Tak Ada Kenikmatan dunia Melebihi Nikmatnya pagi hari

Nikmatnya pagi hari

"Saya tidak menduga ternyata kamu punya rumah yang sesungguhnya. Dengan penampilanmu yang seperti ini, tadinya saya menyangka rumah yang kamu maksud adalah rumah majazi. Yang beratapkan langit, berlantaikan bumi, dan mengambil cahaya dari pantulan rembulan."

Renjana tidak menggubris apa yang saya bicarakan. Ia berdiri mematung beberapa detik sebelum mengetuk pintu rumahnya.

Setelah beberapa kali ketukan, wanita paruh baya berbusana mukenah membukakan pintu. Ibunya. Renjani menyalami tangan ibunya. Saya juga, tapi wanita itu hanya mengatupkan dua telapak tangannya di depan dada. 

"Mak, ini Fala, teman Jana. Malam ini dia mau ..."

"Numpang salat, Mak," sahut saya memotong. Saya tidak mungkin menginap di rumah ini. Bisa jadi fitnah nanti.

Saya juga ragu Renjana berani bilang pada ibunya yang terlalu salehah itu, bahwa teman laki-lakinya yang baru ia kenal akan menginap di rumahnya.

Pemotongan saya tak diindahkannya. Dugaan saya juga salah. Renjana melanjutkan perkataannya yang tadi, tanpa ada gelagat ragu. "Malam ini dia mau nginap di sini, Mak. Dia ketinggalan kereta."

Wanita tua itu menatap mata saya. Seperti ada yang sedang dibaca. "Diajak masuk, Jan. Suruh mandi. Terus ajak makan!" katanya pada Renjana kemudian.

Lalu wanita itu masuk ditelan pintu kamarnya. Setengah berbisik, saya bilang pada Renjana, "Kalau di rumahmu ada makan, kenapa tadi kamu mau saya ajak makan? Harusnya tadi duitnya bisa buat beli rokok sebungkus. Kan, jadinya cuma dapat setengah bungkus."

"Ya baguslah. Kalau kamu beli sebungkus, yang jatuh juga sebungkus. Untung kamu beli setengah, jadi yang jatuh cuma setengah, kan?"

Saya merogoh saku. Asu! Sembilan batang rokok saya lenyap.

"Tadi, aku melihatnya jatuh." Renjani menimpali.

"Kenapa nggak bilang?" 

Renjana tak menggubris. Ia masuk kamar lalu keluar lagi melemparkan sebuah handuk pada saya. Setelah menunjukkan letak kamar mandi, ia kembali ke kamarnya.

Seusai saya mandi, Renjana sudah menunggu di ruang tamu, menggelar dua sajadah. Penampilan berantakannya beberapa menit lalu, kini sudah berubah serupa bidadari.

Tapi, saya tidak melihatnya. Pandangan saya hancur oleh malam di luar sana. Tidak jauh dari tempat ini, gadis yang terlampau saya cintai, dibeli oleh pria tua dengan mahar yang tidak seberapa. Gadis yang teramat suci, akan segera ternodai di malam pertamanya.

Hingga tujuh malam berikutnya, ia hanya akan menjadi pelampiasan nafsu birahi. Malam-malam berikutnya, pria tua itu pasti bosan, lalu mencari yang lain lagi. Pada akhirnya, Nila hanya akan menjadi koleksi sang kolektor istri.

"Fal, ayo jamaah!"

"Jadi, kamu salat toh, Mbak?"

Emaknya keluar. Menggelar sajadah di samping putrinya. Sepanjang sembahyang, kekhusyukan saya terganggu dengan isak tangis dua wanita di belakang saya. Air mata saya turut mengucur. Saya seperti mendengar Nila sedang menangis di sana.

***

Ruang makan tanpa kursi dan meja. Nasi putih dan sayur bayam tanpa rasa. Saya memakannya. 

Bukan karena pura-pura nyacap untuk menghormati tuan rumah. Saya memang lapar.

Saya berserdawa setelah melahap porsi makan yang tidak sedikit. Tradisi di desa saya, menganjurkan untuk mengeraskan serdawa setelah dijamu makanan.

Sebagai pertanda yang bersangkutan menyukai dengan yang disuguhkan. Semoga tradisi di sini tak jauh beda.

"Nak Fala ini dari mana, mau ke mana?" Ibu Renjana bertanya.

"Dari Pesantren al-Bayan, Mak ...."

"Stop!" Renjana menyela. "Sebaiknya kamu memanggil dengan panggilan yang lain. Panggilan itu khusus dariku."

Saya menghela napas. "Saya dari Pesantren al-Bayan, Bu. Mau pulang ke Gresik. Tapi naik keretanya ke Surabaya. Nanti dari Surabaya baru naik bus ke Gresik."

"Owalah, anak pesantren, toh. Pantesan, suara Nak Fala bagus banget. Bacaan Alquran Nak Fala, Ibu suka."

"Tidak semua yang dari pesantren bacaan Alqurannya sebagus itu, Bu. Dan, yang tadi itu belum apa-apa. Saya sebenarnya bisa lebih merdu dari itu."

Renjana menyahut, "Mak, tolong nasihati anak ini. Beritahu bagaimana hukumnya memuji diri sendiri.

Kelihatan tuh, di pesantren nggak pernah ngaji. Palingan, aktivitasnya cuma tidur doang."

Emaknya tersenyum. Saya tersenyum. Renjana cemberut. Tapi saya tahu, hatinya pasti tersenyum.
Saya seperti tanah yang gersang.

Lalu hujan turun membawa kegembiraan. Menumbuhkan sebuah perasaan. Perasaan untuk ingin begini saja. Terus begini. Selamanya. 

"Nak Fala tidur di kamar Jana saja. Biar Jana tidur di kamar Ibu."

***

Remang fajar memberi sedikit silauan melalui jendela yang terbuka. Saat hendak mengambil air wudu, saya menyaksikan dua wanita itu sudah mempersiapkan peperangan melawan kejamnya kehidupan.

Melihat saya, Ibu Renjana berkata pada putrinya. "Nak Fala sudah bangun. Kamu ikut salat lagi, kan?"

Renjana memandang ke arah saya. Tanpa menjawab pertanyaan ibunya, ia membolak-balik apa yang ada di wajan penggorengan, kemudian meniriskannya. Lalu mematikan kompor dan beranjak ke kamarnya.

Belum sepenuhnya benderang warna dunia, Renjana menyodorkan sebuah ukulele pada saya. "Kamu bisa memainkannya?"

Saya mengangguk. "Tapi saya cuma bisa lagu dangdut."

"Terserah lagu apapun yang kamu bisa. Jangan sampai rusak ukulelenya. Itu hadiah ulang tahunku dari Cakrawala. Pagi ini, agar tidak memakan banyak waktu, kita bagi tugas. Aku menghabiskan dagangan gorengan ini, dan kamu mengamen."

"Mengamen?" 

"Atau kamu yang jualan, dan aku yang mengamen?"

"Apa tidak bisa bareng-bareng saja? Barangkali, jualan sambil ngamen, gitu?"

Tak ada kenikmatan dunia melebihi nikmatnya pagi hari. Di pagi, manusia seperti terlahir kembali.

Suci. Itu sebabnya, udaranya segar sekali, sinar mentarinya menghangatkan, embun pada hehijauan menyejukkan.

Karena pada saat itu, dosa-dosa belum bertebaran. Karena itu pula barangkali, malaikat pembagi rezeki lebih suka membagikan rezeki saat pagi.

Sinar matahari sesungguhnya tidaklah panas. Siang hari terasa panas bukanlah karena sinarnya. Tapi karena dosa-dosa manusia yang mulai menyebar ke mana-mana. Seperti api yang melantrak pada kayu-kayu dan dedaunan yang kering.

Di stasiun, sambil Renjana jualan, saya mendendangkan lagu. Katanya, selama berjualan, ini yang paling cepat habisnya.

"Aku menyisakan dua gorengan buat kamu. Kamu pasti biasa sarapan, kan? Makanlah!" Renjana menyodorkan dua bakwan.

"Kamu?"

"Aku tidak biasa sarapan."

Sambil saya mengunyah gorengan, Renjana menghitung penghasilannya. "Tiket kereta ke Surabaya berapa?"

"Tiga puluh ribu."

"Dari Surabaya ke Gresik?"

"Lima ribu."

"Ini tiga puluh lima ribu buat ongkos perjalananmu. Ini sepuluh ribu gantinya yang semalam." Renjana menyerahkan beberapa recehan.

"Tapi, ini kan hasil jualan gorengan, Mbak. Kita bahkan belum mengamen."

"Biar aku saja yang ngamen. Pulanglah!"

Bukan itu masalahnya. Saya masih ingin di sini, Renjana. Saya masih ingin bersamamu, berkawan denganmu, berlama-lama bareng kamu. Saya merasa sangat nyaman saat ada di dekatmu. "Saya bantu kamu ngamen. Setelah itu saya akan pulang." Sungguh, kalimat terakhir itu sama sekali tidak ingin saya lontarkan.

***

Saya memainkan ukulele, dan kini Renjani yang bernyanyi. Sangat syahdu. Sebagai pengamen, ia terlalu berlebihan dalam penghayatan.

Baru satu lagu yang kami mainkan, baru seribu rupiah yang kami dapatkan, tiga pemuda menghampiri kami. Tatapan mata mereka sangat tidak nyaman di penglihatan.

"Fal, kita pergi dari sini." Renjana menarik tangan saya.

"Mau ke mana, Ren? Saprul menunggumu." Satu pemuda di antara mereka menggenggam tangan Renjana yang satunya.

"Mas, bisa tolong lepaskan tangan pacar saya?" kata saya pada pria yang sedang menggenggam tangan Renjana. 

Renjana melepaskan genggamannya di tangan saya, juga menepis genggaman pria itu dari tangannya. Sejenak matanya menatap mata saya.

Hanya sekitar dua detik. Lalu ia pergi sebelum sempat saya berhasil menafsirkan tatapan tajamnya barusan.

Saya mencoba mengejar. Tapi seseorang menarik baju saya dari belakang. Refleks, saya berputar dan memukul kepalanya dengan ukulele yang ada di tangan saya. Hingga kepalanya berdarah, dan ukulele itu patah.

Dua kawannya tidak terima. Mereka melayangkan pukulan bersamaan. Tapi, kepalan saya lebih cepat menghantam dua kepala itu dengan dua jotosan.

Mereka kembali menyerang. Saya melompat berputar dan masing-masing mendapatkan jatah tumit dari saya, tepat di pelipis mereka.

Jamput. Rupanya mereka berkomplot. Saya bahkan tidak sempat menghitung jumlahnya. Saya juga tidak tahu apakah saya bisa mengatasinya. Selama ini, dalam latihan beladiri yang saya ikuti, hanya diajarkan melawan tidak lebih dari tiga lawan.

Saya mengembuskan napas pelan-pelan. Meraih titik relaks yang sempurna. Kaki saya merenggang, memasang kuda-kuda. Tapi, melihat jumlah mereka yang terlalu banyak, sedangkan saya hanya seorang diri, kepercayaan diri saya perlahan melenyap. Kabur pun tak mungkin. Mereka telah mendinding.

Delapan orang maju menyerbu. Saya masih bertahan dalam kuda-kuda. Tatkala mereka telah dekat di muka, naiklah darah saya menuju otak, mengomando segala pancaindra untuk bergerak. Rasa belas kasih harus saya singkirkan dulu saat ini.

Dengan kekuatan penuh, saya bergerak cepat. Secara bersamaan, saya mengongkek dua kepala. Dua lainnya, saya patahkan tangannya. Dua berikutnya, saya tendang wajahnya. Dua terakhir, saya sudah pekiwuh.

Gerakan saya kalah cepat, tenaga saya mulai terkikis. Di posisi ini, saya lebih banyak bertahan daripada menyerang. Hingga mereka tampak mulai letih, saya sodok tenggorokan salah satu di antara keduanya dengan pergelangan tangan. Satunya lagi, saya pukul bertubi-tubi di bagian dada.

Delapan orang berhasil saya lumpuhkan. Dan, kini saya sudah bisa menghitung sisanya. Sepuluh orang. Permainan baru dimulai.

Mereka masih melingkar mengepung saya. Seseorang di antaranya berkata, "Hanya jangan mendekati Ren, kamu akan kulepaskan." Mungkin, inilah manusia yang bernama Saprul itu.

"Ada hubungan apa kamu dengan Renjana?" Saya bertanya.

"Saya adalah calon suaminya."

Saya tertawa. "Sepertinya Anda harus beli cermin dulu. Agar Anda dapat menyaksikan, betapa telah mengiblis mukamu itu. Tidak pantas rai iblismu itu mendapatkan Renjana."

Senyum sinis menyemburat di bibir pria berotot itu. Ia melirik pria yang tak kalah berotot di sampingnya. Setelah Saprul mengangkat dagu, pria di sampingnya maju.

Asu! Matanya tidak terbaca. Saya harus benar-benar siap menghadapi manusia ini. Saya melompat, menendang wajahnya. Dan, manusia itu tidak kenapa-kenapa. Tendangan saya baginya cuma seperti angin sepoi yang menerpa.

Saya meninju dadanya. Berkali-kali. Dan, pria itu bahkan tidak mengeluarkan ekspresi. Gilirannya melayangkan pukulan. Dua pukulan berhasil saya tangkis. Pukulan ketiga membuat saya terpelanting menabrak manusia dinding. Saya jatuh tertelungkup mencium tanah.

Satu di antara sembilan manusia yang melingkar mengubengi saya, menginjakkan kaki pada kepala saya yang menempel tanah.

Begitu saya hendak menggerakkan tangan untuk menyingkirkan kaki itu, dua orang secara bersamaan mencengkeram tangan saya, memutarnya ke belakang, hingga terdengar oleh telinga saya bunyi gemeretak tulangnya.

Lalu, entah berapa kaki secara bersamaan menyerbu sekujur tubuh saya. Mereka berhenti saat ada perintah berhenti.

Saya merasakan darah mengalir dari hidung dan mulut. Orang yang tadi mengaku sebagai calon suami Renjana, menjambak rambut saya. Mengangkat kepala saya.

Wajah saya dihadapkan dengan wajahnya. "Ini hanya pelajaran kecil untukmu. Kami bisa berbuat lebih kejam lagi."

Saya sudah sama sekali tidak punya tenaga. Jangankan untuk melawan, berdiri pun saya tak mampu. Jangankan untuk berdiri, merangkak pun saya tak bisa. Jangankan untuk merangkak, bergerak saja saya tak kuasa.

Saya merasa ajal sudah demikian dekat. Tapi, seorang guru pernah mengajarkan bagaimana caranya melawan kematian. "Caranya, bacalah Ayat Kursi tiga kali. Malaikat maut tidak akan mampu mendekati."

Saya membaca. Belum dapat separuh pertama, ada sesuatu yang menghantam kepala saya. Lalu, semuanya menjadi gelap.

0 Response to "Tak Ada Kenikmatan dunia Melebihi Nikmatnya pagi hari"

Post a Comment

Tinggalkan Komentar Anda

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel