Tentang Cinta Sejenis Beserta Penjelasanya Secara Lengkap

Cinta Sejenis Beserta Penjelasanya

Telah berkali-kali kita katakan, bahwa cinta adalah fitrah. Namun, cinta yang   termasuk dari fitrah adalah cinta kepada lawan jenis. Sehingga, cinta yang tumbuh pada sesama jenis, sesungguhnya telah menyelisihi fitrah.

Meski demikian, tetap pada prinsip sebelumnya. Bukanlah kita yang mengendalikan rasa.

Tapi Yang Maha mengendalikan rasa, memberi kemampuan kepada kita untuk mengendalikan diri. 

Di sanalah, Dia menguji seberapa tinggi kualitas keimanan seseorang.

Apa yang terbesit dalam hati, selama hanya dalam batas besitan, bukan merupakan keyakinan seperti penyekutuan, atau perbuatan seumpama kesombongan.

Selama bukan yang demikian, maka tidaklah dihukumi dosa. Seorang pria yang jatuh cinta pada pria tidaklah berdosa.

Seorang wanita yang jatuh cinta pada wanita tidaklah berdosa.

Sebagaimana orang yang kelaparan kemudian terbesit dalam pikirannya untuk mencuri.

Yang dihukumi dosa adalah ketika yang bersangkutan menunaikannya. Dalam hal ini, Allah mengecam kepada orang-orang yang melampiaskan nafsu seksual bukan pada tempatnya.

Disebutkan begitu banyak ayat yang menyindir tentang perilaku menyimpang itu, antara lain:

“Dan (Kami juga mengutus) Luth. (Ingatlah) ketika dia berkata kepada kaumnya, Apakah kalian mengerjakan al-Fāẖisyah (perbuatan yang sangat buruk yaitu homoseksual) yang tidak satu (makhluk) pun mendahului kalian mengerjakannya di alam raya (ini)? Sesungguhnya kalian benar-benar telah mendatangi lelaki untuk (melampiaskan nafsu) syahwat, bukan (mendatangi) wanita, bahkan kalian adalah kaum pelampau batas.

Tidak ada jawaban kaumnya selain mengatakan, Usirlah mereka (Luth dan pengikutnya) dari kota kalian, sesungguhnya mereka adalah orang-orang (lemah) yang sangat menyucikan diri. Maka Kami selamatkan dia (Nabi Luth) dan keluaraganya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (yakni dibinasakan). Dan Kami hujani atas mereka hujan (batu), maka lihatlah bagaiamana kesudahan para pendurhaka.” (Q.S. Al-A‟rāf: 80-84)


Baca ini juga bro: Tentang Cinta Dan Pacaran


Saking bejatnya perbuatan homoseksual, sampai oleh Alquran, ia dinamai dengan al-Fāẖisyah, yang artinya bukan hanya buruk.

Tapi sangat-sangat buruk. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya, termasuk perbuatan yang paling kutakutkan terjadi pada umatku adalah homoseksual.”

Sabdanya yang lain, “Ada empat kelompok yang berpagipagi dalam murka Allah dan bersore-sore dalam kebencian-Nya.”

Para sahabat bertanya, “Siapa itu, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Yaitu laki-laki yang menyerupakan diri seperti perempuan, perempuan yang menyerupakan diri seperti lakilaki, bersetubuh dengan binatang, dan pelaku homoseksual.”

Perbuatan ini tidak dapat dibenarkan dalam keadaan apapun. Pembunuhan masih dapat dibenarkan jika dilakukan misalnya untuk membela diri.

Hubungan seks dengan lawan jenis masih dapat dibenarkan jika sudah melalui akad pernikahan. Tapi hubungan seks sesama jenis ini, sama sekali tidak ada jalan untuk membenarkannya.

Pada ayat-ayat sebelumnya, yang menceritakan tentang nabi-nabi lainnya, juga pada ayat berikutnya, Alquran selalu menyebutkan nama-nama kaumnya:

Dan kepada kaum Ad (Allah mengutus) saudara mereka, Hud ...” (Q.S. Al-A‟rāf: 65), “Dan kepada kaum Tsamud, Kami mengutus saudara mereka, Shaleh ...” (Q.S. Al-A‟rāf: 73), dan “Dan kepada kaum Madyan, Kami mengutus saudara mereka, Syuaib.” (Q.S. Al-A‟rāf: 85)

Sementara dalam ayat kali ini, tidak disebutkan nama kaumnya. Karena yang hendak diceritakan adalah tentang keburukan yang luar biasa. Sampai-sampai Tuhan tidak sudi menyebut namanya. Atau, untuk mengajarkan, agar ketika ada yang berbuat keburukan, jangan sampai menyebutkan nama. 
71 


Dia berkata, yakni bertanya, yang pertanyaannya berupa kecaman. Apakah wajar kamu melakukan fahisyah, perbuatan yang teramat buruk menurut pandangan agama dan akal. Tidak ada suatu pun masyarakat yang mendahului kalian melakukannya.

Kamu adalah orang yang melampaui  batas. Melampaui batas kemanusiaan, bahkan batas kebinatangan.

Karena binatang pun tidak melakukan perkawinan sejenis, kecuali binatang-binatang yang kotor. Dalam ayat-ayat sebelum ini, para nabi mendakwahkan tentang ketauhidan.

Tapi dalam ayat ini tidak. Ini menunjukkan bahwa kemusyrikan dan melakukan hubungan sesama jenis memiliki persamaan, yaitu sama-sama melanggar fitrah. Keesaan Tuhan adalah fitrah, dan memiliki hasrat seksual kepada lawan jenis adalah fitrah.

Usir mereka dari negeri kita! Mereka orang-orang yang menyucikan diri. Yakni, sok suci. Atau, terlalu sangat suci.

Sesungguhnya ia tidak terlarang, tapi dia yang terlalu  suci. Ada yang menduga, ayat-ayat yang terhidang di atas hanya berlaku pada pelaku homoseksual, dan bukan pada lesbian. Karena, kata ganti lawan bicara yang digunakan adalah maskulin.

Ada yang kemudian menerka-nerka mengapa ayat-ayat yang menyinggung seksual sejenis hanya berlaku pada pria.

Sebab, perilaku bercinta sejenis yang dilakukan pria itu memiliki kesan yang menjijikkan. Sementara yang dilakukan sesama wanita adalah keromantisan.

Pertama. Apa yang dikhitabkan Alquran sebagai kata ganti maskulin, bukan berarti tidak berlaku pada wanita.

Begitu banyak perintah dalam Alquran yang ditujukan kepada baik laki-laki maupun perempuan, tapi khitab yang digunakan adalah kata ganti  maskulin. Bahasa Arab berbeda dengan bahasa Indonesia. 

Jika dalam bahasa Indonesia dikatakan “kalian”, maka itu berlaku untuk laki-laki dan perempuan. Sementara bahasa Arab, dalam hal ini, lebih kompleks dari itu.

Kata ganti yang digunakan untuk maskulin, berbeda dengan yang digunakan untuk feminin.

Selain itu, dalam Hadis, juga disebutkan tentang haramnya lesbian. Seperti yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam Mu‟jam al-Kabīr. Bahwasanya, Rasulullah saw. bersabda, “Lesbian adalah perzinaan di antara para wanita.” Sabda Rasulullah saw. yang lain, “Apabila laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki, keduanya adalah pelaku perzinaan.

Dan apabila perempuan berhubungan seks dengan perempuan, keduanya adalah pelaku perzinaan.” Kedua.

Apa yang disebut dengan “menjijikkan” adalah relatif. Jika ada pihak yang mengatakan bahwa homoseksual itu menjijikkan dan lesbian tidak, maka ada juga pihak lain yang melihat keduanya sama-sama menjijikkan, atau keduanya sama-sama keindahan.

Dan, hukum bukan terletak pada kenisbian. 

Kawin sesama jenis sangat bertentangan dengan jati diri manusia. Ia harus dihindari, dilawan, dan diobati. Karena jika tidak, maka seluruh air hujan dari langit, dan seluruh sumber mata air dari bumi, tidak akan dapat menghilangkan kenajisannya.

~(Romantisisme Kalam Tuhan)~

0 Response to "Tentang Cinta Sejenis Beserta Penjelasanya Secara Lengkap"

Post a Comment

Tinggalkan Komentar Anda

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel