Ketika Santriwati Terserang Virus Cinta

Terserang Virus Cinta

Bola mata yang indah itu basah. Tetes demi tetes membanjiri pipi lembutnya. Anggun sendiri tidak tahu pasti, air mata apa yang ia tumpahkan. Ia berharap air matanya adalah air mata pertobatan, seperti yang pernah diajarkan, tetesannya kelak, mampu memadamkan api neraka.

Tiga tahun berlalu, baru kali ini ia memiliki waktu untuk bernostalgia dengan kenangan. Kenangan yang membingungkan sebetulnya, di satu sisi ingin ia tangisi, tapi dalam sisi yang sama, kenangan itu  juga sayang untuk tidak ditertawakan.

Kejadian itulah yang menjadi pengantar kedewasaannya saat ini. Malam itu, Anggun berada di lantai panas persidangan Pak Yai dan Bu Nyai, pengasuh pondok pesantren tempatnya belajar agama, karena tertangkap basah berciuman dengan lelaki yang sangat Anggun cintai.

Pertemuannya dengan lelaki itu bermula oleh tatapan mata. Siapa sangka rupanya salig pandang adalah cara ampuh setan menabur bunga dengan senjata yang dinamai cinta.

Salah besar orang yang berkata, Cinta adalah kesucian.

Cinta tidak memiliki hukum. Ia tidak pernah suci dan tidak pernah najis. Orang yang merasa paham agama tidak jarang terkecoh, menganggapnya suci, dan jika terkotori, ia membasuhnya dengan tujuh kali basuhan, yang dalam salah satu basuhannya dicampur dengan debu. Setelah itu mereka merasa terbebas dari murka dan merasa seolah-olah berada dalam puncak kesucian.

Cinta juga bukan ekspresi yang dapat disandiwarakan. Cinta adalah kehidupan yang memilki aturan. Cinta adalah hukum Tuhan, yang jika tidak dipahami dengan benar, menjalankannya lebih buruk dari sekadar kutukan.

Memahami cinta tidaklah cukup hanya dengan pengetahuan agama. Anggun adalah umpama pelaku kesalahpahaman dalam mencinta.

Di luar sana, masih banyak lagi, dan tidak terhitung jumlahnya. Lelaki yang dianggapnya saleh dan mengerti agama, dan mungkin memang benar-benar mengerti agama, ternyata dia yang sebelumnya diharapkan menjadi pemimpin, malah yang menjerumuskan dalam kedurjanaan.

Memahami cinta butuh bimbingan Tuhan. Butuh gandengan tangan-Nya. Karena cinta adalah mata yang tidak memiliki penglihatan, telinga yang tidak memiliki pendengaran, hati yang tidak memiliki perasaan, dan akal yang telah terlumpuhkan.

“Saya hanya berciuman. Hanya berciuman. Tidak lebih dari itu, Bu Nyai.” Ini adalah kali pertama Anggun berani bicara lantang di hadapan dua pengasuh pesantren itu.

“Hanya? Berciuman kau bilang hanya?”

“Saya sangat menjaga tubuh saya. Tidak sedikit pun saya mengizinkan, apalagi mempersilakan Toni untuk menyentuh payudara saya.

Sementara dalam Agama, yang boleh dihukum adalah jika seorang lelaki telah memasukkan kepala penisnya ke dalam vagina perempuan, dan harus disaksikan oleh empat orang terpercaya yang benar-benar menyaksikan masuknya penis ke dalam vagina, atau karena pengetahuan pezina itu sendiri.”

“Anggun, kamu tahu, kamu sedang berbicara dengan siapa? Apakah kamu tidak sadar kalau ternyata kamu baru sedikit sekali mengerti tentang agama? Atau kamu sudah merasa yang paling pandai tentang agama? Kamu merasa sudah mengerti seluruh isi Alquran? Kamu sudah merasa membaca semua hadits dan memahaminya?”

“Saya tahu, Bu Nyai, dengan siapa saya berhadapan. Saya sedang duduk di hadapan dua orang yang telah hafal Alquran di luar kepala, juga memahaminya.

Saya sedang berada di hadapan dua orang yang telah membaca semua perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi, mulai dari balita hingga meninggal dunia, dan memahaminya. Saya tahu.”

“Lalu mengapa kau masih membantah?”

“Saya hanya membela diri, Bu Nyai.”

“Kamu bisa membela diri di hadapan kami. Tapi kamu tidak akan bisa membela diri dari panasnya api neraka.

Kamu adalah tanggung jawab kami. Orangtuamu menitipkanmu pada kami, agar kami mendidikmu untuk menjadi anak yang salehah dan mengerti agama.

Kami ikut dosa jika membiarkan anak yang berada dalam tanggung jawab kami melakukan dosa. Kamu sendiri tahu, jika kepala seorang laki-laki ditusuk dengan jarum dari besi, lebih baik baginya daripada menyentuh lawan jenisnya yang tidak halal baginya. Itu baru menyentuh, apalagi sampai berciuman.”

“Saya sendiri yang akan menanggung dosanya.”

“Orang yang bertanggung jawab atasmu, juga akan kecipratan dosanya, Anggun. Kami tidak akan menghukummu dengan merajammu, karena kamu memang tidak melakukan zina besar seperti yang kausebutkan tadi.

Tapi jangan duga perbuatanmu itu bukan termasuk perzinahan. Mendekati zina adalah perzinahan.

“Lalu, hukum dari mana, dan atas dasar apa, yang membolehkan memperlakukan pelaku ciuman dengan menyiramnya menggunakan air tinja, lalu mengaraknya dan membongkar aibnya di hadapan masa?”

“KURANG AJAR!” Pak Yai yang sejak tadi hanya diam menahan amarahnya, akhirnya diluapkan dengan umpatan yang disertai tamparan di pipi.”

Anggun tersenyum. “Lalu, kira-kira hukuman apa yang pantas untuk seorang publik figur religius yang mempunyai banyak santri, yang seharusnya menjadi panutan santri-santrinya, telah berkata kasar dan menyentuh pipi perempuan yang bukan mahramnya? Terima kasih atas ilmu agama yang telah kalian ajarkan pada saya.

Saya berharap, perlakuan ini sudah cukup sebagai hukuman. Tidak perlu lagi ditambah dengan hukuman yang tanpa disertai dasar agama.

Apalagi, dengan hukuman doa jahat, yang mendoakan ketidakberkahan ilmu saya. Malam ini juga, saya akan angkat kaki dari tempat suci ini.

Tempat suci tidaklah patut diinjak dan dihinggapi oleh perempuan najis, yang telah melakukan ciuman dengan pacarnya.”

Anggun berlalu, meninggalkan pesantren tanpa berkemas dulu.

********

Sesampainya di rumah, Anggun disambut dengan isak tangis ibunya di pojok ruangan, dan irama ritmis ayahnya bertepuk tangan.

“Luar biasa. Baru mondok dua tahun sudah berani menantang dan membentak Pak Yai dan Bu Nyai.”

“Apakah dua manusia suci itu mengadu pada Ayah?”

“DIAM!” Bentakan dan tamparan menghampiri Anggun bersamaan. 

Dalam hati Anggun bertanya-tanya, Apakah semua lelaki memang selemah itu? Tidak pernah bisa berbicara kecuali dengan kekerasan.

“Maafkan Anggun, Yah. Maafkan Anggun, Bu.”

“Kau bukan lagi anakku. Pergi dari sini!”

Anggun tertegun. Masih mengunyah kejadian yang sedang dialaminya. Model kehidupan model apa ini? Sebegitu berpengaruhkah sinetron kacangan yang beredar di televisi bagi kehidupan manusia?

Anggun menatap ibunya yang masih meringkuk dan meringkik di pojok ruangan. Berharap ibunya menjadi pembela. Tapi, hanya isak tangis yang ia suguhkan sejak sambutan kepulangannya, dan sepertinya itu isak tangis itu juga yang akan menjadi bekal kepergiannya.

Anggun tersenyum, mengharamkan matanya untuk meneteskan air mata. Hanya berbekal baju di badan, Anggun menenggelamkan diri dalam gelap malam. Dalam hati ia berharap turun hujan, agar nian sempurna sinetron tak bermutu ini.

Peristiwa itulah yang mengajarkan gadis empat belas tahun ini menjadi benar-benar dewasa. Ia memilih untuk tidak akan pernah menuntut Toni agar menikahinya. Juga tidak akan mengemis pengakuan anak kepada dua orangtuanya.


Jangan Lupa Baca Juga: Perempuan Kuat Dan Perempuan Yang Lemah

Anggun lalu menjalani kehidupannya dengan menatap mantap ke depan. Ia tidak pernah membiarkan keterpurukan menggerogoti dirinya. Dan akhirnya, ia mencapai prestasi yang gemilang: menjadi pelacur termahal di kota.

Dua tahun berlalu, baru kali ini ia mengizinkan dirinya menangis. Tangisannya malam ini, ia niatkan untuk menyudahi kisahnya. Betapapun melenakannya pencapaian yang ia raih, Tuhan tetap menjadi prioritas utama baginya.

Sajad membuang kopi hitam dingin itu beserta gelasnya, dan merantau ke kota untuk memperpanjang sumbu hidupnya, mempercantik takdirnya.

Aneka pekerjaan menyambut mesrah kehadiran Sajad. Dengan penuh kegigihan, ia lakoni apa yang bisa dilakoninya.

Sebelum subuh ia sudah membuka mata, menggelar sajadah bersimpuh mengharap berkah. Setelah subuh sebelum mentari membuka mata, ia sudah turun ke jalan bersama anak jalanan lainnya, menjual koran dan makanan ringan, tapi pantang baginya menjual kesedihan.

Siang harinya ia menjadi babu cuci piring di rumah makan. Dan malam harinya, ia menjadi tukang bersih-bersih di kuburan.

Diam-diam takdir memperhatikan, ia tidak tega terlalu lama menyimpan kasih sayang dan belas kasihan. Kehidupan mengirimkannya hartawan, lalu menggerakkan hatinya untuk memungut Sajad sebagai harapan.

Hartawan itu bernama Hartono, namanya cukup matching dengan takdirnya. Namun, keberhasilannya mengumpulkan harta benda, tidak dapat membuatnya bahagia. Pernikahan yang dirajut sejak lama tidak juga membuahkan putra.

Hartono mengangkat Sajad sebagai anak angkatnya. Sajad begitu dimuliakan dan diistimewakannya.

Disekolahkan, dikuliahkan, dan dicukupkan segala kebutuhannya.

Sajad tumbuh dewasa dengan asupan kasih sayang seperti yang semua orang harapkan. Tapi, tidak semua yang dijalani manusia selalu sama dengan yang diinginkan.

Seminggu setelah wisuda strata satunya terselesaikan, ayah dan ibu angkatnya pergi meninggalkannya menghadap Tuhan secara bersamaan.

Seluruh harta telah diwariskan pada Sajad. Tapi bukan itu yang menjadi sebab ia seperti tidak sedang kehilangan.

Kehilangan sudah sering dialaminya, sebisa mungkin Sajad tidak membiarkan keterpurukan kembali menggerogotinya.

Tiga bulan setelahnya, datang satu keluarga dari kampung dan mengaku sebagai keluarga dekat Hartono.

Mereka bukan saja meminta izin untuk tinggal di rumah peninggalannya, tapi juga meminta separuh harta warisannya.

Sajad merasa harta itu bukan miliknya. Dengan tangan terbuka, Sajad memberikannya.

Rupanya kerakusan orang yang baru Sajad kenal itu tidak berhenti di sana. Gadis cantik salah satu anggota keluarganya, dijadikan umpan untuk merenggut semua hartanya.

Sajad dibuat jatuh cinta pada anak gadisnya. Sajad merasa si gadis juga mencintainya. Jika ia kehilangan orang-orang tersayangnya, mungkin Sajad masih mampu menahan sakitnya, tapi urusan pengkhianatan asmara, Sajad tidak tahu harus pakai ilmu kekebalan yang mana.

Hatinya hancur sehancur-hancurnya saat ia mengetahui perempuan yang dicintainya hanya alat untuk menguras sisa hartanya.

“Saya bisa menerima setiap kehilangan. Apa saja, dan siapa saja. Tapi saya tidak bisa menerima setiap pengkhiatan,” katanya dengan nada murka.

“Sajad ...” Gadis itu merintih. Air matanya tumpah membasahi pipi. “Awalnya aku memang berniat ...”

“Jika harta yang kamu inginkan, ambillah semuanya. Tapi jika kepercayaan, aku sudah tidak akan pernah mengenalnya.”

Sajad meninggalkan gadis itu tanpa menoleh lagi ke belakang.

Sajad kembali ke kampung halamannya membawa derita. Juga membawa keping-keping cinta yang menusuk hatinya.

Keping itu memiliki ujung seperti pancing atau seumpama anak panah, tidak bisa dibiarkan, tidak bisa dilepaskan, apalagi semakin dihempaskan. Hanya tangisan barangkali, yang mampu meredahkan.

0 Response to "Ketika Santriwati Terserang Virus Cinta"

Post a Comment

Berkomentarlah yang bijak dan sesuai dengan isi konten. Komentar dengan Link hidup/mati tidak akan disetujui.

(✔). Boleh berkomentar menggunakan bahasa jawa

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel