Ternyata Kebencian Itu Bisa Menular

Kebencian Bisa Menular

Saya tidak pernah benar-benar tahu apakah kebencian itu sungguh-sungguh ada atau hanya diada-adakan. Apakah jika ada, ia bersifat gaib, atau terlalu kecil semacam virus hingga tiada terkasat mata.

Embuhlah. Pada kebencian, saya hanya melihat pembenci dan yang dibenci. Serta percaya, bahwa kebencian ternyata menular.

Kebencian ternyata menular. Mungkin Anda telah mengetahui fakta ini sebelumnya. Jika Anda baru tahu, saya persilakan Anda untuk berterima kasih pada saya selaku pemberi informasi.

Kasmudi, dulunya suka sekali sama Jokowi. Sebagaimana rakyat pada umumnya, Kasmudi juga mendambakan pemimpin yang sederhana, dekat dengan rakyat, ramah, mblusuk, dan lain sebagainya. Kasmudi melihat semua kriteria itu ada pada Jokowi. Tetapi penglihatannya tiba-tiba gelap.

Seumpama obor yang menyala, tetapi hilang cahayanya. Hanya tersisa rasa panasnya. Penyebabnya sederhana, cuma gara-gara para penjonru.

Yaitu orang, atau orang-orang, atau entah makhluk apa dari planet mana, yang berkata bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang, jabatan, maupun kelompok. Gara-gara para penjonru ini, Kasmudi jadi benci pada Jokowi.

Penjonru mungkin hanya mungkin tidak bermaksud menularkan kebencian. Tetapi kebencian akan selalu menular dengan sendirinya.

Saat saya bilang pada Kasmudi bahwa ia sudah menjadi korban penularan virus kebencian oleh para penjonru, lelaki berwajah remang-remang itu marah. Merah diwajahnya memang tidak terlihat, sebab wajahnya terlalu gelap.

Ia jarang pakai sabun atau pencuci muka. Ia lebih percaya bahwa wudu dan mandi janabah sudah cukup untuk membuat kulit bercahaya. Jiwa kesantrian Kasmudi muncul, dan memanfaatkan pengetahuan keagamaannya sebagai alat pengelesan.

“Sampean tahu sendiri, kan, Kang, bahwa dalam Hadis sahih dikatakan, tidak ada penularan dan tidak ada ketatayuran.”

“Aku tahu Hadis itu, Kas. Dan dalam saat yang sama aku juga tahu bahwa penularan itu ada. Penyakit gatal menular, flu menular, HIV juga menular.”

“Kalau penularan memang ada, lalu siapa orang yang menulari yang tertular, terus yang menulari yang menulari tadi tertular siapa, dan begitu seterusnya sampai yang pertama, siapa yang menulari si pertama ini?” Kasmudi berusaha mempertahankan pendapatnya, yang ia duga sebagai pendapat agama.

“Kalau yang pertama, itu memang asli berpenyakit, Kas. Jadi jangan tanyakan kepada siapa ia tertular. Sebagaimana kita ini dilahirkan, tetapi jangan bertanya siapa yang melahirkan Adam. Jadi, yang pertama itulah yang asli. Lalu, si pertama ini lah yang menularkan penyakitnya, atau penyakit itu menular dengan sendirinya, kepada orang-orang sekelilingnya yang daya tahan tubuhnya buruk.”
“Tetapi, itu Hadisnya sahih loh, Kang ….”

“Jangankan sahih, selama bukan Alquran, riwayat mutawatir pun bisa saja salah.”
“Jadi sampean mengatakan Nabi salah?”

“Aku tidak berkata Nabi salah. Tetapi perawinya, yang entah di tabakat mana, yang salah. Bukankah berita yang seru berpotensi menyebar dengan cepat dan diceritakan orang banyak?”

Kasmudi terdiam. Agaknya ia sudah mulai terpengaruh dengan pikiran sesat saya.

“Oke ....” Nada bicara Kasmudi mulai merendah. “Itu kan penyakit fisik. Lalu, apakah penyakit hati macam kebencian juga dapat menular?”

“Ya justru penyakit hati itu yang lebih cepat menular, Kas. Itu sebabnya, dalam Alquran tidak pernah dikatakan Lā Tufsidū fī al-Bayt atau fī al-Qaryah atau fī al-Madīnah atau fī al-Bilād. Tetapi fī al-Ardh. Jangan membuat kerusakan di Bumi.

Meskipun kerusakan itu hanya ada di sekitar, Alquran tetap mengistilahkannya di Bumi. Dan, konteks ayat-ayat yang berhubungan dengan itu, bukan sedang membahas penyakit fisik, tetetapi penyakit hati, penyakit iman, penyakit kemanusiaan.

Itu menunjukkan bahwa penyakit non fisik lebih cepat menyebar, hingga diksi yang dipilih adalah Bumi. Dan, banyak sekali para perusak ini menuduh dirinya sedang memperjuangkan kebenaran, padahal ia sedang mengampanyekan kebencian.”

Kasmudi terdiam, meski tidak terlalu mingkam. Giginya lumayan panjang sehingga menyulitkan dua bibirnya terkatup dengan nyaman.

Sesungguhnya, kami sama-sama tertular penyakit para penjonru, penebar kebencian itu. Hanya saja kasusnya beda. Jika Kasmudi tertular sebagai pembenci, saya tertular sebagai membenci para pembenci.

0 Response to "Ternyata Kebencian Itu Bisa Menular"

Post a Comment

Tinggalkan Komentar Anda

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel