Cerita Inspiratif. Cahaya yang Sirna

Cahaya yang Sirna

Sama kemarin, berarti sudah malam saya tidak tidur. Malam setelah perjumpaan dengan Dahlia, saya langsung tenggelam dalam siksa dapur dan segenap penderitaannya.

Pagi-pagi, saat saya menyapu pekarangan pesantren, terdengar suara orang-orang berteriak dari ruang makan santri. “Ayna al-Nūr?” Teriakan itu saling sahut menyahut, seperti paduan suara yang tidak terpandu.

Ketika saya menyamperi ruang itu, saya melihat mereka seperti orang-orang mabuk, atau seperti orang-orang yang hilang akal. Matanya terbelalak seakan-akan berada dalam kegelapan. Tangannya meraba-raba leher dan perutnya. 

Sementara mulutnya tak henti-henti berteriak, “Di mana cahaya?”

Syekh Badruddin menghampiri ruang makan santri, ditemani oleh khadimnya dengan membawa seember air.

Cepat-cepat, Syekh Badruddin meminumkan air itu dengan tangannya sebagai cawan. Satu persatu orang-orang itu tersadar.

Dua orang kemudian menyeret tubuh saya, dibawanya ke sebuah ruangan yang tak memiliki cahaya.

“Kamu tahu bagaimana rasanya hidup tanpa cahaya?”

Saya merasakan keringat mengucur dari segala penjuru badan. Sementara kepala saya masih bertanya-tanya, “Kenapa tiba-tiba orang meributkan soal cahaya, lalu membalaskan dendam dengan mengurung saya pada kegelapan, atas sesuatu yang tidak saya ketahui dasar perkaranya?”

Keringat saya kian menderas. Hingga menenggelamkan seluruh tubuh dan menyebabkan sesak napas. 

Keringat saya tidak basah. Ia lebih wajar dikatakan serupa dengan butiranbutiran pasir. Sangat panas. 

Hampir-hampir saya merasa telah kehilangan kulit. Seakan-akan, tubuh saya hanya terdiri dari daging dan tulang. Perih nian.

Lama, barulah kemudian angin mengembus, menghadirkan setitik cahaya nan jauh di sana. Cahaya itu mendekat.

Semakin dekat terlihat, saya tersadar, ia adalah manusia. Yang saya duga cahaya itu adalah Syekh Badruddin.

Gila! Tubuh saya seperti disiram dengan embun pagi. Adem. Miliaran butir keringat pasir itu menyusut ke dalam tanah.

Tubuh saya yang kehilangan kulitnya, kini terpakai lagi. 

"Mengapa masakanmu tidak memiliki cahaya?" Syekh Badruddin bertanya.

"Apakah ini hanya semata-mata soal masakan? Jika iya, maafkan saya. Saya tidak fokus. Saya lelah sekali malam itu. Dan sampai sekarang, saya belum tidur."

"Ini bukan tentang semata-mata. Ini tentang banyak mata, yang tidak kuketahui ke arah mana saja matamu itu memandang. Kegelapan dalam matamu itulah yang menjadi penyebab masakanmu ikut gelap."

"Maaf, Syekh. Kemarin, saya ...."

"Keburukan tidak perlu diceritakan. Simpanlah untuk dirimu sendiri. Jangan pergi dari sini, sebelum matamu kaucuci dengan cahaya."

"Jika dengan bebersih saya harus meninggalkan tempat ini, tidak akan saya lakukan. Saya bahkan belum menggenapkan sepuluh hari dari 1080 hari."

"Tempat ini tidak menerima kegelapan."

"Lalu mengapa saya harus bersuci dengan cahaya untuk meninggalkan tempat ini?" 

"Jika kegelapan saja tidak kami terima, apakah kami akan mengumbar kegelapan di luar sana, yang bersumber dari tempat ini?"

"Beri saya kesempatan lagi, Syekh. Kejadian itu, terjadi begitu saja. Saya tidak punya kendali."

"Aku juga tidak punya kendali untuk tetap bersamamu." 

"Engkau bahkan belum tahu nama saya, Syekh." 

"Beruntung aku tidak tahu namamu. Sehingga, aku tidak perlu mengingatmu, apalagi sampai menjadi tanggung jawab atas kegelapanmu." 

Saya tidak ingat lagi apa yang saya lakukan setelah itu. Tidak ada yang mengesankan. Saya hidup sebagai mahasiswa pada umumnya. Begitu-begitu saja. Dahlia, jangan ditanya. Saya bahkan tidak yakin apakah dia benar-benar ada, apakah kami benar-benar pernah bersua.

0 Response to "Cerita Inspiratif. Cahaya yang Sirna"

Post a Comment

Berkomentarlah yang bijak dan sesuai dengan isi konten. Komentar dengan Link hidup/mati tidak akan disetujui.

(✔). Boleh berkomentar menggunakan bahasa jawa

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel