Cerita Sunan Gunung Jati dan Putri Ong Tien

Ong Tien

Pada tahun 1479, Syekh Syarief Hidayatullah yang dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati menetap di kota Cirebon, Jawa Barat.

Di kota tersebut, Sunan Gunung Jati memiliki misi penyebaran dan pengembangan ajaran Islam.
Tidak hanya itu sunan Gunung Jati juga dinobatkan sebagai penegak Panotogomo Islam oleh para Wali di seluruh Jawa Barat.

Pusat pemerintahan terletak di Keraton Kasepuhan Sunan Gunung Jati sebagai penguasa Keraton Kasepuhan lahir pada tahun 1448 di Pasai Sumatera Utara.

Beliau telah mendalami ilmu agama Islam sejak kecil. Pada usia 14 Sunan Gunung Jati Muda belajar dari ulama ternama di Mesir.

Beliau sempat berkelana ke berbagai negara untuk mempelajari berbagai macam Mazhab, seperti Mazhab Maliki, Mazhab Syaff'i, Mazhab Hambali dan Mazhab Hanaf Selain mengelilingi Jazirah Arab, Sunan Gunung Jati diketahui pernah singgah ke Negeri China untuk memperdalam ilmu agama Islam dan mempelajari ilmu ketabiban (ilmu kedokteran), hingga pada akhirnya Sunan Gunung Jati mendapatkan gelar Syekh Maulana Insan.

Kamil di Negeri China. Dalam persinggahannya tersebut, Sunan Gunung Jati menyebarkan agama Islam dengan cara berpraktik sebagai tabib menggunakan sabda dari Nabi Muhammad SAW, "Berwudhulah kamu dan shalatlah, sesungguhnya dalam shalat itu ada penyembuhan (H. R. Ibnu Hajah)".

Dalam waktu singkat, nama Sunan Gunung Jati semerbak di kota raja dan dalam persinggahannya di Negeri China tersebut.

Pada tahun 1481 Sunan Gunung Jati menikahi Puteri China bernama Tan Hong Tien Nio (Puteri Ong Tien), anak seorang Kaisar dari Dinasti Ming. Pengembara Portugis Tome Pires (Cortesao, 1, 1944, 179) berpendapat, bahwa beberapa penguasa China dengan sukarela mengirim salah seorang anak perempuannya kepada seorang Jawa untuk dinikahi, diiringi sejumlah besar pengikut dan sebuah kapal penuh kepeng.

Kisah perkawinan Syekh Syarief Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) penguasa politik dan keagamaan di kota Cirebon dengan Tan Hong Tien Nio (Puteri Ong Tien) di Negeri China, mendukung informasi Tome Pires tersebut.

Pernikahan antara Sunan Gunung Jati dan Puteri Ong Tien, diperkirakan berindikasi politik untuk mencari dukungan bangsa China (Muslim Tionghoa) yang sudah lama menunjukkan eksistensinya dalam rangka menyebarkan dan mengembangkan ajaran Islam di kota Cirebon Jawa Barat yang berpusat pada pemerintahan Keraton Kasepuhan Dengan menikahi Putri Ong Tien secara politik, Sunan Gunung Jati memilik dukungan tidak hanya dari umat Islam setempat tetapi juga dari masyarakat etnis Tionghoa yang waktu itu jumlahnya sudah cukup banyak.

Pernikahan tersebut tentu saja memiliki banyak manfaat Selalin kuatnya kekuasaan juga bisa mempermudah dalam penyebaran Islam Hal tersebut, juga diungkapkan oleh Sumanto Al Qurtuby dalam bukunya Arus Cina Islam Jawa (2005: 164-165), bahwa: Satu hal yang menarik dari sejarah Sunan Gunung Jati adalah wataknya yang akomodatif dalam menyebarkan ke-Islaman.

Dalam rangka menarik simpati komunitas China, Sunan Gunung Jat selalu menampilkan produk kesenian budaya yang mencerminkan 3 identitas Islam, Hinduisme dan China yang masing-masing eksis di Cirebon Pada tahun 1537, Sunan Gunung Jati sebagai penguasa Keraton Kasepuhan yang sudah lanjut usianya (89 tahun) mundur dari jabatannya untuk mendalami ilmu dakwah agama Islam dan digantika oleh para keturunannya.

Berdasarkan catatan sejarah pada tahun 1568, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun di kota Cirebon (dulu Carbon), dan dimakamkan di daerah Sembung Gunung Jati (Kompleks Pemakaman Astana Gunung Sembung) sekitar 5 km dari pusat kota Cirebon, Jawa Barat. (Dikutip Dari Majalah Langitan)

0 Response to "Cerita Sunan Gunung Jati dan Putri Ong Tien"

Post a Comment

Berkomentarlah yang bijak dan sesuai dengan isi konten. Komentar dengan Link hidup/mati tidak akan disetujui.

(✔). Boleh berkomentar menggunakan bahasa jawa

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel