Sebungkus Rokok Penuh Kenangan

Rokok Penuh Kenangan

Ini dia. Makanan terenak sedunia. Nasi putih, ikan asin, daun singkong. Perpaduan eksotik yang menggugah selera. Apalagi ... gratis.

Bukankah itu yang selalu kamu katakan, Cakrawala? Makanan sehat, gratis sempurna. Duh, aku ingat kamu lagi, Kamerad.

Cuma kamu teman yang bisa kuajak bicara. Setiap kali gorengan buatan Emak yang kujajakan habis terjual, aku tinggal mendaki tangga menuju atap gedung tua yang kamu sebut "Suaka Langit".

Menumpahkan semua keluh kesah, tidur-tiduran memandangi awan, mendengar kamu menyanyikan lagu Punk Rock Jalanan, dan segala hal yang bisa membuat kita senang.

Tapi, sekarang bagaimana? Kamu di mana?

Dulu kamu jadi pelarian atas semua kesedihan yang aku rasakan. Sementara sekarang, aku merana karena kamu tinggalkan.

Setelah menghabiskan makanan ini, aku harus menyusulmu. Tidak ada seorang pun yang boleh mengganggu.

"Mbak, boleh saya ikut makan?"

"Apaan?" Aku menoleh ke kiri. Seorang pemuda berambut ikal menepuk pundakku dengan koran. Wajahnya tampak menginginkan sesuatu.

"Saya lapar juga, Mbak."

Aku segera menelan makanan yang ada di mulut. Minum, lalu mulai mencerna apa yang terjadi. "Kamu siapa?"

Hening sejenak. Sebelum pemuda itu menjawab, aku menepuk jidat. Sangking kalutnya, aku sampai lupa.

Bukankah dia yang tadi menggiring aku menuruni tangga, masuk ke warung Bu Padmi, memesan makanan, lalu menemaniku makan di emperan?

"Kamu siapa?" Bukannya meminta maaf atau berterimakasih, aku malah mengulang pertanyaan. Identitas dan kepentingannya harus kuketahui sebelum dia minta imbalan macam-macam atas makanan yang enak ini.

"Tidak penting saya siapa, dari mana, mau ke mana, lahir di rumah sakit mana, yang penting saya mau makan juga."

"Kenapa?" Tanyaku.

"Kenapa apanya?"

"Kenapa mau ikut makan? Ini kan buat saya."

Pemuda itu mengucapkan sebuah kalimat dalam bahasa asing. Arab? Inggris? Madura? Entahlah. Wajahnya tampak geregetan.

"Tadi kan ... sepakat, bagi dua," katanya sambil menatap nasi yang hanya tersisa satu suapan. Seketika rautnya pasrah. "Ah, sudahlah. Makan saja sampai kenyang," katanya kemudian.
Tanpa banyak bertanya, aku menurut dan menghabiskan semuanya.

"Terima kasih, ya." Aku tersenyum, semanis yang kumampu. Teringat pesan Emak, senyumlah untuk para dermawan. Sebagian besar, mereka tidak pernah melihat kebahagiaan.

Pemuda itu menyodorkan kotak warna putih berbau tembakau. "Mau tidak? Belum afdal kalau habis makan cuma minum."

Aku menggelang cepat. Refleks, menepis benda itu hingga terlempar dua meter. Bayangan wajah Cakrawala yang ketakutan, mencecar penglihatan.

"Hei, kenapa sih?" Pemuda itu kaget dan bersungut mengambil bungkus rokoknya.

Aku diam, tertegun. Mengalihkan pandangan ke arah orang-orang yang bergegas membawa banyak barang. Memasuki dan menuruni kereta. Datang dan pergi. Pisah dan temu. Keniscayaan.

"Heh, malah ngelamun. Kenapa tadi? Kalau tidak mau, santai dong." Pemuda itu mengibaskan tangannya di depan mataku.

Aku mendengus. "Singkirkan benda itu dari hadapanku."

"Bikin kaget saja. Ya sudah, kita bicarakan hal lain. Jadi, kamu mau saya beri saran cara mati yang lebih elegan?" Tanyanya setelah mengamankan benda yang tadi aku lontarkan.

"Tidak perlu."

"Serius?"

"Iya, kehidupan sudah membunuhku perlahan-lahan," kataku pada pemuda ... "Eh, kamu siapa sih?"

"Siapa apanya?" Dia malah balik tanya.

"Ya siapa. Nama, sedang apa di stasiun, alasan kamu peduli padaku."

"Nama, Fala. Fala Kasanov. Saya mau pulang ke Surabaya. Soal peduli padamu, tidak perlu GR. Keberadaanmu di pagar itu mengganggu pandangan. Merusak keindahan matahari terbenam."

Tanpa peduli pada ejekannya, dahiku berkerut. "Nama macam apa itu? Nama asli?"

"Seratus persen."

"Nama 'Fala' sih bagus, mirip artis sinetron. Kasanov itu apaan? Kamu orang Rusia? Kok tidak ganteng seperti bule? Lagipula kamu medok."

Dia menggeleng-gelengkan kepala. "Banyak hal yang tidak kamu ketahui, Mbakyu. Makanya tidak usah bunuh diri. Nantilah, kapan-kapan saya beri tahu sejarah di balik nama menakjubkan ini."

Aku mengangkat bahu. Biasanya, aku suka memaksa orang lain bercerita. Tapi kali ini tidak. Aku belum cukup tangguh untuk kembali seperti hari biasa, ketika Cakarawala ada.

"Siapa nama laki-laki sial itu?" Tanya Fala, memasang wajah penuh tanya yang membuatku sebal.

"Apa maksudmu?"

"Ya ... apa lagi sih yang membuat seorang perempuan sampai mau bunuh diri kalau bukan karena cinta? Diputusin? Ditinggal menikah? Diceraikan?"

Aku memukul lengannya sekeras kekuatanku. Memakinya sok tahu. Kuhujani dia dengan omelan tentang perasaan dan harga hati seorang perempuan.

Menghalau pukulan, dia memegangi tanganku. Beberapa detik, sepertinya waktu menghilang dan relativitas bekerja signifikan. Aku melepaskan tangan dan mengalihkan pandangan.

"Sahabatku mati, ketabrak kereta," jawabku lirih.

Keramaian terbungkam oleh senyap di antara kami. Aku mengeluarkan sebungkus rokok yang remuk, bernoda darah. Menunjukkannya pada Fala.

"Apa itu? Saya kira kamu alergi rokok."

"Sekarang, iya. Ini benda kenangan."

"Dulu tidak? Sejak kapan?"

"Minggu lalu. Sejak sahabatku mati."

"Aku bersedia mendengarkan jika kamu mau cerita."

"Nih, baca saja koran ini."

Fala mengamati koran yang aku berikan. Cukup lama. Dia membuka-buka halaman secara acak. 

"Berita apa sih yang kamu maksud?"

Aku merebut koran dari tangannya. "Kamu bisa baca tidak sih, selain kitab suci?" Aku kesal. Jelas-jelas berita soal Cakrawala ada di halaman depan, tulisan besar-besar: "Berjalan di Tengah Rel, Joko 'Cakrawala' Susilo Tertabrak KRD"

Aku menggenggam bungkus rokok dengan bercak merah kehitaman. Ini bungkus terakhir yang Cakrawala bawa menjelang kematiannya.

Aku mengambilnya diam-diam sebelum orang-orang mengerubuti jasadnya. Aku sudah menduga, akan ada kebohongan di surat kabar, dan ternyata benar.

Cakrawala diduga bunuh diri. Tidak, aku bersaksi atas nama kereta Argo Parahyangan, Cakrawala dibunuh oleh kroco-kroconya Saprul. Laki-laki tidak tahu diri itu. Sudah lama dia mengejar aku, menyatakan cinta.

Cih, tak sudi berpacaran dengan preman stasiun. Meskipun tampak berandal, tapi aku tidak jahat. Tidak pernah memalak orang. Apalagi cuma memalak sebungkus rokok. Penjahat kelas kutu.

"Lalu kenapa kamu takut rokok?"

"Bukan takut. Aku benci melihatnya."

Wajah Cakrawala lagi-lagi membayang. Sejak aku keranjingan datang ke Suaka Langit bersama Cakrawala, Saprul merasa terhina. Wibawanya tercoreng karena tak mampu menjadikan aku pacar dan merasa kalah oleh seorang anak punk berhati lembut yang penakut.

Bukan cemburu dengan hati, itu semata perkara harga diri.

Dan lalu, kroco-kroco Saprul gemar sekali mencari masalah. Dan dasar kriminal rendahan, mereka cuma memalak rokok Cakrawala. Sebatang dua batang diberikan, ia dihajar. Aku pernah memergoki mereka. Tidak ada perlawanan dari Cakrawala. Katanya, jika dia mati dibunuh, dia akan syahid dan masuk surga. Gila.

"Aku sudah cerita. Sekarang giliran kamu," ujarku setelah menghela napas panjang. Mengeluarkan semua sampah pikiran ternyata melegakan.

"Saya punya cerita apa?"

"Lha, itu lho. Soal nama kamu yang sok bule." Aku tersenyum tipis.

Dia tertawa. "Kamu mau tahu? Nama itu akronim, yang menceritakan perasaan ibuku." Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Ibuku, dulu mencintai seorang pemuda desa yang sering lewat di depan rumahnya.

Baru saja menyatakan rasa, ada seorang tuan tanah tua yang meminang ibuku, entah jadi istri ke berapa. Tak tertolak. Dia orang terhormat di kampung kami."

"Lalu dia jadi bapakmu?"

"Ya iya. Ibuku perempuan baik-baik. Meskipun matre juga, mungkin."

Aku kembali memukul lengannya. Mencecarnya dengan makian karena tidak menghargai ibunya. Tidak semua perempuan yang menikahi orang kaya, berarti materialistis. Tidak semua perempuan yang menikahi raja, ingin jadi ratu.

Lebih dari itu, perempuan memiliki kedekatan jiwa dengan rasa aman dan nyaman. Untuk dirinya, dan yang paling utama, anaknya. Memilih laki-laki kaya dan merelakan perasaannya pada orang lain, kadang menjadi keputusan sulit demi masa depan anak-anaknya.

"Mengerti?" Tanyaku pada Fala yang menyimak dengan khidmat.

"Iya, mengerti. Tapi ..."

"Tapi ... apa lagi?"

"Tapi bisa tidak sih, kamu kesal tanpa memukul orang? Penganiayaan ini," ujarnya, memegangi lengan yang sepertinya perih atas kelakuanku.

"Eh, lalu apa hubungannya dengan namamu yang aneh itu?"

"Ya gitu. Ibuku bernama Fatimah, ayahku Novianto. Kerelaan ibuku menikah dengannya menjadi akronim, namaku itu," jelasnya.

Bola mataku berputar ke atas. Memikirkan akronim pada nama Fala. Dua menit kemudian, aku terbahak-bahak, memukul pahaku sendiri.

"Fala Kasanov itu Fatimah rela nikah sama Novianto? Hahaha, parah. Ibu kamu lucu banget."
Fala berdecak. "Sudah, diam. Berisik."

Aku menutup mulut, masih tersenyum-senyum tak habis pikir. Ini satu-satunya hal menyenangkan yang aku dengar setelah tragedi itu.

"Namamu siapa? Kamu sudah tahu nama saya."

"Renjana," jawabku.

"Nama asli?"

Belum sempat aku menjawab, adzan terdengar dari masjid sebelah stasiun. Sudah malam rupanya. "Eh, kamu naik kereta jam berapa?"

Wajah Fala pucat, dia bangkit berdiri, membongkar tas, mengecek jadwal. Menggaruk-garuk kepala. Aku meringis, menebak kondisi. Sepertinya ...

"Modyar. Aku ketinggalan kereta!"

Aku diam saja. Menghibur juga tidak ada gunanya. Jadwal kereta ke Pasar Turi sudah habis hari ini.

"Besok pagi ada lagi kok. Jam enam. Nanti saya bangunkan deh," kataku hati-hati pada Fala yang kini berwajah hampa. Tak ada respon. Aku berasumsi. "Kenapa? Tidak ada uang lagi, ya?"

Fala mengangguk lemah. Tatapannya nanar menatap jam besar di dinding stasiun. Tiket di tangannya jatuh ke lantai.

Aku menarik tangannya. "Ayo, ikut aku pulang. Besok aku bantu kamu cari uang, Kamerad!"

"Kamrat? Apa? Kampret? Kamu berani misuhi saya? Baru juga kenal."

Aku takjub. Tak kusangka dia kembali sadar hanya karena dipisuhi. "Bukan! Duh, anak pesantren tidak paham ya." Aku menepuk jidat. "Kamerad itu artinya teman seperjuangan.

Sudah, malam ini kamu tidur di rumahku. Kita cari uang besok pagi agar kamu bisa pulang. Kota ini sudah penuh."

Aku dan Fala menembus lalu-lalang orang. Menuju ke utara. Kutinggalkan surat kabar berisi Cakrawala. Sendirian di sana.⁠⁠⁠⁠

Lanjut Membaca: Tak ada Kenikmatan dunia Melebihi Nikmatnya pagi hari

0 Response to "Sebungkus Rokok Penuh Kenangan"

Post a Comment

Tinggalkan Komentar Anda

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel