Tentang Berserah Diri (Tawakal)

Tawakal

Berserah diri, atau dalam istilah agama disebut-sebut dengan Tawakal, adalah pasrah diri pada kehendak Allah; percaya dengan sepenuh hati kepada Allah swt. (dalam penderitaan dan sebagainya).

Abu Abdillah al-Qursyi pernah ditanya tentang arti Tawakal. Beliau menjawab, “Tawakal adalah bergantung pada Allah di setiap keadaan.”

“Tambahkan lagi,” kata yang bertanya. Abu Abdillah al-Qursyi menambahkan, “Meninggalkan segala sebab yang mengantar pada sebab lain, hingga Allah adalah satu-satunya wali untuk itu.”

Abu Said al-Kharraz berkata, “Tawakkal adalah bergerak tanpa diam, dan diam tanpa bergerak.” Yakni tanpa bergantung pada yang lain.

Ibnu Masruq berkata, “Tawakkal adalah pasrah dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan.” Utsman al-Hairi berkata, “Tawakkal adalah merasa cukup dengan Allah, dan bergantung hanya kepada-Nya.” Dalam beberapa ayat, antara lain Allah berfirman:

159.فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

… Kemudian apabila engkau membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang bertawakal (kepada-Nya).” (Q.S. Ali „Imrān: 159) 


3. وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“… Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Dia mencukupi (segala keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah akan mencapai urusan (yang dikehendaki)Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan, bagi setiap sesuatu, ketentuan.” (Q.S. AlThalāq: 3)

Rasulullah saw. bersabda, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, maka Allah akan memberi kalian rezeki seperti Dia memberi rezeki pada burung, pergi dalam keadaan lapar, dan pulang dalam keadaan kenyang.”

Tanda-tanda orang yang bertawakal ada tiga. Tidak meminta, tidak menolak, dan tidak menahan.

Ia tidak meminta. Karena ia telah memasrahkan sepenuhnya kepada Allah. Orang yang tawakal tidak pernah risau dengan apa yang nanti akan terjadi.

Ia percaya bahwa segala kebutuhannya telah dipersiapkan Allah. Namun, ia tidak menolak jika ada yang memberinya.

Ia percaya bahwa pemberian orang adalah antara lain dari perantara Allah memberi rezeki padanya. Ia tidak menahan.

Ia percaya bahwa Allahlah sebaik-baik wakil baginya. Sehingga, ia tidak segan-segan memberikan apapun yang bisa diberikan kepada orang yang membutuhkan atau memerlukan apa yang ia miliki.

6.  وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi, melainkan atas Allah-lah rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiamnya dan tempat penyimpanannya. Semuanya (tertulis) di dalam kitab yang nyata (Lauh al-Mahfuz).” (QS. Hud : 6)

Ada yang memahami ayat ini dengan menyatakan bahwa untuk mendapatkan rezeki yang disediakan Allah, seseorang harus bergerak, yakni bekerja, sebagaimana yang dipahami dari lafadz Dābbah. 

Bunyi tanwin pada lafaz Dābbat(in) dalam ayat tersebut mengisyaratkan bahwa semakin giat seseorang bekerja, semakin banyak yang akan diraihnya.

Pendapat tersebut sangat benar, karena sesuai dengan kaidah hukum alam. Dan, ketika seorang sahabat bertanya pada Rasulullah saw. terkait untanya, “Apakah saya biarkan saja, lalu saya bertawakal?”  Rasulullah menjawab, “Ikatlah dulu, baru bertawakal.”  Ini memberi isyarat bahwa tawakal adalah pasrah setelah mengerjakan sesuatu secara maksimal.

Hanya saja, banyak sekali dalam hidup ini, khususnya persoalan rezeki, yang keluar dari hukum alam. Maka tidak salah pula pendapat yang mengatakan bahwa Allah telah menyediakan rezeki dan memberikannya kepada siapa saja yang bernyawa, bekerja maupun tidak.

Jika pun ada beberapa orang yang mati kelaparan, itu memang sudah habis jatah usianya. Bukankah banyak juga orang yang mati karena terlalu banyak makan? Dan ini jumlahnya lebih banyak.

Dikisahkan, pada suatu pagi, Ibrahim bin Adham hendak bersarapan roti. Roti yang sudah ada di hadapannya itu tiba-tiba diambil oleh seekor burung. Ibrahim mengikuti ke mana arah burung itu pergi. Burung itu masuk ke dalam hutan.  Dan Ibrahim benar-benar terkejut ketika ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, ternyata roti yang digondol burung itu, disuapkan pada seorang pria telanjang yang diikat pada sebuah pohon.  Pria yang malang itu bercerita bahwa dia dulunya adalah seorang hartawan, kemudian dirampok dan diikat di tengah-tengah hutan. Namun, setiap hari selalu ada burung yang menyuapinya makanan dan minuman untuk dia bertahan hidup.  Suatu hari, Ibrahim bin Adham bertanya kepada seorang pendeta, “Dari mana kau mendapatkan makanan?” Pendeta itu menjawab, “Jangan bertanya pada saya. Saya tidak tahu apa-apa. Tapi bertanyalah pada Tuhanku, dari mana Dia dapat memberiku makanan.” 

Kisah lain mengungkapkan, az-Zahid, seorang penempuh jalan menuju Allah, ingin mengetahui sendiri bagaimana Allah memberi rezeki pada makhluk-Nya. Ia bersembunyi di dalam gua yang terletak di tengah-tengah gurun sahara.

Kelaparan telah melandanya, namun ia tetap bertahan untuk memperoleh jawaban dari yang ia penasarankan.

Kemudian datanglah rombongan musafir yang beristirahat di dalam gua tersebut. Mereka menyaksikan betapa nelangsanya orang yang duduk meringkuk di sebuah sudut gua dalam keadaan payah itu.

Musafir tersebut menawarinya makanan, tapi az-Zahid diam tidak menghiraukan. Mereka menyangka orang yang ditemuinya sudah terlampau lapar sehingga ia tidak dapat berbicara.

Mereka memberikannya minuman, Az-Zahid tetap tidak bersedia membuka mulut. Hingga akhirnya para musafir itu mengambil sebuah besi untuk membuka mulut dan giginya.

Lalu dituangkanlah minuman itu ke dalam mulutnya. Az-Zahid tersenyum. Mereka tertawa.

Demikianlah aneka kisah yang pernah dialami oleh orang-orang saleh untuk membuktikan betapa Allah Yang Mahakasih telah menyediakan rezeki kepada semua makhluk-Nya.

Malah tidak jarang kita temui, manusia-manusia durhaka yang tidak mengindahkan tuntunan-Nya, diberikan lebih banyak kekayaan daripada mereka yang taat beribadah. Orang yang tawakal adalah orang yang menerima ketentuan Allah. Ia tidak terlalu bergantung pada amal.

Ia melakukan apa yang diperintahkan Allah dengan tulus. Bahkan jika kemudian Allah memasukkannya dalam neraka, ia akan rela. Baginya, kemampuannya beribadah dan beramal, sudah lebih dari cukup dari yang ia harapkan. 

Orang yang tawakal adalah orang yang tidak bergantungan pada apapun dan siapapun selain Allah. Hanya Allahlah tempatnya bergantung. Amal tidaklah berdampak pada apapun. Amal hanyalah merupakan bentuk pengabdian hamba pada Tuhannya.

Penulis Oleh: M Nuchid

KBBI V 
Abu al-Qasim al-Qusyairi Al-Naisaburi, Al-Risālah al-Qusyayriyyah (Kairo: Mathābi‟ Mu‟assasah Dār al-Sya‟b, 1989), 798

0 Response to "Tentang Berserah Diri (Tawakal)"

Post a Comment

Tinggalkan Komentar Anda

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel