Dibalik Senyuman Yang Tidak Pernah Luntur, Ada hati yang Sebenarnya hancur

Ada hati yang Sebenarnya hancur

Dengan pandangan takjub, matanya menjelajahi rumah yang kini dia kunjungi. Nayla, gadis itu tak henti-hentinya berdecak kagum melihat rumah itu. Bukan karena rumahnya yang mewah, tapi karena rumah itu terlihat begitu asri di kawasan kota besar seperti ini. Banyak pepohonan di sekelilingnya, pagarnya yang tak terlalu tinggi juga memudahkan pemiliknya untuk berinteraksi dengan para tetangga di samping rumahnya.

"Rumah kamu keren, Kak," ujar Nyla sambil mengulum senyum manisnya. Fahri yang mendengar itu mengeryitkan dahinya bingung.

Memang, tadi, setelah mereka membahas tentang mereka. Nayla sepakat dan setuju jika mereka akan bersikap seperti dahulu. Seolah-olah tak terjadi apa-apa di antara mereka. Tadi, gadis itu sempat menanyakan apa yang belum dia tahu tentang Fahri, dan jadilah kini Fahri membawa Nayla ke rumahnya. Rumah yang menyimpan banyak kenangan kelam, namun di dalamnya tinggal orang yang dia sayang.

"Keren gimana maksudmu?" tanya Fahri tak mengerti. Tangannya melepas helm yang masih dia gunakan, lalu berjalan dengan santai mendahului gadisnya, ralat, gadis sahabatnya.

"Ya keren, nyaman banget ini. Sejuk tahu." Fahri hanya mengangguk-angguk mendengar pernyataan Nayla.

"Ayo masuk, aku mau nunjukin sesuatu sama kamu," ajak Fahri. Nayla hanya menuruti sang tuan rumah.

Nayla tak salah kira, setelah sampai di dalam rumah pun dia masih terkagum. Baginya, tatanan perabot di rumah Fahri itu unik. Tidak seperti kebanyakan orang. Banyak barang-barang antik di sana. Di dinding sekitarnya juga banyak terpajang foto masa kecil Fahri.

Yang paling menarik perhatian Nayla adalah satu foto keluarga yang dicetak sangat besar dan tergantung di atas televisi di ruang keluarga. Di sana ada sepasang suami istri dan anak laki-laki yang sudah besar, yang Nayla yakini adalah foto Fahri saat masih SMA. Juga dua bocah laki-laki yang masing-masing masih digendong oleh sepasang suami istri tersebut. Nayla yakin, itu adalah potret keluarga kecil Fahri.

"Wah, ternyata Kamu punya adek kembar ya, Kak." Fahri hanya menggumam dan tersenyum kecil mendengar ucapan Nayla. Dia memang punya adik kembar, tapi dia tak pernah melihat adiknya itu semenjak kejadian itu. Kejadian yang membuat segalanya berubah, dulunya semuanya begitu indah, sebelum papanya berulah dan semuanya mendadak berubah.

"Naik, yuk! Ketemu mama aku."

Dari tadi, Nayla hanya menuruti Fahri. Dia manut saja saat Fahri membawanya menaiki tangga. Menuju kamar Farah, mama Fahri.

Dengan pelan dan tak menimbulkan suara yang berarti, Fahri membuka pintu kamar mamanya. Dilihatnya wanita setengah baya yang sedang tertidur dengan tenang di atas kasurnya. Wanita itu masih terlihat sangat cantik di usianya yang tak lagi muda, walaupun rona pucat di bibirnya begitu tentara.

"Masuk, Nay," ucap Fahri sambil berjalan memasuki kamar mamanya. Diikuti oleh Nayla di belakangnya. Gadis itu terlihat bingung saat melihat Farah, di nakas samping ranjang ada beberapa botol obat dengan warna yang bermacam-macam.

"Mama Kamu sakit, Kak?" tanya Nayla. Fahri mengangguk, mengiyakan pertanyaan Nayla. Kemudian, laki-laki itu menarik tangan Nayla. Membawa gadis pujaannya itu untuk duduk di sofa yang berada di kamar itu, menghadap ke arah jendela yang terbuka, dan membelakangi mama Fahri.

Fahri ingin berbicara serius dengan Nayla.

"Aku mau kasih tahu kamu rahasia yang selama ini hanya aku dan kedua sahabatku yang tahu." Ucapan Fahri mampu mengundang kerutan di dahi Nayla. Gadis itu belum paham dengan apa yang diucapkan oleh Fahri. Namun, untuk membayar rasa penasarannya, dia hanya mengangguk. Agar semuanya selesai.

"Mamaku deperesi," ujar Fahri cepat.

"Hah?" Sudah Fahri duga.

Pasti Nayla akan terkejut mendengar fakta ini.

"Dulu, aku punya keluarga yang lengkap. Bahagia banget, Nay. Adikku kembar. Mungkin, sekarang usianya sudah lima tahunan. Dua tahun yang lalu, mama sama papa kecelakaan mobil, adikku, rendy yang saat itu ada sama mereka meninggal."

Fahri menjeda ucapannya, bercerita kepada Nayla sama saja membuka luka lama. Luka lama yang bahkan sampai sekarang belum mengering.

"Nggak usah dilanjutin, Kak," ujar Nayla yang paham dengan kondisi Fahri. Dia yakin jika Fahri sudah terlalu banyak tersakiti.

"Nggak, kamu harus tahu."

Nayla diam saat Fahri menatapnya. Ada perasaan bersalah saat dirinya menatap ke dalam mata Fahri, dia menyesal mencoba tahu bagaimana kehidupan Fahri. Fahri lagi-lagi harus mengingat kejadian itu, yang mungkin masih belum dia terima sebagai takdirnya.

"Mama depresi gara-gara rendy meninggal. Terus, yang lebih parahnya lagi, papa pergi dan nikah lagi sama janda."

Air mata menggenang di pelupuk mata Fahri, dan Nayla dapat dengan jelas melihat itu semua. Gadis itu juga tampak berkaca-kaca walaupun tak kentara. Dengan instingnya sebagai teman yang baik, Nayla mengusap lengan Fahri untuk menenangkan hati laki-laki itu. Nayla tahu bagaimana perasaan Fahri, meskipun dia belum pernah mengalami, namun dia yakin jika rasanya sangat sakit.

"Yang sabar, Kak. Semua bakal ada hikmahnya," ucap Nayla, tujuannya hanya satu, membuat Fahri tenang.

"Aku nggak papa," gumam Fahri pelan. Senyum manis juga melekat di bibirnya. Tangannya mengusap matanya yang sedikit basah, lalu menatap Nayla dalam.

"Terus setelah kamu tahu semuanya, apa kamu bakalan jahuin aku?" tanya Fahri yang malah membuat Nayla terlihat bingung.

"Maksudnya apa, Kak?"

"Kamu nggak malu punya temen yang ibunya gila?"

Nayla menggeleng cepat. Apa yang sebenarnya Fahri bicarakan?

"Ya nggak lah, kamu mikir apa sih, Kak? Aku nggak sejahat itu," kesal Nayla. Fahri terkekeh pelan, membuat Nayla sedikit menarik senyumannya.

"Nay," panggil Fahri.

Nayla yang merasa terpanggil mengalihkan pandangannya. Yang tadinya menjelajah ke luar jendela, kini sepenuhnya menatap Fahri yang duduk di sampingnya dengan tenang.

"Apa?" tanyanya.

"Aku boleh peluk kamu?" tanya Fahru meminta izin.

Nayla terpaku mendengar penuturan Fahri. Dirinya ragu untuk menjawab, dia memikirkan Agus (Pacarnya) yang sekarang tidak mengetahui dirinya sedang bersama dengan Fahri. Namun, ada bisikan lain dari dalam dirinya yang menyuruhnya mengiyakan permintaan Fahri.

"Kalo enggak juga nggak papa, kok. Aku sadar aku ini siapa."

Gadis itu mengangguk, lalu tersenyum manis. Dan berkata, "Kakak boleh peluk aku, Kok."

Mendengar itu, Fahri mengembangkan senyumnya. Direngkuhnya tubuh Nayla dan didekapnya dengan erat. Laki-laki itu menyembunyikan wajahnya di lekuk leher gadis yang kini dipeluknya.

Jujur, dia rindu masa-masa seperti ini. Dia rindu saat Nayla masih bisa bermain bersamanya tanpa terikat hubungan. Tanpa sadar, lagi-lagi air matanya meluruh. Dia tak tahu kenapa dia bisa secengeng ini, namun kali ini dia sungguh bahagia bisa seperti ini lagi dengan Nayla. Walau dia tahu ini hanya sementara, namun setidaknya bisa untuk penyembuh luka.

"Kak, kamu nangis?" tanya Nayla saat merasakan lehernya yang basah. Tangannya menyentuh rambut belakang Fahri dengan lembut.

"Nggak, aku cuma bahagia. aku kangen sama kamu, Nay."

Nayla terdiam mendengar ucapan Fahri. Dia tak tahu harus berkata apa sekarang. Kalau boleh jujur, dia merasa hangat dengan sikap Fahri. Walaupun logikanya mengatakan bahwa ini salah, namun hatinya berkata lain. Dia merasa nyaman dengan perlakuan Fahri.

"Aku sayang sama kamu." Setelah mengatakan itu Fahri melepaskan pelukannya. Lalu menatap Nayla yang masih menatapnya juga.

"Maaf," gumam Fahri pelan.

"Kak, Kamu jangan nangis." Nayla berucap sambil mengusap air mata yang membasahi pipi Fahri. Entah sadar atau tidak, yang pasti ada dorongan dalam dirinya untuk melakukan itu. Fahri tersenyum.

"Aku ngak sekuat yang kamu kira, Nay. Aku rapuh, aku lemah. Di balik senyumanku yang nggak pernah luntur, ada hati yang sebenernya sangat hancur."

Erat. Nayla merasakan jika genggaman tangan Fahri begitu erat. Dia juga merasakan jika tangan Fahri berkeringat dingin.

"Kamu nggak boleh sedih, Kak. Aku selalu ada buat kamu. Kita sahabat," ucap Nayla sambil menampilkan senyum manisnya. Fahri ikut tersenyum, walaupun masih ada yang mengganjal di hatinya. Dia masih tak terima jika Nayla hanya menganggapnya sahabat, namun itu lebih baik daripada Nayla menjauhinya.

Masih menatap Fahri. Nayla tak tahu apa yang ada di perasannya sekarang. Setelah mendengar semua keluh kesah Fahri, dia begitu takut untuk menyakiti Fahri lebih dalam. Dia sadar jika selama ini dia selalu menyakiti Fahri.

"Kamu ngapain nangis?" Nayla merasakan usapan lembut di pipinya. Siapa lagi jika bukan Fahri pelakunya. Dia juga tidak sadar jika dia mengeluarkan air mata.

"Nggak papa."

"Nggak usah nangisin aku. Nggak usah merasa bersalah sama aku, kalo kamu bahagianya sama Agus, aku nggak papa. Aku rela, asalkan kamu juga bahagia," gumam Fahri pelan, tangannya masih setia menangkup pipi Nayla. Jaraknya dengan Nayla begitu dekat, membuat Nayla mampu merasakan hembusan napas Fahri di wajahnya.

Lama Fahri manatap ke dalam manik mata Nayla. Dan entah dorongan dari mana, Nayla memejamkan matanya saat Fahri semakin mendekatkan wajahnya.

"Aku sayang sama kamu, nggak peduli kamu milik sahabatku. Aku nggak akan ganggu hubungan kalian berdua. Tapi kalo Agus sampe buat kamu luka, Aku bakal hajar dia. Yang harus kamu Inget, aku cinta, dan bakal bikin kamu bahagia," ucap Fahri pelan, diakhiri dengan kecupan singkat di sudut bibir Nayla.


Sumber gambar: pixabay.com

Belum ada Komentar untuk "Dibalik Senyuman Yang Tidak Pernah Luntur, Ada hati yang Sebenarnya hancur"

Posting Komentar

Berkomentarlah yang bijak dan sesuai dengan isi konten. Komentar dengan Link hidup/mati tidak akan disetujui.

(✔). Boleh berkomentar menggunakan bahasa jawa

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel