Tentang Cinta dan Pernikahan Versi Kang Santri

Tentang Cinta dan Pernikahan

Pertama kali Adam diciptakan, ia tidaklah berupa jasad. Ia hanya terdiri dari ruh sebagaimana malaikat dan jin. Lalu Tuhan menjadikannya jasad yang tercipta dari tanah bumi sebagai wadah ruh. 

Setelah tercipta jasad, manusia pertama itu mengherankan satu bagian dari tubuhnya yang aneh baginya. Ia bisa berdiri dan merunduk.

Terkadang lembek dan di saat yang lain keras. Ia pun gelisah dengan bertanya-tanya, apa yang dapat ia fungsikan dari satu bagian tubuhnya yang berada di antara pusar dan lutut itu.

Kemudian saat ia terlelap dalam tidurnya, Tuhan menciptakan Hawa dari tulang rusuknya. Begitu terbangun, ia terkejut akan kehadiran wanita cantik yang tiba-tiba berada di sampingnya.

Nafsu alamiahnya kemudian mengetahui fungsi dari makhluk kecil yang unik itu. Saat hendak memasukkan burung ke dalam sarangnya, Tuhan menghentikannya, “Jangan dulu.

Nikahi dulu. Aku yang menikahkan. Malaikat yang menyaksikan. Dan selawat kepada Nabi Muhammad sebagai mahar perkawinan.”

Demikianlah. Nikah adalah syariat pertama yang disyariatkan kepada manusia. Rincian dalam pernikahan pun telah ditetapkan sejak semula.

Selain tentang wali, saksi, dan maskawin, juga dirincikan kepada siapa saja yang boleh dinikahi dan tidak boleh dinikahi.

Pernikahan antar saudara kandung tidaklah diperbolehkan. Itu sebabnya, saat tidak ada manusia lain di antara dua pasang saudara kembar anak-anak Adam, syariat memerintahkan agar mereka dinikahkan dengan perkawinan silang.  

Pernikahan adalah bagian dari syariat Islam. Dan apa yang ditetapkan agama sebagai aturan, tidak lain adalah untuk kebaikan manusia, untuk membimbing serta mengantar mereka menuju kebahagian dunia akhirat. Pernikahan memiliki tujuan-tujuan.

Antara lain tujuannya adalah agar merasakan sakinah, mawaddah, dan rahmat. Sebagaimana yang difirmankan Allah:

Dan di antara tanda-tanda-Nya adalah Dia menciptakan kalian pasangan-pasangan dari jenis kalian sendiri, supaya kalian merasakan sakinah padanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian mawaddah dan rahmat. Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Q.S. Al-Rūm: 21)

Menurut Prof. Quraish Shihab, kata sakinah terambil dari bahasa Arab yang terdiri dari huruf-huruf Sīn, Kāf, dan Nūn yang mengandung makna ketenangan atau antonim dari kegoncangan dan pergerakan.

Berbagai bentuk kata yang terdiri tiga huruf itu, semuanya bermuara pada makna di atas. Misalnya, rumah dinamai maskan karena ia adalah tempat untuk meraih ketenangan setelah penghuninya bergerak, bahkan boleh jadi mengalami goncangan di luar rumah.

Para pakar menegaskan, bahwa kata sakinah tidak digunakan kecuali setelah adanya goncangan. Hal ini, menurut direktur Pusat Studi Alquran itu, menunjukkan bahwa ketenangan yang dimaksud adalah ketenangan dinamis.

Pasti dalam setiap rumah tangga ada saat ketika gejolak, bahkan kesalahpahaman, dapat terjadi. Namun, ia dapat segera tertanggulangi bila agama, yakni tuntunan-tuntunannya, dipahami dan dihayati oleh anggota keluarga.

Atau, dengan kata lain, bila agama berperan dengan baik dalam kehidupan keluarga. Namun, perlu diperhatikan, bahwa pernikahan tidak serta merta mendatangkan ketenangan.

Ketenangan harus diupayakan. Kedua pihak-suami dan istri-harus berusaha mencapai ketenangan itu.

Menikah adalah suatu kebaikan, tapi meraih ketenangan dalam pernikahan adalah kewajiban. Sebab, apabila ketenangan tidak didapatkan, bukan saja kedua belah pihak yang akan menderita, tapi juga anak-anaknya, bapak ibunya, dan juga keluarga bahkan kerabatnya.

Pernikahan adalah sesuatu yang mudah, tapi menggapai ketenangan di dalamnya teramat susah.  

Ketenangan dalam pernikahan dapat diupayakan antara lain dengan saling menutupi aib keluarganya, menerima keadaan, dan tersenyum saat berjumpa maupun berpisah.

Pertama, menutupi aib keluarganya. Tidak menceritakan apapun yang tidak layak diceritakan. Kepada siapapun, termasuk pada agamawan sekalipun.

Ceritakan yang baikbaik saja, yang terdapat manfaat di dalamnya. Kecuali jika terjadi sesuatu yang darurat, seperti terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, atau terjadinya pengkhiatan, atau tidak terpenuhinya hak-haknya sebagai pasangan, atau apapun yang layak menjadi alasan.

Jika dapat dibenahi, benahilah. Jika sudah tidak memungkinkan, ceritakan pada keluarga. Jika tidak teratasi juga, maka datanglah ke pengadilan untuk meminta keadilan.

Kedua, menerima keadaan. Menerima setiap apa yang didapatkan. Merasa puas dengan pasangan yang didapatkan.

Menganggap sedikit apa yang banyak dari dirinya, dan menganggap banyak apa yang sedikit dari pasangan. Bersyukur atas pernikahan yang telah ditakdirkan Tuhan.

Menutup mata rapat-rapat pada rumput tetangga yang meskipun tampak lebih hijau menyegarkan. Pernikahan belum tentu jodoh, tapi perjodohan setelah pernikahan dapat diusahakan dengan menerima keadaan.

Hidup dalam kesederhanaan dengan menerima akan lebih membahagiakan ketimbang berlimpahnya harta tanpa kepuasan.

Ketiga, tersenyum pada pasangannya saat berjumpa, maupun saat hendak bepergian. Humor dalam rumah tangga sangatlah agung dalam pandang agama.

Yang bersangkutan bahkan disebutkan sebagai seseorang yang mendapat pahala melebihi iktikaf di Masjid Nabawi.

Rasulullah saw. dalam kehidupan berumah tangga, menurut penuturan para istrinya, adalah orang yang sangat humoris. Tersenyum pada pasangan memang tampak mudah.

Namun tidak jarang seseorang dengan mudah tersenyum saat bersua dengan yang lain, tapi kesulitan tersenyum saat berjumpa pasangannya.

Selain lirikan mata, senyum adalah jalan kedua paling ampuh untuk menggapai ketenangan cinta. Jalan ini tidaklah mudah.

Saking sulitnya, hingga siapa yang melaksanakannya diumpamakan seperti orang yang berhaji di setiap malam, dan berperang di setiap siang.

Sabda Rasulullah saw., “Beruntunglah orang yang mendapatkan pahala berhaji setiap malam dan mendapat pahala berperang di jalan Allah setiap siang.”

Para sahabat bertanya, “Siapa mereka, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Yaitu seseorang yang bersedia menutupi keburukan keluarganya, merasa puas dengan kesederhanaan yang didapatkannya di dunia, serta tersenyum saat berjumpa dan tersenyum saat berpisah.

Demi Zat yang nyawaku berada dalam genggaman-Nya, mereka adalah orang-orang yang mendapat pahala berhaji dan berperang di jalan Allah.”

Tujuan kedua dari pernikahan adalah mawaddah. Menurut Syekh Sya‟rawi, mawaddah adalah cinta yang terjalin dengan saling memberi.

Bekerja keras, banting tulang, dan mengerahkan segala kemampuan untuk kelangsungan hidup. Baik kelangsungan hidup dalam berumah tangga maupun dalam mengurus anak-anak.

Sebab Allah berfirman,  Sungguh, usahamu memang beraneka macam. (Q.S. Al-Layl: 4) Yang semua itu dilakukan dalam bingkai cinta, kasih, dan saling memberi perhatian. Pernikahan adalah awal kebahagiaan.

Kebahagiaan itu dapat diupayakan dengan adanya cinta. Cinta yang berdasar pada tanggung jawab. Saling memberi, bukan saling meminta. Saling memahami, bukan ingin dipahami.

Hidup ini tidak akan terlepas dari hukum timbal balik. Jika seseorang baik pada pasangannya, pasangannya juga akan digerakkan oleh Tuhan untuk berbuat baik padanya. Sabda Rasulullah, “Pertolongan Allah akan terus diberikan pada seorang hamba, selama seorang hamba bersedia menolong pada selainnya.” 

Setelah Alquran menyebut tujuan cinta dengan sakinah dan mawaddah, kemudian Dia menyebutkan tujuan yang selanjutnya, yaitu rahmat.

Rahmat adalah cinta yang timbul antara lain dari rasa kasihan. Ini disebutkan dalam urutan akhir tujuan pernikahan, karena agar apabila sakinah dan mawaddah telah lenyap, setidaknya masih ada rahmat, yang kemudian akan mempertahankan pernikahan.

Tiada dapat dipungkiri, manusia selalu berubah. Jika dahulu, pria yang menjadi suami itu pada masa mudanya sangat tampan, gagah, atau memiliki saku yang tebal, pada masa tuanya akan menjadi tidak berdaya, dan boleh jadi tidak segesit dulu dalam mencukupi kebutuhan belanja.

Atau wanita yang dulu masa mudanya sangat cantik, sejuk di pandangan mata, dan mampu memberi kepuasan dahaga, pada masa tuanya kulitnya akan mengeriput, tidak cantik lagi, serta tidak menarik lagi dalam meracik kopi susu di malam hari.

Pada saat-saat itulah rahmat yang bekerja.  Cinta dalam bentuk rahmat ini juga yang akan mengembalikan rasa sakinah dan mawaddah, bahkan dalam keadaan yang lebih indah.

Bukankah romantis sekali ketika ada salah satu pasangan mengalami sakit parah, lalu pasangannya yang menyuapi makan, memberi minum, bahkan yang membuangkan kotorannya, sementara secara materi ia tidak mendapatkan apa-apa.

Lalu ketika ia ditanya, “Mengapa kau melakukannya?” Ia menjawab, “Aku mencintainya. Dan aku bukanlah orang yang habis manis sepah dibuang.”  

Pernikahan merupakan salah satu upaya yang dibeberkan Tuhan kepada siapa yang saling mencintai, agar cinta mereka langgeng.

Dari dunia, hingga surga. Alquran juga melukiskan bagaimana keadaan pasangan kekasih yang cintanya langgeng.

“Sesungguhnya penghuni-penghuni surga pada hari itu dalam kesibukan, lagi sangat senang.

Mereka bersama pasangan-pasangan mereka berada dalam tempattempat yang teduh, bersender di atas dipan-dipan.” (Q.S. Yāsīn: 55-56)

Karena itu, tidaklah benar jika dikatakan bahwa kematian adalah akhir dari percintaan. Pernikahan dapat diupayakan untuk menjalin hubungan dalam keabadian.

0 Response to "Tentang Cinta dan Pernikahan Versi Kang Santri"

Post a Comment

Berkomentarlah yang bijak dan sesuai dengan isi konten. Komentar dengan Link hidup/mati tidak akan disetujui.

(✔). Boleh berkomentar menggunakan bahasa jawa

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel