Perihal Manut Kiai ( Cerita Santri )

Perihal Manut Kiai ( Cerita Santri )

Kasmudi adalah santri minggatan Pesantren as-Salik Surabaya, pesantren yang berlatar belakang hikmah. Keminggatannya didasarkan pada kejanggalan sikap kiainya berikut gus-gusnya.

Saat kiainya mengajar santri-santri putri, jika ada di antara mereka yang melakukan kesalahan, beliau menghukum dengan mencubit payudaranya.

Sementara gus-gusnya, Kasmudi pernah menjumpai mereka merokok sambil nonton bokep di siang hari bulan Ramadan.

Setelah menyeruput kopi, yang lebih wajar disebut menenggaknya, lalu ia mencomot rokok saya tanpa permisi. Benar-benar watak santri.

“Kita sudahi pembahasan tentang selangkangan,” katanya.

“Saya ingin bertanya sesuatu yang lain.”

“Jujur, aku tidak pernah suka ditanya-tanya tentang diriku. Tetapi kalau kamu yang bertanya, hanya kamu, mungkin aku akan menjawabnya.”

“Nggak usah Ge-Er, Kang. Saya tidak sedang ingin bertanya apa pun tentang sampean. Saya hanya ingin bertanya, bagaimana menurut sampean, jika kiai saya menyuruh begini, apakah saya boleh begitu? Jika kiai saya begitu, apakah saya boleh begini?”

“Ini sesungguhnya bukanlah perkara hitam putih,” jawab saya mantap.

“Ada begitu banyak warna dalam jawaban dari pertanyaanmu itu. Tetapi ini menurutku, ya? Karena kamu bertanyanya menurutku, bukan menurut agama. Meskipun begitu, jawabanku tetap berdasar agama, hanya saja, dari sudut pandangku. Kamu boleh menerimanya, juga boleh menyetujuinya. Terserah.”

Kemudian saya suguhkan jawaban.

“Pertama. Dalam hal kewajiban, apa yang diperintahkan oleh guru harus dilaksanakan. Antara lain perintah yang berkaitan dengan syariat: salat fardu, puasa Ramadan, zakat, dan lain sebagainya.

Atau dalam dunia pendidikan. Jika guru memerintahkan mengerjakan PR, maka wajib bagi murid untuk menunaikannya.

Jika Kiai memerintahkan hafalan Alquran, hafalan Hadis, hafalan nazam-nazam, matan-matan, dan lain sebagainya, maka itu wajib ditaati.

“Kedua. Jika berhubungan dengan sesuatu yang mubah, kita bisa memilih. Misalnya kiaimu suka Madrid, kamu juga boleh suka Madrid. Tetapi tidak wajib. Kamu juga boleh njago Celsi, EmYu, Liferpul, ataupun Persela.

Tetapi biasanya, dalam kategori kedua ini, secara otomatis seorang santri akan tertular dengan kiainya. Seperti cara duduknya. Cara dehemnya. Bagaimana memejamkan mata. Intonasi suaranya. Berjalannya. Lagu sewaktu maknani kitabnya. Yang semacam ini terserah santri mau niru kiainya atau tidak.

“Ketiga. Jika berhubungan dengan apa yang dilarang oleh agama, atau buruk dalam sudut pandang budaya, maka harus ditolak.

Misalnya, seorang santri putri yang diajak jimak (baca: ngencuk) oleh kiainya tanpa dinikahi terlebih dahulu, maka santri yang bersangkutan wajib menolaknya.”

“Bagaimana jika diiming-imingi ilmu yang berkah?” sela Kasmudi.

“Ya tinggalkan saja. Bahkan ketika ia mengutukmu sebagai ilmumu tidak akan bermanfaat, tinggalkan saja.

Guru yang sering mendoakan tidak bermanfaatnya ilmu, hindari saja. Tidak ada keberkahan dalam dirinya.”

“Bagaimana jika guru saya itu wali?”

“Sewali-walinya, kamu tidak akan tahu kewalian seseorang kecuali kamu juga wali. Atau kecuali Allah memberitahumu bahwa dia itu wali sebagaimana Musa diberitahu bahwa Khidir itu wali.

Namun demikian, sekalipun yang bersangkutan adalah wali, hukum syariat tetap harus diberlakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Itu sebabnya, al-Hallaj, walau dalam sudut pandang hakikat dia benar, tetapi dalam syariat tetap harus dihukum.

Demikian pula yang terjadi pada Maulana Siti Jenar di tanah Jawa.

“Apalagi yang kewaliannya nggak jelas. Ukuran kewalian itu tidak bisa dihitung dari jumlah pengikutnya atau berapa banyak ia mempengaruhi manusia.

Andaipun kewaliannya jelas, kalau ketahuan makar, atau menghina pancasila, atau menista agama sebelah, atau menghina kepala negara, atau menghina ibu dari kepala negara, atau berbuat mesum, harus tetap melalui proses hukum.

Dipanggil, datangi. Bukan dengan cara kabur, apalagi menyamakan kekaburannya dengan hijrahnya Rasulullah.

“Poin yang ketiga ini yang harus paling digarisbawahi. Karena banyak yang kemudian kecelik. Bahkan jika seorang kiai sangat ngalim dalam bidang agama, jangan kemudian mengamini setiap fatwanya terkait apa yang tidak diketahui. 

“Jangankan kiai, Rasulullah pun, tidak harus kamu ikuti setiap lelampahannya. Jika Rasulullah pipis dengan jongkok, kamu jangan ikut jongkok di tempat pipis berdiri karena alasan meniru Rasulullah. Jika Rasulullah buang air besar dengan jongkok, kamu jangan kemudian jongkok di WC duduk karena alasan meniru Rasulullah. Rasulullah berbuka puasa pakai kurma. Kalau kamu adanya ote-ote, kolek, kopi karo udud, ya nikmati saja yang ada.”

M Nuchid

0 Response to "Perihal Manut Kiai ( Cerita Santri )"

Post a Comment

Berkomentarlah yang bijak dan sesuai dengan isi konten. Komentar dengan Link hidup/mati tidak akan disetujui.

(✔). Boleh berkomentar menggunakan bahasa jawa

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel