Bercengkrama dalam Cinta | Chapter 1

Bercengkrama dalam Cinta

DI malam yang memesona itu, ayah duduk di kursi bambu, samping rumah. Aku duduk di pangkuannya, merasakan kenyamanan seperti dalam pangkuan malaikat. Sinar cahaya bulan dan gemerlap gemintang memberi kehangatan pada bumi yang berselimutkan rumput hijau.

Pohon -pohon asyik menari sambil berdendang. Semilir angin yang berhembus tidak mengurangi kehangatan cinta. Semuanya terasa indah, bagaikan bumi yang mengubah diri menjadi surga.

“Bulan, bintang, dan matahari itu bukan Tuhan, seperti yang diperkirakan Nabi Ibrahim sebelum mengenal-Nya.

Tapi melalui ketiganya itulah Nabi Ibrahim mengenal Tuhan.”

“Memangnya bagaimana Nabi Ibrahim kok bisa menge-nal Tuhan lewat bulan, bintang, dan matahari itu?” tanyaku.

“Kesadaran tentang wujud Tuhan itu fitrah manusia dan naluri yang melekat pada pribadi setiap manusia. Karena fitrah, maka kesadaran tentang wujud Tuhan tidak dapat dipisahkan dari manusia, hanya tingkatannya yang berbeda-beda.

Pada satu kesempatan panggilan itu sangat kuat, terang cahayanya melebihi sinar matahari dan di sisi lain lemah, remang serta redup. Meskipun begitu, sumbernya tidak lenyap, akarnya pun tidak mungkin tercabut.

Tanpa mendefinisikannya, kita dapat berkata ia adalah dorongan untuk melakukan hubungan antara jiwa manusia dengan suatu kekuatan itu, diyakini Mahaagung. Manusia merasa bahwa kekuatan itu adalah andalannya.

Masa depan berkaitan erat dengan kekuatan itu serta kemashlahatan tercapai melalui hubungan baik dengan-Nya. Semua manusia begitu, walaupun nama yang disandangkan untuk- Nya bermacam- macam, seperti Yang Mahakuasa, Tuhan, Yang Di Atas, Yahwa, Allah, dan lain sebagainya.

“Nabi Ibrahim sangat percaya kepada Allah sebagai Tuhan semua makhluk. Dia menemukan- Nya setelah mengamati alam raya ini, ya bulan, ya bintang, ya matahari, dan mungkin yang lain-lain juga. Beliau berkesimpulan bahwa semua tak akan berwujud kecuali ada yang mewu-judkannya. Kalau kamu melihat kursi, bisakah terbayang kalau kursi itu tidak ada yang membuatnya? Tentu tidak kan!


Kalau memerhatikan makhluk -makhluk yang ada di sekitarmu yang demikian hebat dan sempurna, maka kamu akan sampai pada simpulan bahwa pasti ada penciptaannya dan sang Pencipta itulah yang dinamai ‘Tuhan’.

Nabi Ibrahim pernah menyatakan bahwa bintang adalah Tuhan, namun saat bintang menghilang, beliau sadar Tuhan tidak mungkin meninggalkannya. Ketika melihat bulan, tetapi bulan pun kemudian tidak terlihat lagi, maka bulan itu pun tidak diakuinya sebagai Tuhan.

Selanjutnya, Nabi melihat matahari, yang lebih besar dan lebih bercahaya dibanding bulan, maka beliau mengira bahwa itulah Tuhan, tetapi ketika matahari terbenam, Nabi pun menolaknya sebagai Tuhan. Tuhanlah yang menciptakan semua itu.

Tuhan harus selalu wujud dan hadir bersama manusia, kapan dan di mana saja. Ketika itulah beliau menghadapkan jiwa raganya kepada Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta seluruh bagian dari yang terkecil sampai yang terbesar dari alam raya.”

“Tapi Ayah, Allah itu kan cuma satu. Tapi kok ada di mana saja, itu maksudnya bagaimana?”

Ayah mengangkatku dari pangkuannya dan meletak-kanku di sebelahnya, mungkin pahanya yang dipakai menopang tubuhku ini merasa keletihan atau mungkin kakinya kesemutan. Tubuhku memang cukup gempal.

“Pengetahuan manusia tentang sifat-sifat dan kuasa Allah itu sangat sedikit dan pertanyaanmu itu cukup sulit untuk dijawab. Memang, tidak semua pertanyaan bisa dijawab oleh manusia. Meskipun begitu, Ayah akan memberi contoh salah satu ciptaan Allah yang kita ketahui, mudah-mudahan ini dapat membantu menghilangkan kebingung-anmu.”

“Matahari hanya satu di planet tata surya kita, sinarnya ketika terlihat di Jakarta, dapat juga terlihat di Surabaya, Makassar, Papua, Australia, Malaysia dan masih banyak negara lain.

Bagaimana bisa makhluk yang satu ini bisa berada di sekian banyak tempat dalam saat yang sama? Itu karena sifat matahari dengan cahayanya begitu hebat sehingga dia bisa seperti itu. Untuk diketahui bahwa masih banyak planet-planet lain yang kemampuannya jauh melebihi matahari.”

“Kuasa Allah tidak terbatas, sifatnya Mahasempurna, tidak ada arti matahari dan sinarnya dibanding dengan kuasa Allah, walaupun semua makhluk dihimpun kuasa dan kemampuan, lalu dibandingkan dengan kuasa Allah, maka itu serupa dengan setetes air di samudra, sebiji pasir di padang pasir yang luas. Karena memang kuasa Allah tidak terbatas dan kita manusia tidak mampu membayangkan betapa luas dan besar kuasa-Nya serta betapa istimewa dan indah sifat-sifat- Nya.”

Aku manggut-manggut mendengar penjelasan Ayah yang luar biasa itu. Kulihat pepohonan juga ikut mengang-guk dan bintang-bintang di langit juga ikut mengedipkan matanya.

“Mir.”

“Iya, Ayah.”

“Kalau ayah lihat bintang-bintang gemerlapan di langit sana, Ayah jadi ingat Ibumu.” Mata Ayah memandang bintang-bintang itu.

“Apakah Ayah masih mencintai Ibu?” tanyaku.

“Tentu saja. Ibumu adalah cinta pertama Ayah. Kalau kata Kahlil Ghibran, setiap orang pasti teringat cinta pertamanya dan mencoba menangkap kembali hari-hari asing itu, yang kenangannya mengubah perasaan direlung hatinya dan membuatnya begitu bahagia di balik kepahitan yang penuh misteri. Dulu Ayah mati-matian mendapatkan Ibumu, saingannya banyak.

Dan, mungkin karena Ayah yang paling ganteng, jadi Ibumu memilih Ayah.” Kami saling berpandangan, lalu sama-sama tertawa.

Setelah tertawa itu reda, aku menanyakan pada Ayah,

“Lalu kenapa Ayah menikah lagi, kalau Ayah masih cinta sama Ibu?”

Ayah tidak langsung menjawab. Ia memperbaiki posisi duduknya dan membetulkan kacamatanya yang tidak akan jatuh itu. Ia berkata sambil membelai lembut rambutku: “Betapapun, Ibumu itu sudah tiada. Dan nanti kamu akan tau sendiri, bagaimana seorang lelaki itu sangat membutuhkan perempuan untuk mendampinginya, bukan hanya untuk menjadi istri, tapi juga menjadi ibu untuk anak-anaknya.”

“Tapi tetap saja dia itu ibu tiri. Di mana -mana ibu tiri itu jahat. Amir gak mau punya ibu tiri. Teman -temanku selalu mengejekku karena aku punya ibu tiri.” Aku berlari ke kamarku. Kubenamkan wajahku di atas bantal. Aku tak kuat lagi menahan kesedihan ini. Air mata berlinang dari ujung mataku dan membanjiri bantal.

Rupanya Ayah mengikutiku dari belakang dan berhenti di depan pintu. Dari balik pintu Ayah berkata lirih,

“Ayah punya cerita bagus nih, mau dengar gak?”

Itulah kelemahanku, aku sangat suka dengan cerita-cerita Ayah. Aku tak pernah bisa melewatkannya meskipun sedang nesu1 seperti sekarang ini. Ayah itu lebih hebat dari penceramah-penceramah yang pernah kudengar di radio-radio dan televisi.

Aku membukakan pintu dan Ayah masuk ke dalam kamarku, lalu duduk di sampingku sambil membelai rambutku, ayah bercerita tentang seorang sufi yang sangat konyol, yaitu Abu Nawas. Seketika itu air mataku kering dan berubah menjadi tawa.

Ayahku adalah seorang yang berperawakan tinggi besar, rambutnya ikal sebahu, kulitnya putih berseri, wajahnya selalu sumeh2 dan murah senyum. Ayah selalu memakai pakaian berwarna putih. Kata Ayah, Rasulullah itu suka dengan warna putih dan pakaian Rasulullah selalu putih.

Ayahku adalah seorang kiai, punya pesantren dan santri. Rumah inilah pesantrennya. Aku, ibu tiriku, dan adikku adalah santrinya. Ayah adalah orang yang sangat religius, tapi ia bukan orang yang menampakkan kereligiusannya pada khalayak umum.

Ayah mengenalkan-ku dengan Tuhan sejak aku masih dalam kandungan, begitu aku lahir Ayah segera menyebut nama Tuhannya di kedua telingaku agar aku selalu ingat dengan Tuhan.

Setiap selesai makan malam, ayah mengadakan majelis kecil di rumah, yang diikuti oleh kami sekeluarga, aku, ibu tiriku, Farah, dan Ayah sebagai pimpinannya. Dalam majelis itu, ayah menanamkan dalam hati kami bahwa Islam itu agama yang begitu luhur, begitu indah, begitu kasih sayang, begitu damai, bukan agama yang keras dan jahat.

Ayahku, selain menjadi ayah, juga menjadi ibu. Ibu kandungku meninggal saat aku lahir di dunia ini. Memang, sekarang ayah sudah menikah lagi dengan seorang perempuan yang kata orang-orang lebih cantik dari ibu kandungku dulu. Tapi aku tak pernah menganggapnya ada.

Ayahku adalah ayah dan ibuku. Dia hanya ibu tiriku. Ibu tiri yang jahat, yang merebut hati ayah dari ibu kandungku. Aku sangat benci padanya.

Pernikahan ayah dan ibu tiriku itu kemudian dikaruniai seorang putri yang saat ini sudah berusia dua tahun, empat tahun lebih muda dariku. Namanya Farah. Sejak kelahirannya, aku merasa kasih sayang ayah mulai berkurang. Dan itu membuatku semakin benci dan muak dengan ibu tiriku.

***

Suatu hari aku bertanya pada ayah, “Ayah, katanya, surga itu ada di telapak kaki ibu, lalu bagaimana denganku. Aku tak punya ibu kandung. Bagaimana caranya aku masuk surga?”

“Sebenarnya ibumu itu tak pernah mati dan surga itu tetap selalu ada. Ibumu hanya pindah alam saja. Ia masih sering memantaumu dan pasti bangga jika melihatmu berprestasi. Kamu tak perlu mencuci kakinya atau mempersiapkan sandal yang terbuat dari emas dan permata. Cukup kamu doakan saja supaya ia selalu bahagia di alam sana.”

“Yah, bagaimana ya dengan anak-anak yang kaki ibunya pincang?”

“Anak itu tetap harus patuh pada ibunya, selagi masih dalam kebaikan. Jika ibunya menyuruh dalam kejelekan, anak itu harus menolaknya dengan tutur kata yang super lembut, dan tidak boleh menggoreskan luka di hatinya.”

“Kalau pada kaki ibu tiri itu ada surganya gak, Yah?” Aku sebenarnya ingin menanyakan hal itu, tapi ibu tiriku tiba -tiba muncul dan duduk di sebelahku.

Mungkin aku akan menanyakan di lain waktu saja atau mungkin tidak usah menanyakannya sama sekali. Ayah pasti marah jika aku bertanya seperti itu.

Aku beranjak dari tempat duduk dan berniat masuk ke dalam kamarku. Baru mau membuka pintu kamar, ayah memanggilku dan menyuruhku untuk kembali. Aku tidak berani menatap wajah ayah. Aku merasa, setiap ibu tiriku itu datang, ketika itu juga air muka ayah berubah menjadi ganas dan menjadi merah padam seperti monster yang siap menerkam mangsanya. Aku lebih suka bercengkerama hanya berdua sama ayah.

Kajian yang diberikan ayah setelah makan malam juga semakin kesini semakin berbeda. Ayah lebih memerhatikan ibu tiriku dan mempercepat kajiannya jika Farah menangis, padahal aku masih haus akan ilmu yang di sampaikan.

Kadang aku meminta waktu sendiri. Tapi kadang ayah lebih memilih mereka, masuk ke dalam kamar dan aku ditinggalkan sendirian. Kadang di situ aku merasa sedih.

Setelah kejadian itu, kadar kebencianku semakin bertambah dan semakin kutampakkan kebencianku pada ibu tiriku.

Aku tak pernah bicara padanya, aku tak mau dia menyisir rambutku, aku tak mau dia mencuci pakaianku, aku sering menyembunyikan sandalnya, aku sering menyem-bunyikan bedaknya, aku tak mau lagi minum teh buatannya, bahkan aku pernah mencampurkan garam pada tehnya yang mau diminum dan juga pernah mencampurkan cabe hingga ia kepedesan.

Ketika itu aku merasa sangat puas. Aku tertawa cekikikan dalam kamar menahan melepas geli. Kadang aku ingin mencampur racun pada minumannya, tapi aku belum tega.

Kejadian itu terus berulang-ulang setiap harinya hingga suatu ketika ayah mendatangiku yang dalam kesendirian, lalu duduk di sisiku. Aku tak berani menatap matanya yang terdapat garis-garis merah pada bagian putihnya. Wajah yang selalu berseri itu sudah tidak tampak lagi keseriannya. Napasnya mulai tidak teratur, tapi ia mencoba untuk tetap rileks.

“Ayah kecewa sama kamu.” Kalimatnya terasa berat diucapkan dan lebih berat lagi untuk didengar. Aku benar-benar tak bisa mendengar kalimat yang belum pernah sekalipun kudengar dari bibir ayah. Aku tak kuasa membendung air mataku. Seketika air mataku mengucur sangat deras dan kurasakan seperti mata air darah yang mengalir dan ingin mencongkel kedua bola mataku.

Ayah terdiam beberapa saat. Kulihat matanya bertambah merah dan sedikit berkaca-kaca, saat ia berkedip, berlinanglah beberapa tetes air matanya. Ayah memperbaiki posisi duduknya dan kembali mengatur napasnya.

Ayah berbicara tanpa melihat ke arahku. “Surga itu ada di setiap kaki para ibu, bukan hanya pada ibu kandung.”

Selanjutnya: Bercengkrama Dalam Cinta | Chapter 2

Belum ada Komentar untuk "Bercengkrama dalam Cinta | Chapter 1"

Posting Komentar

Berkomentarlah yang bijak dan sesuai dengan isi konten. Komentar dengan Link hidup/mati tidak akan disetujui.

(✔). Boleh berkomentar menggunakan bahasa jawa

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel