Kenangan Yang Suram

Kenangan Yang Suram

“Bagaimana sekolahmu?”

“Sangat menyenangkan. Rafa sudah mempunyai banyak teman.”

“Sudah Tante bilang, sekolah bukan untuk mencari teman, tapi mencari ilmu, Rafa.”

“Tapi teman-teman Rafa baik-baik, Tante. Apalagi Feri. Sudah tampan, pinter, baik lagi. Tadi Rafa dikasih coklat. Terus Rafa juga diajari membaca dan menulis.”

“Memangnya gurumu tidak mengajarinya?” tanyanya setengah membentak, “besok kamu sudah tidak usah sekolah lagi! Percuma,” pungkas Sari.

“Memangnya tante mau mengajariku membaca dan manulis? Teman-temanku semua sudah bisa baca dan tulis karena mereka sudah sekolah TK. Rafa malu, Tante. Rafa tadi ditertawakan banyak anak karena tidak bisa baca dan tulis.”

Sari terdiam. Harusnya dia memang sudah menyekolahkan gadis kecil itu sedari TK, namun kegalauan jiwanya telah mengorbankan bukan hanya dirinya. “Tante akan mengajarkanmu baca dan tulis. Kamu harus tetap sekolah, tapi tidak usah berteman. Dengan siapapun.” Perempuan berparas cantik itu bergegas ke kamarnya. Duduk di depan cermin. Menyisir rambutnya meskipun tak ada sehelai pun yang berantakan.

Air matanya tumpah, membasahi seluruh wajahnya. Air matanya, meskipun sudah berkali-kali tumpah, namun tak ada habis-habisnya. Air mata itu bersumber dari pengalaman buruknya beberapa tahun silam ketika ia mulai mengenal seorang lelaki bernama Sholeh, tapi tidak ada kesalehan padanya.

Pertama kali kenal Sholeh, lelaki itu terlihat sangat baik, juga pintar. Sholeh selalu mendapat rangking satu dalam kelasnya. Hampir setiap tahun ia selalu menjadi siswa teladan di sekolahnya. 

Banyak sekali perempuan yang kagum dengannya, di antaranya adalah Sari.

Cinta Sari rupanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ketika Sari duduk di bangku taman sekolahnya seorang diri, Sholeh menghampirinya. Tanpa basa-basi yang terlalu panjang, Sholeh menyatakan cintanya pada Sari.

Tentu saja, Sari yang sejak semula telah mengagumi Sholeh, langsung menerima tembakannya itu. Sari sangat bahagia. Mereka pun jadian.

Ketika mereka lulus SMA, Sholeh mengajak Sari untuk jalan-jalan ke tempat wisata. Saking menikmatinya, tak terasa siang telah tergantikan oleh malam. Pantulah cahaya bulan dan gemerlap bintang di langit memperindah suasana.

***


“Sari, kekasihku.”

“Iya, Mas.”

“Bolehkah aku berbicara padamu?”

“Dari tadi kita juga sudah bicara, Mas.”

“Ini pembicaraan yang serius.”

“Seserius apa sih, kok sampai segitunya?”

“Aku ingin kita putus.”

Sari terbelalak. “Maksud kamu apa? Mengapa tiba-tiba tanpa alasan yang pasti kau memutuskanku? Apa kau sudah tidak mencintaiku?”

“Bukan begitu, Sari. Justru aku ingin kita putus karena aku sangat mencintaimu.”

“Aku benar-benar tidak paham dengan apa yang kau katakan.”

“Aku ingin kita putus dalam hubungan seperti ini. Aku ingin kita tidak pacaran lagi. Aku ingin kita menjadi pasangan yang sah. Aku ingin kau menjadi istriku, dan ibu dari anak-anak kita kelak.” Untuk pertama kalinya Sholeh menyentuh tangan Sari. “Maukah kau menikah denganku, Sari?”

“Apa ini tidak terlalu cepat, Mas? Memangnya orangtua Mas tidak menyuruh untuk kuliah terlebih dahulu?”

“Kuliah kan bisa setelah menikah, Sayang.”

“Apakah orangtua Mas sudah tahu tentang hubungan kita?”

“Malam ini juga aku akan membawamu ke rumah, akan kuperkenalkan kau dengan orangtuaku.” Suara Sholeh mantap. Meyakinkan.

Rumah yang luas itu kosong. Tidak ada siapa pun di rumah itu. Rupanya orangtua Sholeh tidak sedang berada di rumah. Sebenarnya Sholeh sudah tahu akan hal itu.

“Abi sama Ummi sedang keluar, kita tunggu saja, mungkin sebentar lagi pulang. Kau mau minum apa?”

“Sudahlah, Mas. Sari pulang saja ya? Ini sudah malam.”

Sholeh duduk di sebelah Sari. Sangat dekat. Tangan Sholeh membelai lembut rambut Sari yang tergurai panjang. Entah angin apa yang kemudian mendorong kepala Sholeh hingga sedikit miring, lalu mendekat ke wajah Sari. Napasnya memburu. Sari hanya terdiam pasrah. Matanya terpejam. Dan Itu adalah ciuman pertama yang dirasakan Sari.

Matanya basah, lalu jatuhlah berkeping-keping air mata dari sudut matanya. Sholeh bermain sangat halus, hingga tak disadari oleh Sari, malam itu juga, keperawanannya telah direnggut oleh pria keparat itu.

Setelah kejadian itu, Sholeh tiba-tiba menghilang. Pindah rumah tanpa memberi kabar pada Sari. Hingga pada suatu hari Sari mendapat surat darinya, Sholeh mengatakan kalau dia telah menikah dengan gadis pilihan orangtuanya. “Semoga kejadian malam itu tidak membuatmu hamil.

Kalau hamil, gugurkan saja kandunganmu.” Begitulah kurang lebih penutup kalimat surat itu.

Sari hamil. Sudah empat bulan. Tidak mungkin baginya menggugurkan kandungan itu. Betapapun, anak dalam kandungannya itu tidak pernah salah, dan ia tidak berhak untuk mendapat hukuman dari perbuatannya itu.

Tidak ada yang tahu tentang kehamilan Sari kecuali sahabat dekatnya, Wulan. Wulan lah yang kemudian membawa Sari ke tengah-tengah hutan dan merawatnya di sana selama kehamilan. Hingga lahir gadis cantik yang kemudian dinamainya Rafa. Ya. Rafa. Gadis malang itu bukan anak angkat dari Sari, bukan pula anak yang dibuang ibunya.

Hanya Sari tidak mau anak semata wayangnya itu tahu bahwa ibunya adalah manusia bejat, lebih bejat dari yang dikiranya itu.

“Maafkan Rafa, Tante. Izinkan Rafa untuk terus sekolah. Rafa janji tidak akan berteman dengan siapapun.”

Rafa mengusap air mata Sari dengan telapak tangan mungilnya itu.

“Maafkan Tante juga, Rafa. Tante hanya tidak ingin ada seseorang yang menyakitimu.”


Cerita di atas hanyalah cerita Fiktif, Lalu apa yang bisa kita jadikan pelajaran dan bisa kita ambil hikmah cerita di atas.

0 Response to "Kenangan Yang Suram"

Post a Comment

Tinggalkan Komentar Anda

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel