin.”

Isa tampak seperti ingin berkata, tapi ia tahan, ia urungkan, takut, nantinya perkataannya akan menyinggung perasaan Ibunya.

“Ibu sudah gagal. Dan Ibu ndak mau kamu ikut-ikutan gagal. Kalau kamu memang belum siap untuk nikah, ya ndak apa-apa. Yang penting, jangan sampai kamu mainin anaknya orang. Cinta itu dipilih dan bukan memilih. Kamu bebas mencintai siapa saja, berapa saja, kapan saja.

Tapi  harus hanya satu yang kamu pertahankan cintanya, baik di saat cinta maupun tidak cinta. Dan jika kamu sudah menemukannya, ambillah. Nikahilah. Ibu memang pengen banget nimang-nimang cucu, tapi Ibu tidak mau jika cucu itu lahir dari rahim yang tidak halal jalannya.”

Isa tersedak. Kalimat itu benar-benar mengena. Seperti sebuah tendangan pinalti yang masuk gawang tanpa ada kiper yang menjaganya.

Berangsur tapi pasti, kegelapan memudar oleh pagi. Namun tidak maksimal.  Musim di Indonesia memang seringkali tidak jelas. Kemarau dalam. Hujan dalam kemarau. Harusnya bulan April adalah musim kemarau. 

Pagi merambat ke siang, tapi langit semakin gelap.Tidak deras, tapi tetesan hujan dari langit cukup membuat jalanan basah. Hari ini Isa tidak ada jam mengajar di kelas satu, tapi ia berusaha mencari cela untuk bisa masuk di kelas satu. Kebetulan ada salah satu guru yang izin.

Isa pun masuk ke kelas satu. Hatinya begitu gembira ketika ia melihat Rafa. Persis seorang lelaki yang telah jatuh cinta. Lagi-lagi ia menepis pikiran itu. Tidak mungkin ia mencintai anak bayi.

Bel pulang telah berdentang. Gerimis masih konsisten dalam jumlahnya. Para siswa telah pulang dijemput orangtuanya. Beberapa siswa laki-laki lebih memilih pulang tanpa payung. Hujan-hujanan. Kata mereka mumpung besok seragamnya sudah tidak dipakai lagi. Isa tersenyum melihatnya. Teringat masa kecilnya. Ia sangat suka dengan hujan-hujanan.

Rafa. Sendiri. Mematung melihat gerimis yang tak kunjung reda. Isa mendekatinya. “Ibu kamu kok belum jemput?”

Rafa diam tak menjawab. Mungkin dia tidak mendengar. “Ibu kamu kok belum jemput?” Isa mengulangi pertanyaannya dengan nada yang lebih tinggi.
“Tante sari maksudnya?” 
Isa tidak mendengar dengan jelas. Tapi ia mendengar. “Ya, Tante Sari.”
“Mulai hari ini dan seterusnya, Tante Sari sudah tidak jemput saya.”
“Pak Guru antar pulang ya?”
“Nggak usah, Pak Guru. Saya bisa pulang sendiri. Nunggu hujan reda.”
“Hujan ini akan lama, Rafa. Lihat! Langitnya gelap sekali.”

“Tapi Tante Sari tidak ngebolehin aku berteman dengan siapapun. Nanti kalau Tante Sari tahu pasti marah.”

Isa tersenyum mendengarnya. Lucu juga anak ini, pikirnya. Lebih lucu lagi tantenya, di mana-mana yang tidak boleh itu berteman dengan sembarangan, atau berteman dengan anak yang nakal. Bukan berteman dengan siapapun.

“Tapi saya ini kan gurumu. Bukan temanmu.”

Rafa terdiam.

“Pak Guru antar ya?”

Rafa mengangguk.

“Tunggu sebentar. Pak Guru ambilkan payung dulu.”

Rumah yang terletak di tepi hutan itu membuat Isa tercengang. Setelah tahu yang tinggal di situ hanya seorang perempuan dewasa dan anak yang masih sangat kecil.

“Kamu tidak takut tinggal di rumah begini?” tanya Isa.

Rafa menggeleng. Tiba-tiba seekor kucing hitam jatuh dari atas, tepat di pangkuan Isa. Ia terlonjak bukan kepalang. Melihat itu Rafa tertawa terpingkal-pingkal. 

“Bojel ... Kamu jangan nakal. Itu Pak Guruku.” Rafa mengambil kucing itu dari pangkuan Isa.

Raf masih tertawa. Ada kebahagiaan yang mengalir di darah Isa. Semenjak pertama bertemu dengan Rafa, baru kali ini ia melihat Rafa tertawa lepas seperti itu.

“Pak Guru mau minum apa?” tanya Rafa kemudian.

Isa tercengang. Anak sekecil itu sudah pintar sekali.

“Tidak usah repot-repot.”

“Rafa sudah biasa kok bikinin minuman buat para tamu yang sering datang kemari.”
“Oh ya? Kamu pintar sekali.”

“Saya bikinin teh manis saja ya?”

“Boleh.”

Teh manis tinggal gelasnya. Siang hari tinggal sisanya. Warna jingga telah menghiasi langit bagian barat. Sari belum pulang-pulang juga. Keterlaluan benar dia, gumam Isa. Anak sekecil ini ditinggalin sendirian di hutan dan rumah yang angker ini.

Maghrib. Isyak. Gelap. Sari belum pulang-pulang juga. Isa semakin gusar. “Memangnya biasanya Tante Sari pulang jam berapa?”

“Biasanya Tante Sari di rumah terus. Tapi kate Tante, sekarang mau kerja, jadi Rafa harus berangkat dan pulang sekolah sendiri, karena Tante akan pulang agak maleman.”

“Memangnya kerja Tante Sari apa?”

“Siapa kamu?” Tiba-tiba seseorang menyambar dari balik mulut pintu yang tak ditutup.
“Saya ...”

Belum selesai Isa ngomong, Sari sudah menyambar lagi, “Saya sudah tidak menerima tamu lagi.”

“Saya ...”

“Silakan tinggalkan tempat ini!”

Rafa berdiri. “Itu guru Rafa, Tante. Tadi Pak Guru yang ngantar aku pulang dan meminjami payung.”
Isa seperti terbungkam. Mirip seekor ayam yang terkena gangguan pada pita suaranya. 
“Oh ... kamu gurunya Rafa. Kebetulan dong.”

Kebetulan? Kalimat kebetulan itu membuat Isa semakin menyimpan tanda tanya besar.
Sari duduk di atas kursi. Mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam tasnya, dan membakarnya satu batang. “Ngerokok?” tawarnya sambil menyodorkan sebungkus rokok yang tinggal setengah.

“Ya, saya bawa sendiri.” Isa merogoh sakunya, dan mengambil sebatang rokok. “Kemarin kita sempat ketemu kok.”
“Ya, saya ingat.”
Suasana hening. Asap rokok mengebul dari mulut keduanya.
“Kamu ...” kata mereka bersamaan.
“Silakan duluan!” Isa mempersilakan.
“Kamu sudah berkeluarga?”
“Belum.”
“Di rumah tinggal sama siapa?”
“Sama Ibu saya.”
“Kamu bukan bajingan, kan?”
Pertanyaan itu seperti peluru yang menembus jantung Isa. Tapi Isa mencoba tetap tenang. Ia menghisap lagi rokoknya.
“Dari matamu sih, sepertinya kamu orang baik-baik. Tapi aku tidak percaya dengan mata,” lanjutnya, yang semakin membuat Isa tak mengerti, “tapi aku percaya sama kamu.”
“Maaf, Mbak ...”
“Namaku Sari.”
“Maaf, Sari. Dari tadi aku sama sekali tidak paham dengan apa yang kamu katakan.”
“Untuk sementara, saya mau pergi. Saya nitip Rafa.”
“Maksudnya?”
“Kamu itu guru tapi o’on ya ... Saya nitip Rafa. Ajak dia tinggal di rumah kamu. Saya tidak mungkin biarin dia tinggal sendirian di sini. Karena saya mau bekerja di tempat yang agak jauh.”
“Memangnya kamu kerja apa?”
“Saya tidak suka dengan orang yang banyak tanya. Tinggal jawab. Mau atau tidak.”
“Baiklah.”
“Rafa, kamu ikut sama dia.”
“Rafa boleh bawa Bojel, kan?”
“Bojel siapa?”
“Kucing hitam itu dinamainya Bojel.”

Sebenarnya Isa cukup phobia dengan kucing hitam. Tapi tak apalah. Mungkin jika sering melihat, akan menjadi terbiasa.

“Ini ada sedikit uang untuk kebutuhan Rafa. Kalau kurang, saya bayar nanti sepulang kerja.”
Isa menolaknya, tapi Sari tetap memaksa agar ia menerimanya. 

“Bagaimana kalau malam ini kita makan malam dulu di luar?” Isa menawarkan.

“Aku capek. Dan harus bersiap-siap. Besok pagi aku harus sudah berangkat.

Akhirnya Rafa malam itu juga, ikut pulang ke rumah Isa. Meskipun dengan berat hati. Sementara Isa tidak menentu, antara senang dan bingung. Senang karena putri kecil yang selalu bertengger di dalam kepalanya akhirnya akan tinggal bersama. Bingung karena masih bertanya-tanya. Aneh. 

Halimah tentu saja kaget ketika anaknya tiba-tiba membawa anak kecil pulang. Yang lebih membuatnya terperangah adalah dengan ikut sertanya kucing hitam itu.
“Bukannya kamu takut sama kucing hitam?” tanya Halimah keheranan.
“Sudah nggak lagi kok, Bu,” jawabnya setengah jujur. Sebenarnya ia sangat takut dengan kucing hitam. Tapi ia paksa untuk berani, karena tidak tahu akan sampai kapan ia terus bersama kucing hitam itu.

Rumah itu terdiri dari tiga kamar. Satu kamar ditempati Halimah. Satu kamar ditempati Isa. Sementara kamar satunya adalah gudang. Isa mempersilakan Rafa untuk tidak di kamarnya. Sementara ia tidur di ruang tamu beralaskan karpet. 

0 Response to "Cakrawala Terbuka, Cerpen Santri"

Post a Comment

Berkomentarlah yang bijak dan sesuai dengan isi konten. Komentar dengan Link hidup/mati tidak akan disetujui.

(✔). Boleh berkomentar menggunakan bahasa jawa

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel