Cinta Seorang Hamba Pada Tuhannya dan Jalan Menuju Cinta-Nya

Cinta Seorang Hamba Pada Tuhannya

Sebelum Tuhan menciptakan jasad, lebih dulu Dia telah menciptakan ruh. Ketika itu, terjadi percakapan yang demikian romantis antara Tuhan dan manusia. Percakapan yang tanpa melibatkan mulut untuk pembicaraan. Percakapan yang tanpa melibatkan telinga untuk pendengaran.

Dengan lembut Tuhan berfirman, “Apakah engkau mencintaiKu?”

Kemudian manusia menjawab, “Tentu, aku mencintai-Mu.”

Ketika itu, Tuhan mencintainya, dan manusia mencintai Tuhannya. Tapi manusia telah lupa akan momen romantis itu, atau melupakannya.

Manusia telah lupa dengan pernyataan cintanya, sehingga ia melakukan banyak hal yang keluar dari garis cinta. Mereka tidak lagi menganggap-Nya sebagai Tuhan, atau tetap menganggap-Nya tapi percaya ada tuhan lain selain-Nya.

Mereka telah lupa dengan cintanya, tapi Allah tidak pernah lupa. Allah masih mencintai manusia, lalu mengirimkan para nabi untuk mengingatkan peristiwa itu. Kitab-kitab suci diturunkan pada manusia, agar manusia kembali mencintai-Nya.

Sebagian manusia telah mengingat peristiwa agung itu. Tapi Tuhan tidak memaksa semua manusia untuk mengingatnya.

Cukup ketahuilah, bahwa hal itu pernah terjadi, dan percayailah. Kemudian dengan itu, raihlah kembali cintamu pada-Nya dan cinta-Nya padamu. Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah mencintai pertemuan dengannya.”

Tidak ada kenikmatan yang nikmatnya melebihi mencintai Allah dari segalanya.  Karena itu, tidak akan seseorang mendapatkan kebahagiaan sejati, jika ia tidak menanam benih cinta pada Allah. “Dan orang-orang yang beriman sangat besar cintanya pada Allah.” (Q.S. Al-Baqarah: 165)

Syekh Abu Qasim al-Qusyairi dalam Risalah Qusyairiyah menuturkan, Cinta kepada Allah adalah suatu keadaan (ẖal) yang diperoleh seorang hamba dari hatinya. Keadaan itulah yang mengantar menuju pengagungan pada-Nya.

Mencintai dan mengutamakan-Nya melebihi siapapun, bahkan dirinya. Tiada mampu bersabar dan selalu gelisah untuk tidak memandang dan memenuhi kehendak-Nya. Tidak ia dapatkan ketenangan kecuali jika bersama-Nya.

Merasa nyaman nan tenteram setiap menyebut nama-Nya, dengan lisan maupun dalam hatinya. 

Syekh Said Ramadan al-Buthy berkata, “Cinta Allah ada dua macam. Pertama, cinta-Nya yang qadim. Kedua, cinta-Nya yang dapat kita raih melalui upaya.”

Orang yang mengaku cinta, ia akan mencari-cari tahu tentang apa saja yang disukai kekasihnya dan mencari tahu apa saja yang dibencinya.

Jika sudah ditahu, sang pecinta akan berusaha sekuat tenaga untuk melakukan apapun yang disukai kekasihnya dan meninggalkan apapun yang tidak disukainya, dalam rangka mencari cinta kepada yang dicintainya.

Bukankah sakit sekali rasanya cinta yang bertepuk sebelah tangan? Imam Syafii bersabda, “Termasuk dari petaka adalah kau mencintainya.

Dan yang kau cintai tidak mencintaimu.” Dalam Alquran, Allah telah memaparkan secara tegas siapa saja yang dicintai-Nya dan siapa saja yang tidak disukai-Nya. Orang-orang yang dicintainya antara lain adalah:

Orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang bersuci

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan Dia juga mencintai orang-orang yang bersuci.”  (Q.S. Al-Baqarah: 222)

Jika seseorang ingin dicintai Allah, hendaknya ia membersihkan diri, jasmani dan rohani. Pembersian rohani dilakukan dengan pertobatan, dan pembersian jasmani dilakukan dengan bersuci serta menghindari sesuatu yang kotor. 

Tobat adalah menyudahi dosa yang dilakukan,  menyesalinya, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi.

Jika kesalahan itu berhubungan dengan manusia, ia juga harus meminta maaf dan momohon ridanya. 

Bersuci dan menghindari sesuatu yang kotor adalah dengan tidak melakukan kegiatan yang jorok. 

Jika merujuk pada ayat di atas, sebelumnya telah ditegaskan kepada para suami, agar tidak menggauli istrinya di waktu haid, karena itu sesuatu yang kotor.

Sementara pada ayat setelahnya, seorang suami dilarang menggauli istrinya dengan memasukkan kemaluannya pada anus pasangannya, karena itu sesuatu yang kotor.

Dalam banyak ayat juga mengecam perbuatan kawin sejenis, karena itu merupakan sesuatu yang kotor.

Orang-orang yang berperang di jalan Allah

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya, dalam barisan yang teratur, seumpama suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Q.S. Al-Shaff: 4)

Jika seseorang mengetahui perbuatan yang paling dicintai Allah, dia akan melakukannya hingga mengorbankan harta, tenaga, bahkan nyawanya.

Dan Allah memberitahu kepada kita semua bahwa Dia mencintai orang-orang yang berperang dengan segenap harta, tenaga, bahkan nyawanya, di jalan Allah, di jalan agama-Nya, bukan menurut hawa nafsunya.

Mereka berperang dalam barisan yang teratur melawan musuh-musuh Allah yang diperbolehkan-Nya untuk diperangi.

Mereka itu, seumpama bangunan yang tersusun kokoh. Seakan-akan dalam barisan mereka terdapat dinding pagar yang dibangun dengan susunan yang rapi, lalu diperkuat, hingga tak sesuatu pun dapat menerobosnya. Bangunan yang tersusun kokoh juga dapat dipahami dengan persatuan.

Dari sana pula kemudian dalam hukum agama, peperangan dengan berjalan kaki, lebih besar pahalanya daripada yang berkendara, sebab dengan berjalan kaki lebih mudah untuk membentuk barisan yang tersusun kokoh.

Demikian pula dalam salat, kita diperintahkan untuk merapatkan barisan sebagaimana rapatnya barisan dalam peperangan. Begitu pula dalam kehidupan bermasyarakat, jika persatuan lebih diutamakan, niscaya tidak akan ada yang dapat menceraiberaikan apa yang ada pada dinding yang tersusun kokoh itu.

Orang-orang yang bersabar

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.”(Q.S. Al-Tawbah: 4) Jika seseorang ingin dicintai Allah, maka hendaknya ia masuk pada golongan orang-orang yang bertakwa.  Takwa adalah menghindar.

Yakni menghindari segala kegiatan yang mengundang murka Allah. Itu sebabnya, di satu ayat dikatakan Ittaqū Allāh, di ayat yang lain dikatakan Ittaqū al-Nār.

Keduanya memiliki makna yang sama, menghindar dari Allah, artinya menghindar dari neraka-Nya.  Allah tidak memaksa seseorang untuk bertakwa hingga keluar dari batas kemampuannya. “Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (Q.S. Al-Taghābun: 16)

Tentu, kita telah sama-sama tahu, bahwa semampu jauh berbeda dengan semau. Bertakwalah semampu kalian, bukan semau kalian. “Bertakwalah di mana saja kalian berada.” Begitulah sabda Rasulullah saw.

Tapi beliau tahu, bahwa bertakwa bukanlah hal yang mudah. Jika seseorang telah tergelincir dari ketakwaannya, ada jalan keluar yang dapat ditempuhnya. “Dan ikutilah perbuatan buruk kalian dengan perbuatan baik.

Karena perbuatan baik dapat menghapus dosa perbuatan buruk. Serta bergaullah dengan orang-orang dengan budi pekerti yang luhur.”

Orang-orang yang bertawakal

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Q.S. Ali „Imrān: 159) 

Jika seseorang menginginkan Allah mencintainya, maka hendaknya ia bertawakal, yakni berpasrah kepada Allah.

Menurut banyak ulama, tawakal bukanlah pasrah tanpa usaha. Tawakal adalah anggota badannya bekerja semaksimal mungkin, lalu hatinya yang berpasrah.

Tawakal adalah anggota badan kita mencangkuli tanah, atau nggaru, atau menraktornya, menabur benih yang terbaik, mengairinya, memupuknya, mencabuti rumput-rumput yang tumbuh bersamanya, mengusir hama-hamanya, dan seterusnya,  lalu hati kita berkata, “Kami telah menjalankan sistem yang telah Engkau tetapkan, tapi ada yang lebih tinggi dari sebab musabab, maka kami pasrahkan semua itu pada-Mu, ya Allah.”

Jadi, tawakal adalah mempekerjakan anggota badan dan memasrahkan hasilnya. Jika seseorang hanya pasrah tanpa usaha, maka yang demikian itu adalah kemalasan.

Ia adalah ketawakalan yang dusta. Orang yang pasrah tanpa usaha laksana orang yang di hadapannya tersaji begitu banyak makanan, dan berharap ia kenyang tanpa memasukkan makanan itu ke mulutnya.

Orang-orang yang adil

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil.” (Q.S. Al-Māidah: 
42) 

Jika seseorang menginginkan Allah mencintainya, hendaknya ia menjadi orangorang yang berbuat adil.

Orang yang berbuat adil adalah orang yang memerangi ketidakseimbangan, sehingga manusia kembali selaras dengan alam raya. Apa yang ada di alam raya ini, semuanya beredar dengan sangat konsisten.  

Lihatlah alam raya ini! Matahari beredar pada garis edarnya secara amat teratur sejak penciptaannya hingga kini. Bulan pun demikian.

Dia telah menetapkan kadar dan sistem peredarannya di posisi-posisi tertentu mulai dari bentuk sabit, purnama, hingga kembali menjadi bagaikan tandan yang tua. Matahari tidak akan dapat mendahului bulan.

Dan malam juga tidak dapat mendahului siang. Masing-masing pada garis edarnya terusmenerus.  

Setelah kamu tahu semua itu, setelah Tuhan menunjukkan padamu bahwa matahari dan bulan beredar menurut perhitungan yang sangat sempurna, tumbuh-tumbuhan dan pepohonan keduanya tunduk pada ketentuan Allah, dan Dia telah meninggikan langit serta meletakkan neraca, maka janganlah kamu melampaui batas dalam keadilan dan keseimbangan.

Jika dengan keseimbangan alam raya bisa konsisten, maka apabila engkau menghendaki gerak hidupmu konsisten, bersikaplah yang adil dalam menghukumi sesuatu, dengan aturan Allah, bukan nafsumu.

Orang-orang yang berbuat ihsan

 “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berihsan.” (Q.S. Al-Baqarah: 
195)

Saat Rasulullah saw. diuji oleh Jibril as. dengan tiga pertanyaan, salah satunya adalah pertanyaan tentang ihsan.

Rasulullah saw. menjawab, “Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Atau, jika engkau tidak sanggup melihat-Nya, maka Dia yang melihatmu.” Derajat ihsan berada di atas keadilan.

Adil adalah melaksanakan perintah, meninggalkan larangan, memperbaiki kesalahan, dan berserawung pada manusia lain sesuai hak-hak yang boleh ditunaikannya; membalas kebaikan dengan kebaikan yang sama, dan membalas keburukan dengan keburukan yang sama.

Itulah keadilan. Sementara ihsan lebih dari itu. Ia adalah melaksanakan melebihi dari yang telah diperintahkan Allah dalam pentaklifan. Ia tidak terbatas.

Jangkauannya sangat luas. Ia memberikan kebaikan yang lebih besar dari orang yang berbuat baik kepadanya. Tetap berbuat baik kepada siapa yang buruk kepadanya. Menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongannya, bahkan ia mencari mereka yang butuh pertolongan.

Ia berbuat baik kepada keluarga dan orang lain seperti ia berbuat baik pada dirinya sendiri.  Di antara tanda-tanda orang bertakwa yang dijanjikan surga oleh Tuhan adalah mereka yang berihsan. “(Orang yang bertakwa adalah) mereka yang berinfak di waktu lapang maupun sempit. Yang mampu menahan amarahnya. Yang memaafkan selainnya. Allah mencintai orang-orang yang berihsan.”

Yakni, mereka yang berinfak di waktu lapang maupun sempit, menolong antar sesama dengan ikhlas. 

Yang mampu menahan amarahnya, agar persaudaraan tetap terjaga. Ia bahkan rela mengorbankan dirinya untuk kepentingan bersama.

Memendam sesuatu yang sangat sulit untuk tidak dilampiaskan, yaitu amarah. Karena mereka menyadari, setiap manusia pasti pernah salah.

Dan kemarahan bukanlah satu-satunya jalan untuk menghentikan kesalahan. Karena pelampiasan marah juga kesalahan. Jika keadilan berposisi di antara cinta dan benci.

Maka cinta itulah ihsan. Ia ingin agar orang-orang sama-sama merasa bahagia dan mendapat kebahagiaan.

Dan cintanya bukan hanya tentang rasa, tapi juga ditunjukkan melalui antara lain menahan amarah. Merasa gembira saat yang lain mendapat kebahagiaan.

Yang memaafkan selainnya, keluarganya, teman-temannya, yang berbuat tidak sesuai yang disenanginya. Ia menahan dari mencela dan menghina.

Saat dicaci dan diumpat, ia tidak membalasnya. Karena betapapun, orang yang memendam amarah dan tidak mau memaafkan, akan menderita hidupnya, matinya, dan hidup setelah kematiannya. Allah mencintai mereka, orang-orang yang berihsan itu. 
Sementara yang harus dihindari oleh orang yang mengaku mencintai Allah adalah dengan menghindari apa saja yang tidak dicintai-Nya. Beruntung, Dia bahkan dengan sangat tegas memberitahu siapa saja yang tidak disukai-Nya. Antara lain:

Orang-orang yang kafir

“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang kafir.” (Q.S. Al-Rūm: 45) Jika seseorang berharap cinta Allah, maka hendaknya ia tidak menjadi bagian dari orang-orang kafir.

Kafir adalah nama yang disematkan pada orang-orang yang tidak memiliki keimanan. Boleh jadi ia terlihat seakan-akan beriman, tapi dalam hatinya ia ingkar (munafik).

Atau dia ingkar setelah beriman (murtad). Atau dia mempercayai adanya dua tuhan atau lebih (musyrik).

Atau dia beragama pada agama yang sudah tiada berlaku lagi, seperti beragama Yahudi atau Nasrani (kitabi). Atau dia sama sekali tidak memercayai wujud Tuhan (ateis).

Atau dia Islam, tapi akidahnya menyimpang dari ajaran Islam yang benar (zindik).  Ulama juga banyak menyebutkan bahwa kafir itu beragam. Apa yang tersebut di atas adalah kafir besar. 

Sehingga, ada juga yang disebut dengan kafir kecil, yang pelakunya bisa jadi adalah orang Islam, seperti orang yang tidak mensyukuri nikmat, orang yang mengadu domba, orang yang memutus silaturrahim, menyetubuhi istri saat haid, menyetubuhi istri melalui dubur, dan lain sebagainya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang kafir, dalam jenis apapun.

Orang-orang yang melampaui batas

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Q.S. Al-Baqarah: 190) Orang yang berharap cinta Allah, hendaknya menghindarkan diri dari kegiatan yang melampaui batas. Dalam segala hal, di antaranya adalah dalam peperangan.

Memerangi sesama muslim adalah sikap yang berlebih-lebihan. Jangan hanya karena berbeda pandangan, lalu menganggap kelompok lain yang sebenarnya sesama muslim, sebagai kafir, lalu memeranginya.

Memerangi wanita-wanita, anak-anak, dan orangorang yang telah lanjut usia, juga termasuk sikap yang melampaui batas, meskipun mereka adalah keluarga dari orang-orang yang boleh diperangi. 

Memulai peperangan pun termasuk perbuatan yang melampuai batas.

Peperangan yang diperbolehkan, bahkan diperintahkan oleh Allah, adalah berperang untuk membela kehormatan diri dan agama, bukan untuk memulai permusuhan.

Hindarilah segala perkara yang melampaui batas, karena Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggabanggakan diri.” (Q.S. Al-Nisā‟: 36) 

Jika seseorang menginginkan cinta dari Allah, maka hindarilah sikap sombong dan terlalu membanggakan diri, “merasa” apa yang ia dapatkan berasal dari dirinya sendiri, sehingga ia tidak mau bersyukur atas kenikmatan yang Allah berikan padanya, dan tidak bersedia memberikan hak-hak orang lain yang ada pada hartanya.

Atau mau memberi, tapi sembari menyakiti. Orang yang sombong bukanlah orang yang indah dalam berbusana, bukan orang yang terseret-seret sarungnya, bukan orang yang tegap saat berjalan, atau tinggi dalam perkataan.

Tapi orang yang sombong adalah orang yang dalam hatinya terdapat rasa keangkuhan. Bahkan mereka yang berpakaian kumuh, bercelana cingkrang, berjenggot panjang, jika dalam hatinya ada perasaan bangga, maka itulah kesombongan.

Berkali-kali dalam Alquran Allah mengingatkan tentang awal mula penciptaan manusia. Yaitu dari sperma.

Dari tetes cairan yang teramat menjijikkan. Allah juga berkali-kali mengingatkan tentang sebelum itu semua. Sebelum itu semua, kita tidak pernah ada. Apa yang layak disombongkan?

Orang-orang yang berkhianat

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” (Q.S. AlAnfāl: 58)

Jika seseorang berharap cinta dari Allah, maka jangan menjadi orang yang berkhianat. Setidaknya ada tiga hal yang tidak ada perbedaan di antara orang muslim maupun non muslim. Pertama, siapa yang berjanji, maka tepatilah janjimu.

Kedua, jika antara kamu dan dia ada persaudaraan, maka jalinlah. Ketiga, jika diamanatkan sesuatu padamu, tunaikanlah amanat itu.

Manusia sudah terlanjur percaya diri hendak memikul beban yang begitu berat berupa amanat, yang bahkan langit, bumi, dan gunung-gunung pun merasa tidak sanggup memikulnya. Maka, mau tidak mau, manusia harus menunaikannya.

Tidak ada tawarmenawar. Amanat adalah harga mati. Kecuali amanat keburukan, maka Allah memerintahkan agar mengkhianatinya, walau dalam amanat tersebut telah terbalut sumpah atas nama Allah.

Orang-orang yang berbuat kerusakan


“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S. Al-Maidah: 64) Jika seseorang menginginkan mendapat cinta dari Allah, maka hindarilah berbuat kerusakan: merusak benda-benda, merusak lingkungan, merusak persaudaraan, merusak moral, apalagi merusak akidah.

Kata “berbuat kerusakan” dalam Alquran, sering disandingkan dengan “di bumi”, seperti dalam firman-Nya:

“Dan janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan-Nya dengan baik.” (Q.S. Al-A‟rāf: 56), “Atau berbuat kerusakan di bumi.” (Q.S. Al-Māidah: 32),  dan lain sebagainya. Ini menunjukkan bahwa berbuat kerusakan itu sangat cepat menyebar, sampai-sampai Alquran melukiskannya sebagai “di bumi”, bukan di desa, di kabupaten, di kota, juga bukan di negara, tapi di bumi.

Allah telah menciptakan alam raya dan apa yang ada di dalamnya ini dengan sangat baik, dalam keadaan yang teramat baik.

Dia menciptakan alam ini dengan hukum Allah, maka berbuatlah sesuai hukum yang telah ditetapkan Allah. Jika kau melanggarnya, maka kau telah berbuat kerusakan.

Jika kita tidak mampu meningkatkan kebaikan, setidaknya kita rawat kebaikan agar tetap baik. Jika tidak mampu juga, sekurang-kurangnya jangan sampai kita berbuat kerusakan padanya.

Orang-orang yang berlebihan

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S. Al-An‟ām: 141) A‟raf 31 Berlebih-lebihan adalah membelanjakan sesuatu melebihi kebutuhan, atau mengambil sesuatu yang bukan haknya. Dalam segala hal, berlebih-lebihan tidaklah baik.

Allah memperbolehkan makan dan minum. Karena itu merupakan kebutuhan makhluk hidup. Yang dilarang adalah berlebih-lebihan. Masih terus makan dan minum walau sudah kenyang, atau makan dan minum dalam kesombongan, atau makan dan minum dari makanan atau minuman yang haram. “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan.” (Q.S. Al-A‟rāf: 31)

Makan dan minum terlalu banyak, hingga melebihi kapasitas perutnya, dilarang karena ia membuat orang menjadi malas dan tidak produktif, juga  dapat mengundang demikian banyak penyakit.

Makan dan minum tidak banyak, tapi di tempat yang memiliki harga melangit, maka jika itu dalam rangka kesombongan, juga termasuk berlebih-lebihan.

Makan dan minum tidak banyak, juga bukan pada yang harganya selangit, tapi makanan dan minuman yang masuk dalam perutnya adalah makanan dan minuman yang diharamkan, jika bukan dalam keadaan darurat, maka itu juga termasuk berlebih-lebihan.

Atau makanan dan minuman yang dihasilkan dari uang haram, maka itu juga termasuk berlebih-lebihan. Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

Rasulullah saw. bersabda, “Makanlah, minumlah, bersedekahlah, berpakaianlah, dengan tidak sombong dan berlebih-lebihan.

Sesugguhnya Allah senang melihat pengaruh kenikmatan pada hamba-Nya.” Sayyidah Aisyah, istri Rasulullah saw., pernah bercerita, “Aku pernah makan dalam sehari dua kali, dan Nabi melihatku. Lalu beliau bersabda, „Wahai Aisyah, apakah engkau tidak menyukai apapun selain menyibukkan diri dengan mulutmu? Makan dua kali dalam sehari itu termasuk berlebih-lebihan.

Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” Rasulullah saw. juga pernah bersabda, “Termasuk dari berlebih-lebihan adalah makan apa saja yang kauinginkan.”

Perlu digarisbawahi, bahwa perbelanjaan yang dilakukan di jalan Allah, seperti memberi bantuan kepada fakir miskin, janda-janda telantar, yatim piatu, pembangunan tempat peribadatan, dan segala jenis donasi untuk kegiatan yang baik-baik, sebanyak apapun, tidaklah dinilai berlebih-lebihan.

Tapi jika perbelanjaan dilakukan dalam rangka keburukan, membantu kemaksiatan, maka sesedikit apapun, sudah termasuk berlebihlebihan. Tidak menunaikan zakat, mengambil jatah orang lain yang berada dalam hartanya juga termasuk berlebihan.

Segala jenis aktivitas yang tidak direstui oleh Allah adalah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihlebihan.

Orang-orang yang zalim

“Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Q.S. Ali „Imrān: 140) Zalim (Dzulm) adalah kegelapan. Ilmu adalah cahaya, dan kebodohan adalah kegelapan. Iman adalah cahaya, dan kekafiran adalah kegelapan.

Dari sana, kemudian zalim didefinisikan sebagai: meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Kezaliman bermacam-macam. Secara garis besar, kezaliman ada tiga macam. Kezaliman pada diri sendiri. Kezaliman antar sesama manusia.

Dan kezaliman kepada Tuhan, dan inilah puncak dari kezaliman. “Sesungguhnya menyekutukan Allah adalah kezaliman yang agung.” (Q.S. Luqmān: 13)

Namun, betapapun seseorang menzalimi Tuhannya, sesungguhnya ia hanya menzalimi dirinya sendiri. “Mereka tidak menzalimi Kami, tetapi kepada diri mereka sendiri mereka menzalimi.” (Q.S. Al-Baqarah: 57)

Jauhilah segala jenis kezaliman, terlebih kezaliman antara hamba dengan Tuhan.

Siapa yang beriman dan tidak mencampuraduknya dengan kezaliman, maka ia akan mendapat rasa aman dan tergolong dalam kelompok orang-orang yang mendapat bimbingan Tuhan berikut cinta-Nya.

0 Response to "Cinta Seorang Hamba Pada Tuhannya dan Jalan Menuju Cinta-Nya"

Post a Comment

Berkomentarlah yang bijak dan sesuai dengan isi konten. Komentar dengan Link hidup/mati tidak akan disetujui.

(✔). Boleh berkomentar menggunakan bahasa jawa

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel