Akhlak Mulia Adalah Asumsi Prioritas Manusia

Akhlak Mulia Adalah Asumsi Prioritas Manusia

Sandang, pangan, papan adalah kebutuhan pokok yang dibutuhkan oleh manusia. Dalam kaca mata lebar, mayoritas seorang hidup di dunia ini masih membutuhkan yang namanya fasilitas. Entah apapun itu, intinya manusia tetap membutuhkan yang namanya fasilitas.

Contoh kecil saja adalah baju. Baju bagi manusia adalah hal yang sangat penting sebagai fasilitas hidup manusia. Pula, dalam fasilitas tersebut juga ada manfaat dan faedah tersendiri, serta fungsi-fungsinya. Baju sendiri untuk manusia sendiri sebagai penghias, penutup, sekaligus sebagai life style.

Namun, dibalik itu semua – fasilitas yang dapat di kelompokkan disandang, pangan, papan dan yang lain-lain – ternyata ada yang lebih prioritas lagi. Bahkan, menjadi asumsi wajib disetiap individu, yang saat ini dikatakan mengalami degradasi.

Kebutuhan yang satu ini adalah lebih-melebihi kebutuhan pokok. Pasalnya, berkaitan dengan sepiritualitas, intelektualitas, sosialitas, yang disitu dapat menyebabkan keharmonisasian diantarnya.

Hal tersebut adalah akhlak, dan tentunya disitu adalah Akhlakul karimah. Atau yang secara mayoritasnya seseorang menyebutnya adalah akhlak yang mulia. Kebutuhan manusia terhadap akhlak secara mutlak sendiri, selalu ada kaitannya dengan heirarki mereka. Baik pada manusia dan sosialitas, maupun pada Tuhan Sang Pencipta.

Aklak yang mulia sendiri juga merupakan sumber kemuliaan pribadi. Baik dimata sosial dan tauhid. Selain itu, akhlak juga ada kaitanya dengan terealisasi serta terciptanya kehidupan masyarakat yang mulisa. Jika diditu setiap kepala atau individu memakai jubah akhlakul karimah  tanpa menutupi kemunginan, dan bahkan akan menciptakan peradaban yang sangat baik di muka bumi ini.

Yang dimana peradabapan tersebut bisa dikatakan peradapan yang hakiki. Peradaban yang sesuai dengan fitrah manusia sebagai hamba denga pengagungan sepenuhnya terhadap-Nya. Juga peradaban yang dapat menyeimbangkan antara akal dan keimanan.

Dalam konteks bermasyarakat, tentunya manusia yang diberi label sebagai makhluk sosial selalu meng-implementasi-kan dan melakukan serta terwujudnya sebuah interaksi. Berangkat dari situ, manusia juga harus pintar-pintar memanajemen hubunganya antar sesama manusia.

Dimana seseorang harus bisa mengalah dengan ego yang kental dan hampir dimiliki oleh setiap insan. Dengan adanya akhlak yang mulia, secara tidak sengaja manusia seakan-akan dituntut untuk mengorbankan sebuah ego dengan kelapangan dada.

Yang disitu dapat menciptakan sebuah suasana harmonis yang erat dengan hubungannya antar sesama manusia. Selain, itu bagi individu juga dapat mengontrol dan mengendalikan sekaligus terkurangnya ego dan kepentingan pribadi.

Maka dari itu, asumsi yang sangat prioritas sekali selain sandang, papapan, dan pangan bagi manusia, adalah akhlak yang mulia. Jika seseorang mempunyai aklak yang mulia seperti beradab dan yang lainya. Tanpa dirasa oleh orang tersebut mendapat peringkat dan rangking tersendiri dipandangan manusia dan Di sisi Tuhan khususnya. Bahkan dengan akhlak yang mulia, Kita sesame dapat menciptakan suasana hidup sosial yang harmonis. []

Anas Khoirudin

0 Response to "Akhlak Mulia Adalah Asumsi Prioritas Manusia"

Post a Comment

Berkomentarlah yang bijak dan sesuai dengan isi konten. Komentar dengan Link hidup/mati tidak akan disetujui.

(✔). Boleh berkomentar menggunakan bahasa jawa

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel