Tentang Cinta dan Perceraian Kamu Wajib Baca!

Tentang Cinta

Perceraian adalah penyelesaian dalam hubungan rumah tangga. Dalam agama, tentang perceraian dianggap sebagai sesuatu yang sangat besar.

Konon, seperti yang tersebut dalam sebuah riwayat, setiap terjadi perceraian, singgasana Tuhan bergoncang. Itu sebabnya dikatakan, Perkara halal yang sangat dibenci adalah perceraian.

Kepada Muadz, Rasulullah saw. pernah bersabda, “Tidak ada yang diciptakan Allah di muka bumi ini, yang oleh Allah lebih dicintai melebihi memerdekakan budak. Dan tidak ada yang paling dibenci oleh Allah melebihi perceraian.”

Tentang perceraian, hukum syariat memerinci permasalahannya dengan sangat detail. Tapi bukan di sini tempat yang tepat untuk menguraikannya.

Rujuklah pada kitab-kitab fikih untuk meraih keterangan hukum syariatnya yang lebih memuaskan. Yang akan dibahas dalam bab ini, hanyalah tentang akhlak perceraian.

Tentang perkawinan, kita mengenal istilah akad nikah (‘Aqd al-Nikāẖ). Akad adalah ikatan. Nikah berarti penyatuan.

Penyatuan fisik, penyatuan pikiran, penyatuan langkah, dan penyatuan cita-cita. Jika terjadi sesuatu yang menyebabkan ikatan penyatuan tidak lagi dapat dilanjutkan, maka saat itu terjadilah talak (al-Thalāq), yaitu pelepasan ikatan.

Alquran juga menamai pernikahan sebagai ikatan yang kokoh (Mitsāqan Ghalīdzan), seperti yang telah kita bahas sebelum-sebelumnya.

Bahkan saat Alquran berbicara tentang keimanan, ia hanya mengatakannya sebagai Mītsāq. Sementara saat berbicara tentang pernikahan, ia dikatakan sebagai Mītsāqan Ghalīdzan. Seakan-akan ikatan perjanjian dalam pernikahan lebih berat daripada ikatan keimanan. Ikatan pernikahan ada tiga: kenyamanan, cinta, dan kasih sayang.

Kenyamanan dalam berumah tangga bukanlah sesuatu yang langgeng. Karena hati manusia tidaklah stabil. Hati manusia berubah-berubah.

Jangankan hati, lidah seseorang dalam merasakan suatu masakan, bisa berubah-ubah. Saat ia sakit, dirasakan makanan terasa pahit.

Saat dalam perawatan, dirasakan makanan terasa asin. Maka tidak dapat dielak jika suatu saat rasa nyaman pada pasangan akan berubah.

Ada yang berkata, kenyamanan suami kepada istri adalah kenikmatan dalam melampiaskan gejolak seksual, dan kenyamanan istri pada suami adalah merasa aman. Jika semua itu telah berlalu. Ketenangan telah lenyap.

Hendaknya, jangan kemudian memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan perceraian. Karena masih ada cinta.

Mestinya cinta tidak mengharapkan timbal balik. Seseorang yang memiliki cinta, akan tetap tinggal bersama pasangannya, walau pasangannya tidak lagi cantik atau tampan.

Tidak meninggalkan pasangannya, walau rambutnya sudah beruban, kulit keriput, penglihatan berkurang, gigi mulai tanggal, tubuh rapuh, berjalan terseok-seok. Ia akan tetap bersama yang dicintainya, walau ia sudah tidak merasakan kelezatan hubungan seks seperti pertama kali menikah. 

Suami akan tetap bersama istrinya walau sang istri tidak dapat melahirkan putra. Istri akan tetap setia pada suaminya kendati kantongnya selalu kosong momplong.

Itulah cinta. Jika cinta juga tidak lagi dimiliki, atau pudar ditelan masa, jangan juga terburu-buru menyudahi hubungan dengan perceraian. Masih ada kasih sayang.

Kasih sayang. Ada yang berkata rasa kasihan. Ada juga yang mengartikan kepercayaan. Pernikahan bukanlah perkawinan hanya antar dua orang.

Pernikahan adalah perkawinan antar dua keluarga. Masing-masing keluarga telah memberi kepercayaan pada kedua mempelai agar saling menjaga kerukunan berumah tangga, dan melanggengkan pernikahannya.

Biaya telah dikeluarkan sedemikian rupa untuk pesta pernikahan. Masyarakat telah diundang untuk menyaksikan kebahagiaan.

Tuhan juga telah mengamanahkan putra-putri. Hendaknya seseorang memikirkan nasib-nasib anak-anak mereka. Milikilah rasa kasihan, dan jangan buru-buru memutuskan perceraian.

Apabila seseorang mengikuti tuntunan agama, tidak akan seseorang melakukan perceraian. Kecuali jika telah terjadi kesalahan yang besar, maka agama memberi jalan keluar berupa perceraian. Maka, perceraian adalah jalan terakhir, jika sudah benar-benar mentok.

Agama menganjurkan perceraian jika pernikahan memang sudah tiada dapat lagi dipertahankan. Dan apabila dipertahankan,  justru akan menerbitkan bahaya yang lebih besar.

Perceraian diperbolehkan jika perceraian memang harus terjadi. Dan dalam perceraian tersebut tidak ada pihak yang dirugikan. Serta terdapat manfaat dalam perceraiannya.

Perceraian harus dilakukan jika seorang suami telah bersumpah tidak menyetubuhi istrinya hingga masa tertentu, sedang ia tidak bersedia membayar kafarat sumpah agar dapat kembali berhubungan.

Perceraian tidak boleh ditunaikan jika tidak ada alasan yang jelas, baik istrinya dalam keadaan suci maupun haid, yang ketika itu ia masih selalu menggauli.

Jika perceraian telah terjadi, bukan lantas rampung segala urusan.

Ada aturan-aturan yang ditetapkan oleh agama, yang apabila tidak ditunaikan, Alquran mengategorikan mereka sebagai orang-orang yang zalim.

Firman-Nya, “Dan para istri yang diceraikan (wajib) menahan diri mereka hingga tiga kali qurū’ (suci dari haid).

Tidak boleh bagi mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahim mereka, jika mereka beriman kepada Allah dan Hari Akhir.

Dan para suami, mereka lebih berhak kembali kepada para istrinya dalam (masa) itu, jika mereka menghendaki perbaikan.

Dan mereka (para istri) mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang baik. Dan bagi para suami, mereka mempunyai kelebihan di atas para istri. Allah Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana. 

Talak (yang dapat dirujuk) ada dua kali. (Setelah itu suami dapat) menahan dengan baik, atau melepaskan dengan baik.

Tidak halal bagi kalian mengambil kembali sesuatu yang telah kalian berikan kepada mereka, kecuali keduanya (suami istri) khawatir tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah.

Jika kalian (para wali) khawatir bahwa keduanya tidak mampu menjalankan hukum-hukum Allah, maka keduanya tidak berdosa atas bayaran yang (harus) diberikan (oleh istri) untuk menebus dirinya. 

Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kalian melanggarnya. Siapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zalim.

Kemudian jika dia menceraikannya (setelah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya sebelum dia menikah dengan suami yang lain.

Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (suami istri) untuk menikah kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. 

Itulah ketentuan-ketentuan Allah yang dijelaskan-Nya kepada orang-orang yang berpengetahuan.” (Q.S. Al-Baqarah: 228-230)

Wanita-wanita yang telah dicerai, yang telah melakukan hubungan seksual dalam pernikahannya, yang masih memiliki kemungkinan bisa hamil, bukan yang sedang hamil, bukan yang sudah menopause yang tidak ada kemungkinan hamil, juga bukan yang masih terlalu kecil yang belum pernah menstruasi.

Mereka memiliki iddah. Masa tunggu. Mereka harus menanti dalam tiga kali suci. Jangan sebagaimana orang-orang jahiliah yang tidak memiliki masa tunggu.

Seenaknya istri yang telah ditalak dengan bebas menikah lagi, sehingga tidak jelaslah anak siapa yang ada dalam kandungannya jika ia mengandung. Seorang istri tidak boleh menerima lamaran, apalagi menikah lagi sebelum masa tunggunya selesai.

Agama sama sekali tidak merestui, dan bahkan yang bersangkutan dinilai berdosa jika ia menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya.

Yakni menyembunyikan tentang benih yang telah dikandungnya, atau menyembunyikan tentang menstruasinya, sebab itu berhubungan dengan masa tunggunya.

Tidak jarang kita temui dewasa ini, sebagaimana yang juga pernah terjadi di masa jahiliah, perempuan menyembunyikan kehamilannya atau menyembunyikan masa menstruasinya, agar ia dapat menikah lagi dengan segera, entah itu karena ia tidak menginginkan anaknya kelak mengenal siapa bapaknya, karena ingin suami barunya dianggap sebagai bapak anak yang dikandung dari suami sebelumnya, atau lantaran sebab yang lainnya.

Sedang bagi suami, dialah orang yang lebih berhak untuk mengajak rujuk kembali, menjalin hubungan dengan istrinya lagi, sebelum masa idahnya habis, selama itu dalam rangka kebaikan. 

Bukan agar suami dapat melakukan keburukan kepada istrinya kembali. Dan karena ini, para suami harus tetap memberikan nafkah pada istri yang telah ditalaknya, mencukupi segala macam kebutuhan sebagaiman biasanya, selama masa tunggunya itu.

Para istri, yang taat pada perintah Allah, serta taat pada perintah suami selama bukan tentang pembangkangan kepada Allah, mereka memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya dalam hal kebaikan.

Maka wajib bagi suami untuk berbuat baik pada istrinya, tidak menyakitinya, dan memberikan segala hak-haknya: sandang, pangan, papan, keamanan, dan kenyamanan.

Karena diberikannya kemampuan berlebih dalam hal fisik maupun psikologis itulah, suami disebut sebagai memiliki derajat satu poin lebih tinggi daripada istri, selama ia menunaikan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya.

Pernikahan itu sangat indah, maka jangan karena sebab yang tidak pasti, atau hanya karena luapan sesaat emosi, kalian dengan mudah menceraikan istri.

Sebab, boleh jadi kalian akan menyesal di kemudian hari, ingin kembali karena masih merasa mencintai.

Dahulu, orang dengan mudah menalak istri, merujuk kembali, menalak lagi, merujuk kembali, menalak lagi, merujuk kembali, dan begitu seterusnya tanpa batas, tanpa idah. Agama tidak merestui yang demikian.

Pernikahan dan perceraian bukanlah perkara remeh, bukan seperti muda-mudi labil yang putus nyambung-putus nyambung dalam pacarannya, maka jangan bermain-main dengannya.

Mengertilah, talak yang telah kalian jatuhkan, yang masih dapat dirujuk hanya dua kali.

Kali ketiga, kalian boleh menahannya dengan cara yang wajar dan baik, bukan dengan paksa atau bermaksud mengganggu.

Atau melepasnya dengan cara yang ihsan, dengan cara yang sangat baik, menuntut hanya sebagian haknya, dan memberi lebih banyak hak orang lain.

Ingatlah, bahwa dahulu kau mengikat pernikahan dengan cara baik-baik, maka apabila melepaskannya, lepaskan pula dengan baik-baik.

Bahkan para suami tidak diperbolehkan meminta kembali apa yang telah pernah ia berikan pada mantan istrinya.

Kecuali jika dikhawatirkan pada mereka, tidak melaksanakan tuntunan Tuhan. Jika ada kekhawatiran, maka itu diperbolehkan.

Dari sini, dan dari sumber beberapa riwayat, kemudian para ulama menyimpulkan tentang bolehnya khulu’, menggugat cerai, yang dilakukan oleh istri dengan membayar ganti rugi pada suami. Semua itu merupakan batas-batas yang telah ditetapkan Allah.

Siapa yang tidak melaksanakannya, maka ia tergolong orang-orang yang zalim.

Jika talak ketiga telah jatuh, maka tidak ada lagi jalan menuju rujuk, kecuali setelah sang istri menikah lagi dengan orang lain, dan telah melakukan hubungan seksual.

Setelah diceraikan lagi oleh suami yang baru, barulah suami yang lama boleh kembali menikahi mantan istrinya, selama mereka yakin mampu melaksanakan tuntunan-tuntunan yang telah ditetapkan Allah. 

Orang-orang bijak berpesan, “Berhati-hatilah saat memulai cinta. Dan lebih berhati-hatilah lagi dalam menyudahinya.”

Terkadang perceraian memang laksana pil pahit yang harus ditelan, untuk menghindari penderitaan yang lebih parah.

Namun, Agama tidak merestui seseorang mengakhiri hubungan hanya atas dasar perasaan, seperti marah yang tidak berdasar, cemburu buta, atau kebosanan.

Perceraian harus benar-benar nyata penyebabnya. Harus diikutsertakan pemakaian logika, dan tentu saja dengan tuntunan agama.

(Romantisisme Kalam Tuhan)

0 Response to "Tentang Cinta dan Perceraian Kamu Wajib Baca!"

Post a Comment

Tinggalkan Komentar Anda

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel