Dua Sisi Pesantren Tarbiyatut Tholabah (Pendidikan Al-Qur'an)

Dua Sisi Pesantren Tarbiyatut Tholabah (Pendidikan Al-Qur'an)

Pesantren secara umum diartikan sebagai lembaga pendidikan tradisional, (traditional educational institutions) di mana para santri menetap bersama kiai di satu kawasan dalam kurun waktu tertetu. Namun kendati berada dalam satu distrik yang sama bukan berarti mereka tinggal dalam satu ruangan yang sama pula. Lazimnya para santri bertempat tinggal di suatu bangunan berbilik dan dengan jarak yang relatif dekat kiai berada di kediamannya.

Di pesantren para santri menimba ilmu-ilmu agama. Dari ragam ilmu agama tersebut biasanya yang menjadi objek kajian adalah Tauhid, Akidah, Fikih, Faraid, Akhlak, Hadis, Al-Quran beserta ilmu Tajwid.

Meskipun banyak variasi disiplin ilmu yang dipelajari, namun biasanya kebanyakan pesantren menitik beratkan pada satu atau dua sisi bidang tertentu, yang kemudian orang mengenalnya sebagai sebuah identitas.

Tidak lain halnya di Pesantren Tarbiyatut Tholabah. Pesantren yang berusia lebih dari satu seperempat abad ini juga memiliki idntitas sebagai pesantren yang memberi perhatian khusus pada kajian Al-Quran.


Baca ini juga: Satu Sisi Pesantren Tarbiyatut Tholabah (Pendidikan Bahasa Arab)

Hal ini tampak pada struktur kurikulum yang memuat mata pelajaran Al-Quran dan Tajwid baik di lembaga formal maupun non-formal yang dinaunginya.

Sebagaimana pada lembaga PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Pada tahapan ini, anak-anak sudah diperkenalkan dan diajarkan membaca huruf-huruf hijaiyah oleh para guru.

Begitu pula pada tataran TK, MI, MTs, MA, hingga Perguruan Tinggi. Semua santri diajarkan kedua ilmu tersebut dengan komposisi materi yang berjenjang.

Pesantren Tarbiyatut Tholabah berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga konsistensinya dalam mengembangkan kemampuan membaca Al-Quran para santri.

Terkait hal ini, sudah banyak usaha yang dilakukan pesantren, di antaranya adalah membangun sinergitas antar unit lembaga yang ada baik formal maupun non-formal dan selalu memeliharanya agar tetap seimbang.

Hal demikian dapat dilihat bagaimana di lembaga formal, ia selalu berupaya meningkatkan kualitas tenaga pengajar dengan memberikan pelatihan-pelatihan berkala. Kemudian di lembaga non-formal selalu ada pendampingan dari para pengurus pesantren.

Perihal pengajian Al-Quran, pengurus sebagai perpanjangan tangan pengasuh telah membuktikan keseriusannya dalam mendampingi santri. Keseriusan tersebut terlihat dari upaya mereka mengondisikan santri-santri agar tidak pernah lalai dari aktivitas membaca Al-Quran.

Setiap selepas salat subuh pengurus langsung menggiring para santri ke musalah dan membaur ke masing-masing kelompok yang di sana sudah dihadiri ustadz dan ustadzah. Dan aktivitas ini juga berlangsung pada malam hari setelah salat Isya.

Bahkan aktivitas membaca Al-Quran dijadikan sebagai bentuk sangsi bagi santri yang didapati melanggar peraturan. Biasanya santri akan diminta berdiri di hadapan masjid atau kantor pondok kemudian membaca beberapa juz dengan lirih dan terkadang sampai menghafal yang selanjutnya disetorkan ke ustadz atau ustadzah yang ditunjuk.

Tidak hanya berhenti pada fase manajemen dan kualitas tenaga pengajar untuk memperoleh out put terbaik, pesantren ini juga sangat selektif dalam memilih metode pembelajaran. Beberapa metode sudah pernah terapkan hingga pada metode yang dipakai beberapa tahun terakhir ini. Hal itu semata-mata berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi yang dihadapi.

Kajian kedua ilmu Al-Quran dan Tajwid sendiri mendapat perhatian khusus dari kebanyakan masyarakat awam, yang artinya mereka akan menilai kepandaian sosok santri berdasarkan taraf kemampuannya membaca Al-Quran.

Bahkan terkait dengan prefensi masyarakat terhadap pesantren, fenomena seperti ini memiliki pengaruh cukup besar. Maka tidak heran jiak sering didapati kebanyakan orang tua mengirim anakanya ke pesantren dengan alasan agar dapat membaca Al-Quran dengan baik seperti yang mereka pernah saksikan dari orang lain.

Melihat keseriusan dan tekat pesantren yang satu ini dalam membimbing santri pada kapasitas genial (khususnya bidang Al-Quran) dan disertai bukti keberhasilannya selama puluhan tahun dalam menghantarkan santri di pintu gerbang prestasi, maka sdah tidak ada alasan lagi bagi masyarakat untuk tidak memilih Tarbiyatut Thoabah sebagai alternatif utama.



Penulis: Mr. Kholif.En Santri Ponpes Tabah

0 Response to "Dua Sisi Pesantren Tarbiyatut Tholabah (Pendidikan Al-Qur'an)"

Post a Comment

Berkomentarlah yang bijak dan sesuai dengan isi konten. Komentar dengan Link hidup/mati tidak akan disetujui.

(✔). Boleh berkomentar menggunakan bahasa jawa

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel