Terhangat
Loading...

Cerpen Santri | Mengapa Kok Wanita? Kenapa Bukan Pria?

Mengapa Kok Wanita?

MUNGKIN jika sudah beristri, saya tidak akan rela kalau malam-malam, waktunya kelon, istri saya malah main telepon genggam atau komputer, untuk ngobrol dengan pria lain di luar sana lewat jejaring internet.

Tetapi, entahlah, saya suka ngobrol dengan istri orang.

Malam ini, kembali Fina mengirim pesan elektronik. Ia tidak bercerita, hanya bertanya, “Mengapa wanita?”

Dalam literatur-literatur agama, sering kita menemukan tentang betapa bahayanya wanita.

Tetapi hampir tidak pernah kita temukan bahayanya pria.

Barseso. Seorang ahli ibadah yang dalam enam puluh tahun usianya tidak pernah bermaksiat, yang semua santrinya bisa mabur dan miber seperti layang-layang, mampu berjalan di permukaan air laksana perahu kertas, ia tersandung dalam tragedi takdir suul khatimah diperantarakan selain karena minuman dan pembunuhan, juga karena wedokan.

Seorang pendeta yang dalam setengah abad lebih usianya digunakan hanya untuk bertapa, hidupnya berakhir mengenaskan oleh pengeroyokan tiga pemuda bersaudara, sedang ia dalam keadaan bersujud pada Iblis.

Pasalnya, saat ia sedang bertapa, seorang gadis penggembala domba menginap di pertapaannya.

Di tengah-tengah bertapa, tersingkaplah rok sang wanita. Dan itu adalah pertama kalinya peli sang pendeta ngaceng karena syahwat.

Setengah ragu, burung akhirnya tetap masuk ke dalam sangkar yang bukan haknya.

Iblis mengabarkan itu kepada tiga saudaranya, sekaligus menawarkan pertolongan pada sang pendeta. Pendeta terbunuh dan Iblis mengkhianatinya.

Bahkan sejak manusia pertama, konon, ia terusir dari surga juga lantaran wanitanya. Pula putranya, membunuh saudara kandungnya sendiri sebab berebut wanita.

Di dalam Alquran juga disebutkan, di antara macam-macam syahwat, yang disebutkan pertama adalah wanita.

Dalam banyak Hadis, para pria juga diwanti-wanti agar menjauhi (aneka penyebab kedurhakaan yang disebabkan oleh) wanita.

“Tetapi, mengapa harus wanita?” tanyanya lagi, dengan pertanyaan yang sama, hanya dibumbuhi “tetapi” di awal, seakan-akan jawaban saya tidak selaras dengan pertanyaan.

Ya. Memang demikian adanya. Namun, banyaknya disebut potensi bahaya, bukan berarti dia melulu yang menjadi pemegang peran jahat dalam kisah, atau tokoh kejam dalam drama.

Bukan sepenuhnya salah Hawa tatkala Adam ikut memakan buah dari pohon terlarang. Bukan salah Ikrima saat Qabil mengepruk dengan batu kepala saudaranya.

Bukan sepenuhnya salah penjaga warung ketika Barseso kemudian memerkosanya. Bukan salah wanita penggembala domba begitu seorang pendeta merenggut keperawanannya.

Pria juga salah jika berat berkata hanya pria yang salah. Dan karena itu, agama mewanti-wanti agar para pria berhati-hati kepada wanita.

Karena ini, hingga saat Qitfir menjumpai perselingkuhan Yusuf dengan Zulaikha, ia nyuding-nyuding istrinya seraya berkata, “Sesungguhnya godaan kalian sangat agung, wahai para wanita.”

Allah memuji dan mengangkat tinggi derajat para pria yang mampu menahan diri dari syahwat pada wanita.

Sayyidina Yusuf as. diangkat menjadi nabi karena ia lari dari godaan Zulaikha, istri orang yang mencintai dan dicintainya.

Di antara tujuh golongan manusia yang diberikan payung teduh tatkala matahari berada sekilan di atas kepala adalah ketika seorang wanita cantik mengajak “aho-aho-aiwah-kedahaiwah-kedah” dan si pria berkata, “Innī Akhāfu Allāh.”

Ketika tiga orang terkurung dalam gua, terbuka guanya karena salah seorang di antara mereka bertawasul dengan amalnya. Kepada sepupunya sendiri ia jatuh cinta.

Putri dari pamannya itu sudah mau karena terpaksa, butuh uang, untuk berobat ayahnya. Burung sudah berdiri tegang di hadapan rerimbun belukar si wanita.

Hanya tinggal mak jedul, tetapi pria itu lebih memilih meninggalkannya karena takut pada Tuhannya.

“Jika saya melakukannya karena takut pada-Mu, bukakanlah jalan keluar dari gua ini.” Gua itu pun terbuka.

“Iya. Tetapi mengapa bukan pria?” Kali ini pertanyaannya memang berbeda. Namun, perbedaan itu hanya dari segi kalimatnya.

Bukankah dalam pertanyaan “mengapa wanita” sudah tercangkup “mengapa bukan pria” di dalamnya?

Saya akan tetap menjawab. Sebagaimana sebelumnya, pertanyaan pendek dengan jawaban yang panjang.

Mengapa bukan pria, karena pria itu tidak berbahaya. Pria yang berbahaya adalah pria yang memiliki sifat wanita.

Yang kepriaannya tidak sempurna. Yang lebih menonjol perasaannya ketimbang logikanya.

Atau, pria yang menjadi budak wanita. Yang berdiri meringkuk di bawah ketiaknya. Yang tunduk, patuh, serta tumakninah di lubang silitnya.

Jangan duga para pencuri itu mencuri karena dirinya sendiri. Mereka mencuri untuk nafkah istri dan anaknya.

Koruptor berkorupsi itu bukan karena ia rakus terhadap harta. Jangan berprasangka buruk dulu.

Mereka korupsi atas nama cinta. Cinta kepada istri. Istrinya sendiri. Istrinya tetangga. Istri dari adiknya. Istri  dari kariawannya.

Atau istri dari suami sekretarisnya. Karena itu, selain kepada wanita, yang paling sering disebut-sebut agar dihindari keburukannya adalah harta.

Sebab, pria itu moto wedokan, dan wanita itu mata duitan. Allah berfirman:

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia, cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuanperempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.” (Q.S. Ali Imran: 14)


Ayat di atas seakan-akan berkata: Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia, sehingga banyak yang kemudian rela melakukan apa saja untuk mendapatkannya.

Yaitu cinta terhadap apa yang diinginkan. Kepada para pria berupa perempuan-perempuan, dan anak-anak, Sementara wanita terasa indah dengan harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, serta aneka perhiasan lainnya yang termasuk juga tas, sepatu, dan kutang, kuda pilihan, yakni kendaraan mewah, hewan ternak dan sawah ladang,  atau juga rekening yang bertumpuk-tumpuk.

Itulah kesenangan hidup di dunia, yang sebenarnya boleh kamu turutin, selama masih berada dalam aturan Allah dan Rasul-Nya.  Dan  ingatlah, bahwa  di sisi Allahlah,  yakni di akhirat nanti, tempat kembali yang baik.

Biasanya, Allah menggunakan sighat taghlib dalam memerintahkan sesuatu. Yakni, cukup menggunakan kata anti maskulin untuk memerintahkan pria maupun wanita.

Tetapi dalam perintah menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan, Allah mengulangnya dua kali.

Masing-masing mendapatkan perintahnya. Boleh jadi karena penyebabnya berbeda. Yang dilihat pria adalah keindahan wanita.

Lalu, yang tidak kuasa menahan gejolaknya, ia akan melampiaskannya. Kepada wanitanya, kepada istrinya, kepada pacarnya, atau kepada imajinasi yang manunggal dengan sabunnya.

Sementara wanita, yang dilihatnya pertama adalah harta, atau yang berhubungan dengan harta, yang melekat pada diri seorang pria.

Lalu, yang tidak mampu menahan gejolaknya, oleh harta yang menyatu dengan cinta, ia rela mempersembahkan kemaluannya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

Itu sebabnya mereka diperintahkan: “Katakanlah, wahai Muhammad, kepada orang-orang beriman, yang laki-laki, hendaknya kamu menahan diri dengan cara menundukkan pandanganmu terhadap apa yang membuat burungmu berdiri bukan pada tempatnya.

Seperti melihat bokong yang megal-megol. Susu yang menyembul atas pembuktian bahwa bumi itu bulat.

Atau dengan menonton bokep. Tetapi terkadang ada pandangan yang tidak sengaja, maka yang pertama tidaklah dihukumi dosa.

Serta (kalau yang ini harus dilakukan dengan totalitas dan tidak bisa ditawar-tawar. Tidak ada pula kata “tidak sengaja”) jagalah kemaluanmu dari melampiaskannya pada sesuatu yang tidak dibenarkan dalam agama.

Yang demikian itu lebih suci bagimu. Sesungguhnya Allah Maha mengawasi atas apa yang kalian perbuat.

Dan  katakan juga kepada orang-orang yang beriman  yang wanita, agar mereka meminimalisir padangannya dari harta benda atau potensi kenyamanan hidup pada diri seorang pria serta agar mereka menjaga  dengan totalitas  kemaluan mereka  dari mengumbarnya kepada siapa yang memberikan harta atau kenyamanan, kecuali dengan cara yang diperbolehkan oleh tuntunan agama. [Lihat Q.S. An-Nur 30-31]

Rasulullah saw. bersabda: “Takutlah pada harta, dan takutlah pada wanita.” 

“TERIMA KASIH. JAWABANMU SAMA SEKALI TIDAK MEMBANTU.” Pesan balasannya tidak mengasyikkan.

Ditulis dengan huruf kapital semua, seperti sedang membentak. Jawaban panjang saya dianggap bukan apa-apa. 


“Tetapi, kan ...,” balas saya. Dan, Fina tidak pernah lagi membalasnya.

0 Response to "Cerpen Santri | Mengapa Kok Wanita? Kenapa Bukan Pria?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel