Hati-Hati dengan Perkataan, Perbuatan, dan Hati

Hati-Hati dengan Perkataan, Perbuatan, dan Hati


Hati adalah kendali. Demikianlah sabda Rasulullah saw. Jika hati seseorang baik, maka baiklah seluruh jasadnya. Itu sebabnya, dalam masyarakat kita, jika seseorang hendak bepergian, atau hendak melakukan sesuatu yang cukup berbahaya, dikatakan kepadanya: hati-hati. Dalam arti, kendalikanlah dirimu, atau waspadalah.

Dalam bahasa agama, sikap hati-hati ini dinamai dengan wara‟. Yaitu menjauhi segala sesuatu yang syubhat.

Syubhat adalah sesuatu yang tidak jelas betul apakah ia halal atau haram.  Wara‟ bukanlah menjauhi sesuatu yang diharamkan. Karena meninggalkan keharaman memang sebuah kewajiban. Sementara wara‟ adalah perilaku istimewa bagi hamba yang bersedia melampainya.

Dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Sa‟ad bin Abu Waqqash menceritakan, Rasulullah saw. bersabda, “Keutamaan ilmu lebih saya sukai daripada keutamaan ibadah.

Dan cara beragama yang paling baik bagi kalian adalah wara‟.” Dalam Hadis lain, yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah menyatakan, Rasulullah saw. bersabda, “Termasuk di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” Memang, menghindari perkara yang syubhat bukanlah sebuah kewajiban.

Namun, jika seseorang terlalu sering melakukan sesuatu yang syubhat, maka dirinya akan berpotensi terjerumus pada keharaman, juga berpotensi pada kegelapan hati. Maka, menjaga diri dengan berwara‟ berarti menjaga agama dan kehormatannya. Rasulullah saw. bersabda, “Yang halal sudah jelas. Yang haram sudah jelas.

Di antara itu ada perkara-perkara yang syubhat. Siapa yang menghindari perkara-perkara syubhat, dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Siapa yang terjerumus dalam perkara-perkara syubhat, dia akan berpotensi terjerumus dalam perkara-perkara yang haram. Sebagaimana ada penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah terlarang yang hampir menjerumuskannya.

Ketahuilah, setiap raja memiliki tanahtanah terlarang. Dan tanah-tanah terlarang Allah adalah perkara yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam setiap diri manusia terdapat segumpal daging, yang jika 

segumpal daging itu baik, maka baiklah semua dirinya. Jika segumpal daging itu buruk, maka buruklah semua dirinya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” Suatu hari, Rasulullah saw. pernah berwasiat kepada Abu Hurairah. “Wahai Abu Hurairah, jadilah orang yang wara‟, maka kau akan menjadi manusia yang paling menghamba pada Tuhannya.

Jadilah orang yang menerima apa yang telah diberikan Allah, maka kau akan menjadi manusia yang paling bersyukur. Cintailah orang lain seperti kau mencintai dirimu sendiri, maka kau akan menjadi mukmin sejati. Berbuat baiklah pada tetangga-tetanggamu, maka kau akan menjadi muslim sejati. Dan, kurangilah tertawa, sebab terlalu banyak tertawa mampu mematikan hati.”

Dalam Al-Qur'an Allah Berfirman:
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

Dan pakaianmu, bersihkanlah!” (Q.S. Al-Muddatsir: 4)

Dan pakaianmu, yakni seluruh aktivitasmu, tutur katamu, dan krentek hatimu, bersihkanlah, hati-hatilah, hindarkanlah dari sesuatu yang tidak jelas halal haramnya. Dalam Raf‟ al-Malām „ An al-Shūfiyat al-A‟lām, Syekh Rabi‟ Jauhari membagi wara‟ dalam tiga bagian. Wara‟ dalam perkataan, wara‟ dalam perbuatan, dan wara‟ dalam hati

Wara’ dalam perkataan. 


Wara‟ dalam perkataaan bukanlah menghindari menggunjing, mengadu domba, memfitnah, menyelatu, mengolok-olok, dan lain-lain yang memang telah diharamkan oleh agama. Wara‟ dalam perkataan adalah menghindari perkataan yang tidak banyak manfaatnya, yang hanya menyita banyak waktu.

Seperti ketika Sayyidah Fatimah menginginkan seorang pembantu, Rasulullah saw. justru berkata, “Bukankah sudah kuberitahukan yang lebih baik dari itu?” Yaitu berzikir. Bukanlah sesuatu yang buruk menyuruh pembantu untuk membuatkannya kopi, menyuruh pembantu untuk memasak nasi, menyuruh pembantu mencuci. Tapi perkataan seumpama “buatkan kopi”, “masaklah nasi”, “cucikan pakaian”, dan lain sebagainya itu mengurangi begitu banyak waktu yang seharusnya dalam waktu-waktu itu bisa digunakan untuk berzikir.

Sementara ulama sangat menghindari humor saat berceramah, kendati humor tidaklah dilarang. Karena menyajikan humor hanya akan menyita banyak waktu yang seharusnya dapat diisi dengan nasihat dan ilmu. Kecuali humor itu hanya sebagai selingan atau pencair suasana.

Maka yang semacam ini, bukan yang humor sebagai prioritas utama, tidaklah termasuk sesuatu yang sia-sia. Memuji orang tidaklah terlarang. Tapi, memuji orang memiliki potensi menjadikan yang dipuji itu besar kepala atau membanggakan dirinya. Ini juga termasuk bagian dari wara‟ perkataan. Syekh Ma‟ruf al-Kurkhi berpesan, “Peliharalah lisanmu dari memuji orang sebagaimana kau menghindari dari mencelanya.” 

Wara’ dalam perbuatan. 


Wara‟ dalam perbuatan bukanlah melakukan kemaksiatan-kemaksiatan seperti membunuh, berzina, berjudi, mabuk-mabukan, dan lain sebagainya yang telah jelas-jelas dilarang. Wara‟ dalam perbuatan adalah meninggalkan perbuatan-perbuatan yang masih belum jelas hukumnya. Antara lain adalah meninggalkan makanan yang mengandung syubhat.

Shafyan Tsauri berkata, “Saat hanya makan yang benar-benar jelas kehalalannya, aku membaca satu ayat Alquran, terbukalah padaku tujuh puluh pintu ilmu. Saat aku makan dari yang tidak wara‟, aku membaca ayat berkali-kali, tidaklah satu ilmu pun terbuka padaku.” Termasuk upaya wara‟ adalah tidak menerima apalagi memohon proposal dari pemerintah. Itulah yang oleh para pendahulu sering terapkan dalam pembangunan sekolah, madrasah, apalagi pesantren.

Wara’ dalam hati. 


Banyak yang menduga bahwa perbuatan hati tidaklah dapat dihukumi selama tidak diwujudkan dalam perbuatan. Pendapat ini tidak sepenuhnya salah. Karena memang ada beberapa hal yang ketika masih terbesit dalam hati, tidaklah dihukumi berdosa.

Seperti ketika seseorang memiliki rencana untuk mencuri. Rencana mencuri ini tidaklah dihukumi dosa, sampai ia benar-benar melakukannya. Bahkan, sebuah riwayat mengatakan, jika ia telah merencanakan perbuatan buruk lantas membatalkannya, maka baginya satu kebaikan.

Tapi, ada begitu banyak hal yang merupakan perbuatan hati yang diharamkan. Seperti beribadah karena orang lain, merasa dirinya baik, sombong, meragukan kebenaran Alquran, dan yang paling fatal adalah menyekutukan Tuhan. Semuanya itu merupakan perbuatan hati.

Tidaklah seseorang dilarang bersedekah di hadapan banyak orang selama hatinya tidak riya‟. Tidaklah seseorang dilarang untuk terus menerus beribadah selama ia tidak ujub. Tidaklah seseorang dilarang memakai pakaian yang bagus selama ia tidak sombong.

Bahkan seseorang yang bersujud menghadap kuburan tidaklah diharamkan selama hatinya tidak menyekutukan Tuhan. Sebaliknya, ulama Tasawuf bahkan mengecam orang-orang yang meninggalkan kebaikan lantaran takut riya‟, ujub, dan sombong. Padahal, yang demikian itu adalah kesejatian riya‟, ujub, dan sombong.

Tidak perlu seseorang menyembah berhala dulu untuk dikatakan syirik. Dalam sujud sembahyang, jika hatinya memercayai ada tuhan lain selain Allah, maka ketika itu dia telah menyekutukan Tuhannya.

Semua perbuatan hati tersebut bukanlah bagian dari wara‟ hati. Karena, agama memang telah melarangnya, sebagaimana yang telah kita sebut berulang kali.  Yahya bin Mu‟adz menuturkan, Wara‟ hati ada dua macam. Wara‟ zahir dan wara‟ batin. Wara‟ zahir adalah tidak melakukan aktivitas apapun yang memiliki tujuan selain Allah. Sementara wara‟ batin adalah tidak membiarkan apapun masuk ke dalam hatinya selain Allah.

Hati adalah kendali. Hati-hati adalah keselamatan diri. Sangat berat melaksanakannya. Karena itu, tidaklah menakjubkan jika Hasan al-Bashri mengatakan, “Wara‟ yang dilakukan dengan ikhlas dan tanpa disertai kesombongan, walau hanya seberat partikel, masih lebih baik daripada seribu berat salat dan puasa.

Penulis: Muhamad Nuchid

0 Response to "Hati-Hati dengan Perkataan, Perbuatan, dan Hati "

Post a Comment

Berkomentarlah yang bijak dan sesuai dengan isi konten. Komentar dengan Link hidup/mati tidak akan disetujui.

(✔). Boleh berkomentar menggunakan bahasa jawa

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel