Pendakwah yang Menjadi Terdakwah

Pendakwah

"JIKA kau diputuskan bersalah oleh pengadilan, aku akan menemanimu ke penjara. Menemanimu di sana." 

"Tidak perlu, Kang." Kasmudi berpaling menjauh. Saya mengejarnya. 

"Kau akan kesepian di sana, Kas."

"Sampean pikir saya satu-satunya orang jahat?"

Saya ikut.

Di pengadilan, Kasmudi bahkan tidak menjelaskan apa pun. Ia juga tidak mengundang pengacara. Terpaksa, saya yang menduduki kursi pembela. Saya tidak tahu tentang apa 

pun. Saya hanya tahu bahwa Kasmudi tidak mungkin melakukan apa yang dituduhkan padanya itu. 
Di kursi panas terdakwah, Kasmudi malah duduk dengan santai dan tenang sekali, seperti duduk di warung kopi walau sebelah kakinya tidak metangkring.

Saat pelapor dan saksi memberi laporan dan saksi, oleh Kasmudi cuma dianggap sebagai orang yang sedang ndongeng. Kasmudi mendengar menikmati.

Kasmudi tidak berbicara apa-apa. Tidak menyiapkan apaapa. Tidak menjawab pertanyaan dari hakim sama sekali. Dia menyerahkan semuanya pada saya.

Ketika pembela dipersilakan bicara, saya berdiri. Dengan nada tegas, saya berkata, "Saya kenal betul siapa Kiai Kasmudi. Saya berteman cukup lama dengan beliau. Tidak mungkin beliau melakukan hal sekeji itu."

"Pembelaan macam apa itu?" 

Para hadirin riuh.

Saya menggebrak meja dan berteriak, "Kas! Ibumu menangis di rumah. Belalah dirimu yang tidak bersalah!"

Hadirin semakin menggemuruh, hingga pimpinan sidang menenangkannya. 
"Baiklah. Begini ceritanya ...."

Saya bahkan tidak tahu akan ngomong apa. Mengarang cerita, saya belum menyiapkannya. Tetapi, dalam saat yang sama, saya seperti tahu semua.  

Saya lalu bercerita.  
Seperti yang kita ketahui, di daerah tempat Kiai tinggal, orang-orang menganggap profesi kiai bukan saja orang yang mengerti persoalan agama.

Tetapi kiai dianggap sebagai manusia yang mampu segala. Saat seseorang sakit, ia bukan mendatangi dokter tetapi malah mendatangi kiai. Saat seseorang sedang tertimpa musibah kecurian atau kerampokan, bukan lapor polisi tetapi malah lapor kiai.

Saat seseorang menginginkan jabatan, ia mendatangi kiai. Saat seseorang menginginkan bertemu dengan jodohnya, ia mendatangi kiai. Dan segala tetek bengek persoalan hidup, selalu ditimpakan pada kiai.

Kiai Kasmudi sesungguhnya tidak menginginkan orangorang mendatangi beliau selain untuk berkonsultasi soal agama. Beliau pun membatasi penerimaan tamu.

Hingga malam itu tiba, saat Kiai Kasmudi usai ceramah, seorang perempuan sudah menunggu di rumah beliau sambil menangis. Kasmudi enggan menerimanya. Tetapi perempuan itu terus meronta dan menangis, dan Kasmudi tidak pernah kuasa melihat air mata wanita.

Perempuan itu mengaduh tentang kondisi rumah tangganya. Suaminya dan keluarga suaminya selalu melempar tuduhan mandul pada perempuan itu. Padahal, belum jelas apakah yang mandul dia atau suaminya.

Kiai juga menawarkan sejumlah uang jika barangkali mereka tidak punya biaya periksa. Namun, perempuan itu tetap mendesak, minta wirid. Ia benar-benar tidak mau periksa.

Kalau sampai terbukti nyata ia mandul, ia khawatir akan dicampakkan oleh suaminya. Sementara, perempuan itu terlalu cinta pada suaminya.  

Kiai Kasmudi lalu mengijazahi sebuah wirid, salah satu ayat dari Alquran. Setiap malam, Kiai juga mendoakan agar hajat perempuan itu dikabulkan. Hingga suatu ketika, perempuan itu didengar doanya. Dia hamil.

"Apakah cerita itu benar-benar nyata atau Anda buat-buat sendiri?" Hakim bertanya.

"Saya yakin benar."

"Apa yang Anda maksud dengan 'yakin'?"

"Saya memang tidak menyaksikannya secara langsung. Tetapi saya tahu tentang itu."

"Lalu, bagaimana dengan suami korban yang mengaku ternyata dia mandul setelah diperiksa? Ada surat-suratnya."

"Dokter yang menulis surat mestinya diundang juga. Dibayar berapa dia sampai bersedia bohong? Atau, kita kawal suaminya itu untuk periksa lagi."

"Kalau hasilnya benar-benar mandul?"

"Saya yakin ada ketidakberesan dengan pemeriksaannya. Atau, ketika diperiksa, si suami mendadak mandul saat itu juga.

"Pembelaan Anda terlalu dipaksakan," kata hakim sidang sambil mengulum senyum menjengkelkan. "Lalu, bagaimana dengan korban yang telah mengaku bahwa Saudara Kasmudi telah melakukannya?"

"Tidak mungkin." 

"Dia sendiri yang ngomong."

"Pasti dia dipaksa atau dibayar. Atau perempuan itu memang menyimpan dendam pada Kiai. Kalau bukan keduanya, berarti dia adalah iblis yang tidak tahu terima kasih." 

"Baiklah. Kita akhiri persidangan hari ini. Besok akan kami umumkan hasilnya."  
Hakim sidang memukulkan palu mengakhiri persidangan.

0 Response to "Pendakwah yang Menjadi Terdakwah"

Post a Comment

Tinggalkan Komentar Anda

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel