Jatuh Cinta di Penghujung Senja

Jatuh Cinta di Penghujung Senja
Sumber foto: Fb Faikhotur Rohmah
Namanya Arina, gadis desa yang berkesempatan mengecap pendidikan di perantauan.  Puluhan tahun dilalui Arina dengan melanglang buana menyelami samudra keilmuan dari bilik pesantren satu ke pesantren lainnya. Pintu-pintu pesantren seperti rayuan kekasih yang mendekap erat jiwa Arina untuk datang dan meneguk kerinduan.

Kehausan menyelami goresan tinta para ulama Salafussalih yang tersimpan di balik deretan huruf-huruf arab membuat Arina laksana meneguk air laut, tidak ada habisnya dan semakin membuatnya merasakan dahaga tenggorokannya. Ilmu seperti candu, yang sejenak tak dipedulikannya menjadikan jiwa Arina meradang dan membuatnya merasa semakin hina, semakin tak berdaya, dan semakin tertunduk malu ketika berpikir Tuhan telah begitu baik berkenan meniupkan ruh dalam dirinya ketika berusia empat bulan di kandungan ibunya.

Lantas, apa gerangan yang dapat dilakukan Arina untuk menyatakan rasa syukurnya atas berbagai rahmat Tuhan dalam dirinya?

Gadis cilik dari desa telah tumbuh dewasa. Kematangan usianya telah banyak dilirik orang-orang di sekitarnya. Bapak ibunya, semakin hari semakin gelisah, gadis kecilnya 32 tahun yang lalu tidak lagi dapat disebut remaja. Silih berganti para Nyai di pesantren-pesantrennya tertarik untuk menjodohkannya. Berbagai nasihat baik dari para Nyai tak dihiraukannya. Arina seolah seperti Rabi’ah Al-Adawiyah yang mengabdikan sepenuhnya cintanya pada satu-satunya dzat yang tak ada bandingannya.

“Opo arep neladani Rabiah Al-Adawiyah, nduk?” tanya Nyai Fatimah.

Mendengar pertanyaan Nyai Fatimah pengasuh pesantren yang kini ditinggalinya, Arina hanya dapat menggeleng dan menitikkan air mata. Nyai Fatimah lantas mengelus pundak Arina dan memintanya untuk beristikharah, supaya lamaran yang ditujukan kepadanya dapat disikapi dengan baik dan sesuai kehendak Allah.

Arina mengangguk, ingin rasanya memeluk Nyai Fatimah yang sangat dicintai dan diseganinya. Hanya saja, setiap kali Nyai Fatimah akan menjodohkannya, Arina selalu merasakan kehinaan. Arina merasa petuah Rasulullah tentang menikah akan menyempurnakan separuh agamanya belum pantas disandangnya. Arina benar-benar tersiksa dengan kenyataan ketidaksanggupannya hanya sekadar menganggukkan kepala ketika Nyai Fatimah menjodohkannya. Sayang, semakin beristikharah Arina semakin tidak menemukan keyakinan untuk menunaikan sunah nabi Muhammad SAW yakni menikah.

Sudah ketujuh kalinya, Arina menolak perjodohan yang digagas oleh Nyai Fatimah. Bapak ibu Arina sudah tidak kuasa lagi. Berbagai rayuan telah disampaikan, tapi putri semata wayangnya tersebut seperti tak berkutik apa-apa.

“Bapak ibu, mung pengen awakmu ndang mentas nduk,” ungkap Ibu Arina suatu ketika bertandang ke pesantren.

Lagi-lagi Arina hanya mengangguk dan meminta orang tuanya untuk terus mendoakan.

“Ibu iki lek dongo yo wes mempeng,” bantah Ibu Arina sembari menghela nafas panjang dan mengelus dadanya. Melihat hal tersebut, Arina hanya mendekap takzim dan mengecup tangan ibunya. Terisak, Arina tak mampu menahan tangisnya untuk tidak pecah.

Tak kuasa, bapak Arina lantas memeluk putrinya yang masih mendekap erat tangisnya di pangkuan ibunya.

“Umurmu wes 32, nduk. Ibu wes keentekan jawaban, wes bingung ndelikke wajah marang tonggo nganggo coro koyo opo. Isin, nduk,” kata Ibu Arina diiringi tangisan.

Mendengar istrinya tidak lagi dapat mengontrol emosinya, bapak Arina meminta istrinya untuk beristighfar. Ibu Arina perlahan tenang dengan tak henti-hentinya beristighfar. Sedangkan Arina, masih saja bergelayut di pangkuan ibu memohon maaf atas berbagai hal yang menyakitkan yang telah diperbuatnya. Sebagai seorang anak, Arina belum mampu membahagiakan orang tuanya.

“Saestu ibu, Arina selalu berharap Allah menakdirkan Arina membangun rumah tangga dan memiliki keturunan yang meneladani kanjeng Nabi dan Mbah Hasyim Asy’ari,” jawab Arina lirih.

Ibu Arina yang sudah lumayan tenang mengangguk dan mencium kening putrinya. “Insyaallah, doamu dikabulke gusti Allah, nduk. Ibu yakin,”

Mendengar jawaban tegar ibunya, Arina semakin tidak mampu menahan isak tangisnya. Di setiap air mata yang terjatuh diharapkan Arina menjadi saksi bahwa dirinya tengah berharap ditakdirkan Tuhan dapat membangun mahligai rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah.

Keadaan pun hening sesaat. Ketika semua telah kembali tenang, bapak ibu Arina pamit dan nitip salam kepada Nyai Fatimah yang saat bapak ibu Arina bertandang ke pesantren, Nyai Fatimah sedang menghadiri ceramah di Bangka Belitung.

“Yawes, ati-ati. Maafkan ibu, ibu pamit ya…” ucap Ibu Arina.

Semenjak dikunjungi orang tuanya di pesantren, hari-hari Arina dihiasi kesedihan dan rasa kehinaan. Di setiap sujudnya, Arina menghamba pada Allah dan berharap selalu diberikan kekuatan menjalani takdir yang kini tengah dijalaninya.

Hingga pada suatu ketika, dalam sujudnya Arina tak lagi terbangun. Pedih yang dirasakannya telah membuatnya lupa untuk menjaga kesehatan. Tubuhnya bergetar hebat, keringat dingin menjalar membasahi mukenahnya, dan Arina pun tersungkur. Arina tidak lagi merasakan apa-apa selain gelap yang kemudian dirasakannya sirna.

Ketika terbangun, ia telah sampai pada suatu ruang yang menurutnya mencekam.

“Selamat siang Nyonya Arina. Alahmdulillah sudah senyuman, kami cek lagi ya untuk memastikan kondisi nyonya semakin membaik,” ungkap suster dengan suara lembut.

Arina mengangguk dan tersenyum. Dibiarkannya suster mengecek kondisi Arina. Arina melihat senyum merekah di bibir suster berkerudung putih.

“Selamat, keajaiban Allah hari ini semua dipastikan sangat membaik,” kata suster.

“Alhamdulillah, terima kasih sus,” jawab Arina pelan. Suster pun pamit undur diri. Selang beberapa saat bapak ibu Arina segera masuk ke ruang di mana Arina dirawat. Syukur tak terkira, Arina telah dapat kembali tersenyum. Garis-garis tua di wajah kedua orang tuanya tidak dapat disembunyikan. Senyum kebahagiaan itu merekah, dan berkali-kali ibu Arina mendaratkan kecupan sayang di kening Arina.

“Sedelok maneh pak dokter rene, memastikan awakmu apik-apik ae,” kata ibunya masih dengan senyum bahagianya.

“Arina sampun saras bu, matursuwun sanget sampun dipuntenggo,” jawab Arina.

Ibu Arina lagi-lagi hanya tersenyum dan kembali mengecup kening putrinya. Sebenarnya Arina merasakan ada sedikit hal yang berbeda dengan orang tuanya. Namun Arina berpikir, mendapati putriya sehat kembali adalah nikmat dan anugerah yang tiada tara bagi bapak ibunya.

“Pak dokter kok rada sue ya pak?” tanya ibu Arina.

“Sabar bu, paling ya sedelok maneh,” jawab bapak Arina.

“Wong suster sampun mengecek lan memastikan, Arina sampun sehat,” ucap Arina.

Ucapan Arina seperti tak diindahkan orang tuanya, karena saat bersamaan seorang dokter berperawakan tinggi datang dan mengucapkan salam. Sontak orang tua Arina lantas menyambut hangat dokter.

“Saya sudah boleh pulang kan dok, kata suster kesehatan saya sudah pulih,” kata Arina.

Dokter bernama Maulana tersenyum dan mengangguk kemudian melirik kedua orang tua Arina. Seperti memberi kode, orang tua Arina kemudian pamit keluar ruangan bersama dokter Maulana.

Sekitar sepuluh menit, bapak ibu Arina kembali masuk ke ruangan Arina dan meminta Arina untuk bersih-bersih dan bersiap-siap untuk pulang. Usai membersihkan muka, ibu Arina menyodorkan gaun putih dan meminta Arina untuk mengenakannya. Arina menolak, tapi kali ini Arina tidak dapat membantah. Gaun putih brokat yang menurut Arina cocok dikenakan untuk pernikahan tersebut dipandang ibu Arina cocok untuk menutupi wajah sayu Arina sehabis sakit.

“Sini ibu bedakin,” kata ibu membuat Arina tidak habis pikir.

“Ibu…”

“Anak perempuan menurutlah pada ibu. Mbuk menowo nang dalan ketemu jodoh,” ceplos ibu Arina.

Lagi-lagi Arina benar-benar menurut apa yang diminta ibunya. Tidak hanya sekadar mengenakan gaun layaknya gaun pengantin dan dibedakin, bibir Arina juga mendapat polesan lipstik dari tangan lembut ibunya. Meskipun orang desa, ibu Arina cukup pintar bersolek.

“Nah, sak jane sih gaune durung gemebyar  tapi ora popo, minimal wes pantes. Ayu nduk,” komen ibu Arina.

Selepas digodain ibunya, Arina bersama bapak dan ibunya segera meninggalkan rumah sakit menuju pesantren. Sesampainya di pesantren Arina segera digiring orang tuanya ke masjid. Dari kejauhan Nampak Nyai Fatimah, pak Yai segenap ustad pesantren dan beberapa santri berjejer rapi di depan pintu masjid.

Hati Arina berdegup, tidak mengerti maksud semua ini. Arina membatin mungkinkah selepas sakit dirinya menjadi begitu istimewa di pesantren? jarak antara Arina berdiri dan pintu masjid tak lagi jauh, terdengar lantunan shalawat badar menggema. Arina masih memandang bapak ibunya dan barisan Nyai Fatimah di depan pintu masjid dengan tak mengerti.

Arina benar-benar tak mengerti ketika perlahan suara hadrah diringi shalawat badar semakin terdengar. Arina melihat seorang dokter bernama  Maulana tersenyum ke arahnya. Baju yang dikenakan berwarna putih dan begitu padan dengan gaun yang kini dikenakannya.

Hati Arina berdesir, seorang dokter yang ketika di rumah sakit dilihatnya biasa saja, kini telah membuatnya tertunduk malu dan tak berani menatap lebih lama ke arahnya. Lidah Arina kelu, bahkan untuk bertanya kepada bapak ibunya tentang rencana apa yang tengah digagas bapak ibunya, Arina tak mampu. Arina menghela nafas panjang, hanya dapat menebak, mungkinkah hari ini.

Lima langkah lagi Arina telah sampai tepat di depan pintu masjid. Suasana hening, dan dokter Maulana melangkah mendekat ke arah Arina.

Arina tertegun dan menatap sekilas mata dokter Maulana, kemudian ditundukkan lagi pandangannya.

“Tujuh tahun yang lalu, saya menemukan anda hanya dalam sebatas mimpi. Hari ini, ketika anda pergi, saya bulatkan tekad untuk mengikuti. Maukah anda membersamai hidup saya?” tanya Maulana dengan tenang.

Entah karena apa, keyakinan menjalin mahligai rumah tangga begitu saja hadir dan menyusup di relung hati terdalam Arina. Tetes air mata kebahagiaan tak mampu disembunyikan Arina. Keraguan seakan sirna, tergantikan oleh buih-buih harapan dapat mengemban amanah Tuhan sebaik-baiknya dengan laki-laki yang baru saja dikenalnya.

Akad pun didengungkan, semua yang hadir bersyukur. Mulai detik ini, dua insan akan menjalani cerita takdirnya bersama. Bapak-ibu Arina, Nyai Fatimah dan pak Yai, para ustad dan segenap santri berdoa semoga dua insan asing yang direkatkan dalam tali suci pernikahan akan selalu dilimpahi rahmat Allah SWT.

Empat bulan kemudian

Di sebuah desa tempat Arina dilahirkan yakni Maguan, Kaliori hiruk pikuk tetangga sedang bersendau gurau sambil membuat adonan bugis, nogosari, klepon, bongko, dan makanan tradisional lainnya. Ada juga yang sedang mengupas bawang merah, merajang cabai, wortel, tempe, memilah toge, dan bikin sambel. Ada juga yang sedang membersihkan daun pisang dengan cara mengelap potongan-potongan daun pisang, mengelap baskom, sendok, dll. Intinya di rumah Arina sedang ada gawe besar yaitu masak-masak untuk acara selametan empat bulan kehamilan Arina.

Arina tidak diperbolehkan turut membantu dengan alasan orang hamil gak boleh capek. Padahal menurut Arina, ia tidak akan capek hanya karena turut membantu ibu-ibu memasak untuk acara selametan empat bulan kehamilannya. Tapi apa boleh buat, teguran tersebut dipilihnya untuk diiyakan. Arina pun akhirnya memilih bersantai sembari membawa novel biografi KH. Hasyim Asy’ari berjudul Penakluk Badai karangan Aguk Irawan.

“Sini biar mas yang bacain,” bujuk suami Arina yang tak lain ialah dokter Maulana.

“Inggih,” jawab Arina kemudian mendekat ke suaminya yang sedang duduk di kursi tengah.

“Sini duduk lebih dekat, biar calon bayi kita mendengar jelas kisah tentang ulama hebat Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari,”

Arina mengangguk, tersenyum, dan bersandar di pangkuan suami. Kakinya diselonjorkan, novel Penakluk Badai pun dibiarkan tergenggam di kedua tangan Arina. Suami Arina pun turut menggenggam kedua tangan Arina. Dibukanya novel tersebut sehingga nampak jelas deretan huruf-huruf berbahasa Indonesia yang mengisahkan tentang KH. Hasyim Asy’ari.

Baru dapat seperempat lembar, Arina meminta suaminya untuk menghentikan bacaannya. Dipandanginya wajah suaminya, Arina merasa terdapat pertanyaan yang selama ini belum sempat ditanyakan Arina ke suaminya.

“Maukah mas bercerita mengapa memilih Arina dan meyakini Arina mampu membersamai jenengan?” tanya Arina.

“Kenapa?” tanya dokter Maulana.

“Kulo pengen bercerita banyak hal tentang jenengan ke anak kita yang masih dalam kandungan,” jawab Arina jujur.

Dokter Maulana mengusap lembut kepala Arina, mengecup kening istrinya dengan penuh cinta dan menghela nafas sejenak kemudian bercerita.

Tujuh tahun yang lalu, saat masih kuliah di Fakultas Kedokteran di Yogyakarta dan belajar di pesantren, di tengah salat istikharahnya, Maulana tertidur dan bermimpi berkisah tentang KH. Hasyim Asy’ari dengan seorang perempuan yang tidak ia tahu siapa namanya dan di mana keberadaannya. Ia hanya tahu, perempuan tersebut sangat mengagumi KH. Hasyim Asy’ari.

Di malam kedua usai menjalankan dua rakaat salat istikharah, Maulana tidur dan bermimpi membacakan kitab Dhau’ul Misbah fi Bayan Ahkan al-Nikah karya KH. Hasyim Asy’ari kepada perempuan yang sama. Malam berikutnya, Maulana kembali bermimpi melanjutkan bacaan kitab Dhau’ul Misbah fi Bayan Ahkan al-Nikah di hadapan perempuan yang belum juga diketahui namanya. Hanya saja belum sempat kitab tersebut dikhatamkan, Maulana lebih dulu terbangun.

Setelah itu, Maulana tidak lagi bermimpi. Salat istikharah selalu didirikan, tapi Allah tidak lagi memberikan sebuah isyarat dalam mimpi tidurnya. Setiap bangun,  Maulana menangis berharap perempuan yang ditemui dalam mimpinya kembali hadir. Namun harapan tersebut tidak diijabahi Allah. Meskipun demikian, setiap kali bermunajat, Maulana yakin dan semakin yakin perempuan tersebut akan dapat ditemuinya.

Sampai tibalah saatnya  ketika Maulana telah menjadi seorang dokter, Maulana menemukan satu pasien yang membuatnya bergetar hebat saat menanganinya. Di tengah getar tubuh pasien perempuan yang menggigil, perempuan tersebut senantiasa bershalawat dan berkali-kali terdengar menyebut KH. Hasyim Asy’ari dalam setiap rintihan sakitnya.

Maulana bermunajat pada Allah di tengah hangatnya mentari Duha, dan keyakinan yang dicarinya selama tujuh tahun berasa telah ditemukan melalui perempuan bernama  Arina. Saat Arina masih belum sadarkan diri, Maulana sengaja mencari tahu tentang siapa Arina melalui orang tuanya. Saat itu lah, tidak ada lagi keraguan sedikitpun untuk melamar Arina.

Allah berkehendak, kerinduan  Maulana selama tujuh tahun dijawab oleh Allah. Kedua orang tua Arina menerima dan meminta ketika Arina sembuh untuk segera menikahinya.

“Saat itulah, aku merasakan separuh jiwaku telah kembali sayang,” ucap dokter Maulana pada Arina.

Mendengar penuturan suaminya, Arina menitikkan air mata. Betapa Allah kini telah memeluk dirinya dengan pelukan istimewa yang tidak pernah ia sangka sebelumnya.

“Semoga kelak anak-anak kita meneladani kanjeng nabi dan KH. Hasyim Asy’ari ya, mas. Ulama karismatik yang selalu di garda depan untuk membebaskan Indonesia dari penjajah. Kulo kagum, Hadratussyaikh KH. Hasyim itu bijaksana dalam menyikapi perbedaan, setiap hal-hal yang diputuskan diistikharai dan diilmuni,” ucap Arina lirih.

Kedua insan tersebut kemudian larut dalam dawai cinta, dan kembali bercerita, mendongeng tentang ulama karismatik yang tersimpan dalam novel yang kini digenggam keduanya.

Penulis adalah Santri Pondok Pesantren Mayak Darul Huda Ponorogo, Khoirul Anwar (Klewer). 

0 Response to "Jatuh Cinta di Penghujung Senja"

Post a Comment

Berkomentarlah yang bijak dan sesuai dengan isi konten. Komentar dengan Link hidup/mati tidak akan disetujui.

(✔). Boleh berkomentar menggunakan bahasa jawa

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel