Sisa Uang Belas Kasihan

sisa uang belas kasihan

Sisa uang belas kasihan masih cukup untuk membeli tiga batang rokok dan segelas kopi hitam. Kasbolah menikmatinya sambil menyaksikan malam dan air mengalir berikut gemericiknya dari atas jembatan.

Membuka mata melihat kegelapan ternyata lebih indah daripada memejamkan mata. Tapi tidak ikut campur dengan masa depan orang lain, apalagi masa lalu dan segala isi hati, nikmatnya masih belum ada tandingan.

Kopi panasnya menghangat. Diseruputnya sekali seruputan, dilanjut dengan mengapit bongkahan kretek di bibirnya yang hitam bersatu dengan warna malam.

Saat menghempaskan asap kelabunya, ia memandangi setiap tariannya, dan ketika itu pandangannya tertembus dan tersaksikan olehnya seorang wanita berdiri di tepi jembatan membentangkan tangan. 

Kasbolah memang sudah tidak mampu membaca masa yang akan datang, namun melihat adegan sedemikian rupa, dengan sesengguk tangisnya, dengan bentangan tangannya, semua orang juga bakal memiliki prasangka yang sama bahwa itu adalah sebuah upaya seseorang mengakhiri hidupnya.

Kasbolah menyelipkan dua batang rokoknya di telinga kanan kirinya, lalu berdiri dan berjalan pelan mendekatinya. “HOE!” teriaknya.

Wanita itu tidak menanggapi dan menghiraukannya. Tapi terlihat teriakan itu cukup mengagetkannya.

Setelah benar-benar dekat, Kasbolah berkata, “Hidup ini memang kejam, Mbak. Tapi bunuh diri adalah metode terburuk untuk melawannya.”

“Selama hidup, saya sudah sangat kenyang makan nasehat. Saya tidak ingin lagi mendengar apapun soal kehidupan. Saya jauh lebih mengerti seluk beluknya daripada Anda.”

“Seluknya mungkin iya, tapi beluknya tidak, kecuali Mbak berkenan merokok bersama saya.”

“Apakah saya harus membuka pakaian saya agar Anda tahu jika saya seorang perempuan?”

“Maaf, Mbak.”

“Berhenti memanggil saya dengan sebutan ‘Mbak’!”

“Maaf, Mpok.”

“Nama saya Anggun.”

“Nama yang indah.”

“Anggun!”

“Iya. Nama yang anggun. Nama seorang perempuan. Tadinya saya berpikir Anda adalah wanita jadi-jadian. Karena bunuh diri dengan cara lompat dari jembatan itu lebih pria ketimbang sekadar mengisap dan menghempaskan beluk.”

Wanita itu turun dari pagar jembatan. “Pertama, saya tidak sedang memiliki keinginan untuk bunuh diri. Saya masih mencintai hidup saya.

Kedua, teriakan Anda tadi hampir saja mendorong saya menuju pangkuan kematian.

Ketiga, jangan sok tahu tentang apa yang orang lain lakukan.

Dan terakhir, Anda tidak perlu menawarkan rokok yang Anda hanya memiliki dua batang. Di tas saya masih ada dua bungkus, dan jika Anda bersedia, di tas saya ada banyak uang yang cukup untuk membeli dua truk lagi.”

“Lalu?”

“Lalu? Pertanyaan macam apa itu?”

“Apa untungnya mempertanyakan pertanyaan? Mengapa tidak kita tinggalkan saja pertanyaan-pertanyaan tak bermutu yang berserakan memenuhi rongga cakrwawala itu, lalu kita nikmati hidup ini dengan cara yang baik dan benar?”

“Sebenarnya Anda mau apa sih?”

“Jika Anda bertanya apa mau saya, tentu setiap manusia memiliki kemauan yang berlimpah. Tapi saya tidak akan seceroboh seperti kebanyakan mereka, saya masih memiliki Tuhan sebagai tempat peraduan saya, dan pantang bagi saya meminta bantuan orang lain kecuali sebatas yang saya butuhkan.

Jika dalam tas Anda memang masih ada banyak uang, saya tidak berat hati dan tidak keberatan sama sekali untuk Anda ajak saya makan malam.

Sepertinya masih banyak rumah makan yang masih terbuka lebar. Kebetulan saya sudah tiga puluh tahun belum makan.”

Anggun tertawa. Tawanya kali ini benar-benar tulus dan menggembirakan.

“Baru kali ini saya bertemu dengan pengemis yang unik. Lulusan sekolah pengemis mana?”

“Anda ini cantik. Sangat cantik. Tapi mengapa gemar sekali bertanya?”

“Itu bukan pertanyaan. Justru yang barusan Anda katakan, itulah pertanyaan.”

“Sebaiknya kita berhenti memperbincangkan perihal pertanyaan. Saya sudah sangat lapar.”

0 Response to "Sisa Uang Belas Kasihan"

Post a Comment

Tinggalkan Komentar Anda

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel