Kawakibul Qolbi | Chapter 2

Kawaqibul Qolbi | Chapter 2

Asrama yang terbuat dari bambu itu berderit dan bergoyang. Lebih menderit dan menggoyang dari malam-malam yang telah berlalu. Seperti biasa, Afan dan badar menjalani hari-harinya di pesantren layaknya santri yang lain, Yo Ngaji, Yo Ngopi, Yo dolan, Yo Sekolah, Yo Lalaran, Tapi jarang apal.

Rasa sakit masih membekas dalam hati Afnan sejak beberapa hari yang lalu. Tetapi, ia berusaha meyakinkan dirinya. Pasti, Suatu saat Aisyah akan menjadi pendamping hidupnya, yang meneduhkan saat terik dan menghangatkan tatkala dingin. Kalau bukan Aisyah yang itu, Mungkin saja ada Aisyah yang lain yang menjadi pengganti Aisyah saat ini. Karena nama Aisyah di Indonesia pasti sangat banyak.

Melihat Afnan, Badar sebenarnya tidak tega. Ia selalu berusaha agar sahabatnya bisa terus bahagia, tersenyum seperti biasanya, Ia nggak mau hanya karena terserang penyakit cinta, Afnan seperti terkena gangguan jiwa.

Badar menyeduhkan kopi hitam dan membeli sebungkus rokok surya di koperasi pesantren. Berharap, agar sahabatnya bisa sedikit terhibur dari penyakit yang di deritanya.

"Kamu terlihat seperti anak goblok dan cengeng, kamu pasti sering nonton sinetron percintaan kacangan. Hanya karena Aisyah kamu jadi seperti ini." Umpat Badar yang menghampiri Afnan di angkringan sambil membawa segelas kopi hitam.

"Diam," Jawab Cuek Afnan sambil memainkan smartphonnya.

"Ini Kopi. Rokok, Kamu pasti belum ngopi kan?" Tanya Badar.

"Tumben kamu punya uang?"

"Iya, Tadi aku di sambang. Lagian, Ngapain sih,, dipikir amat, kan cewe bukan cuma Aisyah doang?" Tanya Badar sambil membuka bungkus rokoknya.

"Dulu,,. Aku juga sering ngomong seperti itu. Tapi sekarang aku sadar, jika omongan tak selalu sama dengan perasaan. Aku mencintai Aisyah itu seperti tanah kering yang mencintai guyur hujan, Aisyah adalah kesejukan lama yang telah aku dambakan. Penyambung saraf senyum yang sejak lahir telah terputus."

"Lalu, kenapa kamu bingung?"

"Bingung itu manusiawi, tolol."

"Jika kamu memang benar mencintainya, ya kamu harus berjuang."

"Sudah, aku mau tidur. Aku tidak sabar ingin melihat Aisyah besok."

"Lalu, Kopi ini buat apa?" Tanya Badar agak kesal.

"Sudah,,,, simpan saja buat besok."

"Matamu!"

Kali ini Afnan tidur lebih cepat dari sebelumnya, Afnan bermimpi didatangi sosok misterius disebuah taman yang membentang dengan ribuan spesies bunga, ia berjalan mendekatinya kemudian memetikan bunga yang paling indah dan memberikanya sambil berlutut.

Gadis itu tersenyum indah, lebih indah dari bunga yang diberikan Afnan, sayangnya mimpi itu tidak bertahan lama setelah Afnan mendengar ketokan pintu dari luar kamarnya.

"Dok,, dok, dok,,, ayoo bangun, ayo bangun, salat subuh,,, Afnan, Ayo bangun,,,," Usaha pak kabib 'Lurah pondok' membangunkan santri.

"Jiangkrek, lagi ngipi apik malah ditangeni," Ucap Afnan dalam hati.

"Ayoo,, bangun-bangun, salat,,"

"Njeh,, pak,," Jawab Afnan yang baru saja bangun dari mimpi indahnya.

Setelah bangun, Afnan langsung ke kamar Badar, Badar yang masih tertidur pulas, di odot langsung sama Afnan, sehingga Jasad dan ruhnya yang belum sepenuhnya menyatu membuat Badar ling-lung seperti orang tolol. Badar tidak bisa membantah, ia selalu manut jika Afnan sudah mengajak.

"Tumben sih, kamu bangun cepat" Tanya Badar yang setengah sadar.

"Jangkrik, aku kesel banget pagi ini. Tadi, aku mempi indah bertemu dengan gadis cantik yang belum sempat aku ingat wajahnya, lalu pak kabib datang menggedor-gedor pintu, Jiangkek tenan." Curhat kesal Afnan.

"Apa mungkin kamu sedang bermimpi dengan Aisyah?"

"Aku tidak bisa mengingat wajahnya. Mimpi itu terlampau indah, lebih indah dari bunga yang indah itu"

Afnan dan Badar beranjak ke mushola untuk salat berjama'ah bareng, setelah selesai berjama'ah. Seperti biasa, mereka lalaran kitab gundul, kitab yang tidak ada kharakatnya. Setelah lalaran, mereka berdua ngopi pagi di pinggir kali tempat mereka sehari-hari berbagi hal-hal unik dan menarik.

Kali ini, dua sejoli tidak terlambat. Afnan dan Badar berangkat pagi sekali. Sebelumnya, mereka sudah menyiapkan sembungkus kopi untuk nanti di kelas. Kelihatan aneh, tapi inilah faktanya, Ngopi ya sekolah, sekolah ya ngopi. Tetapi, Badar dan Afnan tidak merokok di kelas, karena meskipun nakal ia harus tahu aturan.

Pak karmuji, guru teknisi komputer yang ganteng itu sudah datang, hari ini ia memberi instruksi kepada murid-muridnya, agar lebih bersemangat dalam mengenal Hardware dan Software komputer.

"Oke, anak-anak. Kali ini pak karmuji tidak bisa mengajar lama karena ada kepentingan mendadak. Tugas kalian kali ini menggambar kerangka Motherboard, silahkan dilakukan dengan kerja kelompok. Maksimal 3 anak. Kalu tidak selesai hari ini, minggu depan harus sudah selesai dan di kumpulkan." Instruksi dari Pak karmuji, yang kemudian meninggalkan kelas.

"Neh,,, Pak." Jawab anak-anak serentak.

Dalam hati Afnan ia sangat menginginkan sekali satu kelompok dengan Aisyah. Tetapi, apalah daya berbicara saja tidak pernah, Ia hanya bisa memandangi wajah Aisyah dan mencintai dalam diam.
Afnan mengajak Badar dan kasmudi sebagai teman kelompoknya. Meskipun, sebenarnya tanpa kelompok pun Afnan bisa menggambar sendiri karena selain hobi Ngopi, Afnan juga hobi menggambar.

“Kas, Kamu beli kertas di depan ya. Jangan Lupa beli rokok juga, Ini uangnya” Suruh Afnan pada kasmudi.

“Oke, wait” Jawab kasmudi.

Kasmudi berlari keluar untuk membeli kertas, sedangkan Afnan dan Badar menghabiskan sebungkus kopi di bibir pintu kelas. Anak-anak yang lain tampak sibuk mencari kelompok dan membagi tugasnya. Di bibir pintu kelas, Afnan masih fokus pada satu pandangan, yaitu kepada Aisyah, bintang hatinya itu.

Kasmudi datang membawa kertas dan sebungkus rokok, sesuai dengan arahan Afnan ia membelikanya.

“Ini Nan, rokok dan kertasnya.” Sambil ngos-ngosan kasmudi memberikan rokok dan kertasnya.
“Oke, Sip. Kamu Ngrokok dulu sana diluar kelas sama Badar, masih ada kopinya juga kok. Aku mau meggambar dulu.” Suruh Afnan sembari memberikan rokok.

“Oke terimakasih,,”

Afnan mulai menggambar dengan serius,, ia memulai gambarnya dengan kotak yang sesuai dengan bentuk motherboard computer, dipertengahan ia menggambar, tiba-tiba Aisyah datang menghampirinya.

“Kak, sedang menggambar ya.?” Tanya Aisyah dengan senyuman mautnya.

Afnan benar-benar kaget. Sontak, ia terjatuh nggeblak kebelakang. Ini adalah kali pertamanya ia bertatap muka langsung dengan Aisyah, Ia merasakan getaran dahsyat yang menjalar di tubuhnya. Seolah-olah darahnya berhenti mengalir untuk beberapa detik. Meskipun begitu, ia tetap memberanikan diri untuk menjawab tanpa memandang mata Aisyah.

“Iya, Aisyah. ini lagi gambar.”

“Kak, Aku boleh minta di gambarin ya. Aku gak bisa gambar motherboard, sedangkan teman temanku juga gak ada yang  bisa. Boleh ya kak.?” Rayu Aisyah dengan muka yang super imut.

“Ohh,,, gitu ya, boleh kok, boleh.” Jawab Afnan lemes.

“Terimakasih ya kak. Aku ambil kertasnya ya.”

“Jangan lama-lama, Aku sudah nggak tahan :).”

******


Sumber gambar: Pixabay.com

0 Response to "Kawakibul Qolbi | Chapter 2"

Posting Komentar

Tinggalkan Komentar Anda

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel