Cinta Kepada Orang Kafir, Cerita Inspiratif

Cerita Inspiratif

Allah melarang orang mukmin untuk mencintai orang kafir. Jika Allah sudah memerintah atau melarang, maka jangan pernah bertanya mengapa, jangan juga bertanya apa manfaatnya.

Karena apabila telah sampai padamu alasan, maka jika manfaatnya tidak kaurasakan, boleh jadi keimananmu akan berkurang.

Engkau tidak perlu mencari alasan, karena Tuhan sendiri yang akan mengajarkan, setelah engkau melaksanakan.

“Bertakwalah pada Allah, dan Dia akan mengajarkan pengetahuan padamu.” (Q.S. AlBaqarah: 282)


Bukankah kalian tahu betapa buruknya minuman keras bagi kesehatan setelah sekian lama kalian diberitahu tentang keharamannya? Bukankah kalian tahu betapa berbahayanya makan daging babi setelah sekian lama ditetapkan bagi kalian keharamannya? Dan masih banyak lagi yang mulai terungkap, yang bahkan itu berasal dari orang-orang yang berada di luar kalangan kalian.

Maka, tidak perlu lagi kalian bertanya tentang alasan mengapa Allah memerintah dan melarang, sebagaimana kalian tidak pernah bertanya tentang resep obat yang diberikan oleh dokter, yang kalian sendiri pun banyak yang tidak dapat membaca tulisannya.

Allah melarang pada kalian, orang-orang yang beriman, untuk menjadikan orangorang kafir, yakni orang-orang yang berkeyakinan di luar kalian, sebagai teman yang terlalu dekat, hingga terjalin cinta oleh kalian, hanya olehmu.

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah engkau menjadikan orang-orang kafir sebagai awliya‟ (teman yang sangat akrab, hingga tidak ada lagi rahasia di antara kalian) dengan meninggalkan orang-orang mukmin.

Maukah kalian mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu?” (Q.S. Al-Nisā‟: 144)


Berpikirlah, apakah kalian akan mencintai orang-orang yang sama sekali tidak mencintaimu. Telah jelas-jelas dari mulut mereka menyatakan betapa bencinya mereka padamu.

Itu baru yang keluar dari mulutnya, belum apa yang dari hati mereka. Atau boleh jadi saat mereka bersua denganmu, berada di hadapanmu, mereka terlihat baik, bahkan secara lahir seolah menampakkan iman.

Mengaku beriman pada Allah dan RasulNya. Tapi begitu kalian berpisah, dongkollah hati mereka, sebab amarah dan murka.

Mereka kemudian menghina Tuhanmu dan utusan-Nya. Apakah kalian akan menjadikan mereka teman duduk yang tahu semua rahasia kalian, seumpama pakaian yang kalian pakai.

Padahal apabila kalian mendapat kenikmatan, mendapat suatu kebahagian, mereka justru bersedih. Sedang apabila kalian tertimpa musibah, atau tertimpa suatu kesengsaraan, mereka justru bersuka cinta.

Teman macam apa itu? Apakah kalian hendak mencintai yang seperti itu? Jernihkan pikiranmu jika ingin mengambil tindakan itu ...

“Bagaimana kalian ini! Kalian mencintai mereka, tapi mereka tidak menyukai kalian, padahal kalian beriman pada semua kitab.


Saat mereka berjumpa kalian, mereka berkata, „Kami beriman‟ Dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah dan benci pada kalian.


Katakanlah, „Matilah sebab kemarahan kalian itu!‟ Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (Q.S. Ali „Imrān: 119)


Allah memperingatkan pada kalian, agar kalian tidak berada dalam ikatan cinta dengan mereka. Ingatlah, mereka telah memerangimu, dan bahkan tidak rela kalian tetap berada pada keyakinan yang kalian anut saat ini.

Mereka hanya hendak membuat tipu daya, agar kalian keluar dari kebenaran yang telah dianugerahkan Tuhan pada kalian.

Telah bersama kita ketahui bahwa saat pertama kali Islam tersebar, dan orangorang mulai berbondong-bondong masuk Islam, masih banyak dari mereka  yang tetap menjalin persahabatan yang terlalu akrab pada orang-orang yang tidak mau berislam.

Allah mencintai kalian, itu sebabnya Allah menghendaki kalian untuk melepas cinta pada mereka, yang telah gamblang cinta kalian ternyata bertepuk sebelah tangan.

Jangan lagi katakan, “Mereka adalah sahabat sejatiku” atau “Mereka adalah kekasihku”. Orang-orang yang telah mantap keimanannya, tidak akan menjalin cinta yang terlalu dalam kepada orang-orang yang tidak beriman, kendati mereka ada hubungan darah, atau berkerabat dekat.

“Engkau (Muhammad) tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, menjalin cinta dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudara-saudaranya, atau keluarganya. Mereka itulah yang telah ditanamkan oleh Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dariNya.” (Q.S. Al-Mujādalah: 22)

Allah memang melarang orang-orang mukmin untuk memiliki cinta yang berlebihan terhadap orang kafir, hingga di antara mereka tidak lagi ada rahasia.

Namun demikian, Allah tidak pernah melarang orang-orang mukmin untuk berbuat baik pada mereka yang tidak mengganggu kenyamanan hidup orang-orang Islam.

“Allah tidak melarang kalian (menjalin hubungan baik) dengan orang-orang yang tidak memerangi kalian karena agama dan tidak (pula) mengusir kalian dari negeri kalian, (dan Allah juga tidak melarang kalian) berbuat baik kepada mereka dan berlaku adil terhadap mereka.

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (Q.S. AlMumtaẖanah: 8)

Peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat ini adalah, ketika itu ada sekelompok orang yang  telah masuk Islam dan memiliki kerabat yang belum bersedia memeluk Islam, mereka bertanya, “Apakah kami boleh memperlakukan mereka dengan baik?”

Lalu turunlah ayat ini: Allah tidak melarang kalian (menjalin hubungan baik), yakni berbuat baik pada mereka, sebagaimana mereka berbuat baik pada kalian.

Bahkan kalian boleh berbuat lebih baik dari sikap baik mereka pada kalian. Tidak ada larangan berbuat baik dengan orang-orang yang, selama mereka tidak memerangi kalian karena agama.

Bahkan apabila orangtua kalian memaksa kalian agar menyekutukan Allah, kalian tetap harus berbuat baik padanya, yakni dengan penolakan yang sopan, dengan tutur kata yang santun.

Dan kalian juga boleh berbuat baik pada mereka, selama mereka menghormati agama yang kalian anut, tidak (pula) mengusir kalian dari negeri kalian, (dan Allah juga tidak melarang kalian) berbuat baik kepada mereka dan berlaku adil terhadap mereka.

Saat kalian membalas keburukan pada mereka pun, kalian harus tetap berlaku adil.

Dalam ayat yang lain, Allah juga mengimbau, agar apabila kalian berperang, kalian tidak berlebih-lebihan dan melampaui batas, apalagi sampai melukai keluarga mereka: orang-orang yang telah renta, perempuan, dan anak-anak.

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.

Di sebuah pasar di Madinah, ada pengemis Yahudi yang tiada berfungsi penglihatannya. Dia selalu berkata pada orang yang mendekatinya, bahwa Muhammad adalah pembohong dan penyihir. Ia selalu menghina dan mencacinya.

Sementara itu, setiap pagi Rasulullah saw. selalu membawakannya makanan dan menyuapkannya, tanpa berbicara apapun, juga tanpa memberitahu siapa dirinya.

Begitu seterusnya, hingga Rasulullah saw. meninggal dunia. Tidak ada lagi orang yang biasa memberi makan pengemis Yahudi itu.

Hingga pada suatu hari, Sayyidina Abu Bakar mendatangi rumah Rasulullah saw. dan bertanya kepada Sayyidah Aisyah, putrinya, sekaligus istri Rasulullah saw.

Ia bertanya, “Sunah apakah yang belum saya lakukan?” Aisyah menjawab, “Semuanya telah kaulakukan. Kecuali satu.

Setiap pagi, Rasulullah saw. selalu memberi makan pada pengemis buta yang berada di pasar.” Keesokan harinya, Abu Bakar datang pada pengemis buta itu, dan menyuapinya makanan.

Pengemis itu berkata, “Anda bukanlah orang yang biasa memberi saya makan. Yang memberi saya makan, biasanya mengunyahkan dulu makanannya, baru kemudian disuapkan padaku.

Di mana orang yang biasa memberiku makan?”

“Nabi Muhammad telah wafat.”

“Apakah yang biasa memberiku makan adalah Muhammad?”

“Ya.”

“Setiap hari aku menghinanya, mencacinya, mengolok-oloknya. Setiap hari pula ia berbuat baik padaku.”  Pengemis buta itu kemudian mengucapkan kalimat Syahadat di hadapan Abu Bakar.

Nabi Ibrahim as. sejak kecil telah berada di lingkungan orang-orang kafir. Barangkali itulah yang menjadi penyebab beliau sedikit anti pada mereka.

Ketika ia berdoa, orang-orang yang kafir tidak disertakan dalam doanya. “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, „Tuhan Pemeliharaku, jadikanlah negeri ini (negeri yang) aman sentosa dan anugerahilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan Hari Kemudian.” Lalu Allah berkomentar, “Dia berfirman, „Orang-orang kafir juga.‟ Aku senangkan dia sedikit, kemudian Aku paksa dia (menuju) ke azab neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal.” (Q.S. Al-Baqarah: 126)

Suatu hari, Nabi Ibrahim pernah didatangi oleh seorang tamu yang beragama Majusi. Lalu Ibrahim berkata, “Aku tidak akan menerimamu sebagai tamu, hingga kamu bersedia meninggalkan agamamu itu.” Maka orang Majusi itu pun pergi.

Kemudian Allah mewahyukan kepada Ibrahim, “Wahai Ibrahim, mengapa engkau menolak orang itu sebagai tamu sampai ia mau keluar dari agama Majusinya? Apa susahnya memberi tumpangan orang Majusi semalam saja? Kami bahkan memberinya makanan dan minuman selama tujuh puluh tahun, padahal ia kafir pada Kami.”

Maka berpagi-pagi Ibrahim mencari orang Majusi itu.

Begitu bertemu, Ibrahim meminta maaf. “Apa yang membuatmu kemarin mengusirku, dan hari ini mencariku?” Orang Majusi itu bertanya keheranan.

Ibrahim kemudian menceritakan tentang apa yang diwahyukan Allah padanya.  Orang Majusi itu tidak kuasa menahan rasa harunya dengan menitikkan air mata.

“Apakah Tuhan memperlakukanku sebaik itu padahal aku telah ingkar pada-Nya?” Ia pun meraih tangan Ibrahim dan mengucapkan kalimat Syahadat.

Cinta dan perlakuan baik adalah sesuatu yang berbeda. Dan keduanya sama-sama dapat diupayakan. Meski kalian tidak mencintai mereka, kalian masih dapat berbuat baik pada mereka.

0 Response to "Cinta Kepada Orang Kafir, Cerita Inspiratif"

Post a Comment

Berkomentarlah yang bijak dan sesuai dengan isi konten. Komentar dengan Link hidup/mati tidak akan disetujui.

(✔). Boleh berkomentar menggunakan bahasa jawa

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel