Strategi, Model Pendidikan Serta Metode-metode Pendidikan dan Pembelajaran Islam

Strategi, Model Pendidikan Serta Metode-metode Pendidikan dan Pembelajaran Islam


STRATEGI, MODEL PENDIDIKAN SERTA
METODE-METODE PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN ISLAM

Makalah ini di buat untuk memenuhi
salah satu tugas mata kuliah Ilmu Pendidikan Islam 
Semester Ganjil 2016-2017


Dosen Pengampu:
Moh. Nasrul Amin, M.Pd.I

Oleh:
Shofiatus Sholihah
Diya Farah masnunah

JURUSAN STUDI PENDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM SUNAN DRAJAT
KRANJI PACIRAN LAMONGAN
NOVEMBER
2016



KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang senan tiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis mampu merampungkan salah satu tugas yang berbentuk makalah sebagai salah satu persyaratan untuk mata kuliah.

Makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik pendidikan islam dari sisi historis. Terselesaikannya makalah ini tidak lepas dari sumbangsih para orang-orang terdekat penulis , karena itu dengan tulus penulis sampikan banyak terimakasih kepada:

1. Dosen pengampu mata kuliah Ilmu Pendidikan Islam  STAIDRA Kranji Paciran Lamongan yang telah membimbing proses diskusi kelas.

2. Para pegawai perpustakaan STAIDRA Kranji Paciran Lamongan yang telah membantu meminjami buku.
3. Teman-teman sekelas semester satu prodi Tarbiyah jurusan PAI STAIDRA Kranji Paciran Lamongan yang telah membantu melancarkan diskusi kelas.

Segala upaya telah di lakukan untuk menyempurnakan makalah ini , namun tidak mustahil dalam makalah ini masih terdapat kkekurangan dan kesalahan.hal itu di karenakan kelemahan dan keterbatasan kemampuan penulis semata.saran dan kritik yang konstruktif tetap kami harapkan dari peserta diskusi yang budiman.akhirnya semoga makalah ini membawa manfaat tidak hanya bagi penulis namun juga bagi pengembangan ilmu pengetahuan. 


Kranji,24 Desember 2016
Penulis

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Usaha untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pendidikan khususnya pendidikan agama islam senantiasa terus dikembangkan melalui pengkajian berbagai komponen pendidikan. Perbaikan dan penyempurnaan kurikulum, bahan ajar manajemen pendidikan, proses belajar mengajar dan lain-lain sudah banyak dilakukan.

Tujuan utamanya adalah untuk memajukan pendidikan nasional dan meningkatkan hasil pendidikan, tidak terkecuali bidang pendidikan agama islam. Perbaikan dan penyempurnaan sistem pembelajaran merupakan upaya yang paling nyata dalam meningkatkan proses dan hasil belajar para siswa sebagai salah satu indikator kemajuan dan kualitas pendidikan.

Proses belajar mengajar merupakan inti dari kegiatan pendidikan di sekolah, agar tujuan pendidikan dan pengajaran berjalan dengan benar. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses  yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.

Interaksi dalam peristiwa belajar mengajar mempunyai arti luas, tidak sekedar hubungan antara guru dan siswa, berupa materi pelajaran, melainkan penanaman sikap dan nilai pada diri siswa yang sedang belajar upaya tersebut diarahkan kepada kualitas pembelajaran sebagai sebuah proses yang diharapkan dapat menghasilkan kualitas hasil belajar siswa.

Maka degan ini kita akan membahas tentang strategi, model pendidikanserta metode-metode pendidikan dan pembelajaran islam.

Penulis sebelumnya minta maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan maupun pembahasan baik yang disengaja maupun tidak disengaja, karena penulis hanyalah manusia yang lemah. Dan semoga makalah ini dapat diterima oleh dosen pengampu dan juga semua peserta diskusi.

BAB II PEMBAHASAN

A. PENDEKATAN PENDIDIKAN ISLAM

1. Pendidikan islam dalam pendekatan sejarah

Sejarah merupakan rekonstruksi masa lalu, yaitu mengkontruksi apa saja yang sudah dipikirkan, dikerjakan, dikatakan, dirasakan, dan dialami manusia. Namun, perlu ditegaskan bahwa membangun kembali masa lalu bukan untuk kepentingan masa lalu itu sendidri.

Sejarah mempunyai kepentingan masa kini dan bahkan untuk masa yang akan dating. Oleh karenanya, orang tidak akan belajar sejarah karena tidak akan ada gunanya. Kenyataannya, sejarah terus ditulis, di semua peradaban dan di sepanjang waktu. Hal ini sebenarnya cukup menjadi bukti bahwa sejarah itu sangat urgen.

Namun dalam sejarah konvensional yang banyak di deskripsikan adalah pengalaman manusia yang menyangkut tentang sistem perpolitikan, pererangan dan juga terdistorsi pada tataran bangun jatuhnya suatu kekuasaan seperti dinasti, khalifah atau kerajaan.

Sebaliknya dalam sejarah harus ada upaya rekonstruksi masa lalu yang berhubungan dengan totalitas pengalaman manusia. Maka dengan konsep tersebut, sejarah mempunyai batas-batas definisi yang longgar dibandingkan dengan definisi-definisi dengan politik masa lalu, ekonomi masa lalu, masyarakat masa lalu ataupun sebagai sains atau ilmu pengetahuan masa lalu.

Dari deskripsi diatas, kita bisa memetakan definisi dari sejarah pendidikan atau terspesifikasi pada pendidikan islam. Substansi dan tekanan dalam sejarah pendidikan itu bermacam-macam tergantung kepada maksud dari kajian itu: mulai dari tradisi pemikiran dan para pemikir besar dalam pendidikan, tradisi nasional, sistem pendidikan beserta kompoen-komponennya, sampai pendidikan dalam hubunganya dalam sejumlah elemen problematis dalam perubahan sosial atau kestabilan, termasuk keagamaan, ilmu pengetahuan (sains), ekonomi dan gerakan-gerakan sosial. Sehubungan dengan itu semua sejarah pendidikan erat kaitannya dengan sejarah intelektual dan sejarah sosial.

Maka dalam pengkajian pendidikan islam melalui pendekatan sejarah, banyak para pakar pendidikan islam menggunakan pola pemikiran rasionalistik-fenomenologik untuk memahami pesan sejarah pendidikan islam.

Seperti halnya dengan Ibnu Khaldun yang kapasitasnya sebagai serang pemikir, Ibnu Khaldun memiliki watak yang luar biasa yang walaupun kadang terasa kurang baik. Dalam hal ini Muhammad Abdullah Enan melukiskan kepribadian Ibnu Khaldun yang istimewa itu dengan mencoba memperlihatkan ciri psikologik Ibnu Khaldun, walaupun diakuinya secara moral ini tidak selalu sesuai.

Menurutnya ia melihat dalam diri Ibnu Khaldun terdapat sifat angkuh dan egoism, penuh ambisi, tidak menentu dan kurang memiliki terima kasih. Namun disamping sifat-sifanay yang tersebut diatas dia juga mempunyai sifat pemberani, tabah dan kuat, teguh pendirian serta tahan uji. Disamping memiliki intelegensi yang tinggi, cerdas, berpandangan jauh dan pandai berpuisi.

Menurut beberapa ahli, Ibnu Khaldun dalam proses pemikirannya mengalami percampuran yang unik, yaitu antara dua tokoh yang bertolak belakang, yaitu Al-Ghozali dan Ibnu Rusyd. Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd bertentangan dalam bidang filsafat.

Ibnu Rusyd adalah pengikut Aristoteles yang setia, sedangkan Al-Ghozali adalah penantang filsafat Aristoteles yang gigih. Ibnu Khaldun adalah pengikut Al-Ghozali dalam permusuhannya melawan logika Aristoteles, dan pengikut Ibnu Rusyd dalam usahanya mempengaruhi massa.

Ibnu Khaldun adalah satu-satunya sarjana muslim waktu itu yang menyadari arti pentingnya praduga dan katagori dalam pemikiran untuk menyelesaikan perdebatan-perdebatan  intelektual.

Barangkali karena itulah ibnu Khaldun membangun suatu bentuk logika baru yang realistik sebagai upayanya untuk mengganti logika idealistic Aristoteles yang berpola paternalistik-absolutistik- spiritalistik. Sedangkan logika realistik Ibnu Khaldun ini berpola pikir relatifistik-temporalistik-materealistik.

Baca Ini Juga: PENTINGNYA PENDIDIKAN ISLAM DALAM PERANAN KELUARGA DAN SEKOLAH

a. Pendidikan Islam dalam Pendekatan Antopologi

Antopologi adalah suatu ilmu yang memahami sifat-sifat semua jenis manusia secara lebih komprehensif. Antropologi pertama kali dipergunakan oleh kaum Misionasis daam rangka penyebaran agama Nasrani dan bersamaan dengan itu pula berlngsung sistem penjajahan terhadap negara-negara diluar Eropa.

Pada era dewasa ini, antropologi diperguakan sebagai suatu hal untuk kepentingan kemanusiaan yang lebih luas. Studi antropoli selain untuk kepentingan pengembangan ilmu itu sendiri, di Negara-negara yang masuk dalam kategori Negara ketiga (Negara berkembang) sangat urgen sebagai “pisau analisis” untuk pengambilan kebijakan (policy) dalam rangka pembangunan dan penembangan masyarakat.

Sebagai suatu disiplin ilmu yang cakupan studinya cukup luas, maka tidak ada seorang ahli antropologi yang mampu menelaah dan mampu menelaah dan menguasai antropologi secara sempurna dan global.

Sehingga, antropologi terfregmentasi menjadi beberapa bagian yang masing-masing ahli antropologi menghususkan dirinya pada spesialisasi bidangnya masing-masing. Pada dataran ini antropologi menjadi amat prular, sesuai dengan perkembangan ahli-ahli antropologi dalm mengerahkan studinya untuk lebih memahami sifat-sifat dan hajat hidup manusia secara lebih komprehensif. Dan hubungan dengan ini pula, ada beberaapa macam antropologi.

Dan dalam studi pendidikan yang dikaji melalui pendekatan antropologi, maka kajian tersebut masuk dalam sub antropologi yang bisa dikenal menjadi antropologi pendidikan.

Artinya apabila antropologi pendidikan dimunculkan sebagai suatu materi kajian, maka yang objek dikajinya adalah penggunaan teori-teori dan metode yang digunakan oleh para antropologi serta pengetahuan yang diperoleh khususnya yang berhubungan dengan kebutuhan manusia atau masyarakat.

Dengan demikian, kajian materi antropologi pendidikan, bukan tujuan menghasilkan ahli-ahli antropologi melainkan menambah wawasan ilmu pengetahuan tenteng pendidikan melelui prespektif antropologi. Meskipun berkemungkinan ada yang menjadi antropologi pendidikan setelah memperoleh wawasan pengetahuan dari mengkaji antropologi pendidikan.

Pertanyaanya kemudian adalah bagaimana kedudukan antropologi pendidikan sebagai  sebuah disiplin studi yang tergolong baru di tambah kata “Islam” sehingga menjadi “antopologi pendidikan islam”. Hal ini telah menjadi sorotan para ahli pendidikan islam, bahwa hal tersebut merupakan sustu langkah yang ada relevasinya dengan isu-isu islamisasi ilmu pengetahuan.

Dengan pola itu, maka antropologi pendidikan islam tentunya harus dikategorikan “sama” dengan ekonimi islam. Artinya bagaimana bangunan keilmuan yang ditonjolkan dalam ekonomi isam muncul juga dalam antropologi pendidikn islam, sehingga muncul pula kaidah-kaidah keilmiannya yang bersumber dari kitab susi al-qur’an dan as-sunnah.

Seperti dalam ekonomi islam (juga hukum islam) yang sejak awal pertumbuhannya telah diberi contoh oleh nabi Muhammad dan di teruskan oleh para sahabat maka antropologi pendidikan islam, kaidah-kaidah keilmiaannya harus juga bersumber atau didasarkan pada al-qur’an dan assunah. Akan tetapi dalam sejarah kebudayaan islam belum ada pengakuan terhadap tokoh-tokoh atau pelopor antropologi yang diakui dari zaman nabi Muhammad dan sesudahnya.

Karakteristik dari antropologi pendidikan islam adalah terletak pada sasaran kajiannya yang tertuju pada fenomena pemikiran yang berarah balik dengan fenomena pendidikan agama islam atau (PAI). Pendidiksn agama islam arahnya dari atas kebawah, artinya sesuatu yang dilakukan berupa upaya agar wahyu dan ajaran islam dapat dijadikan pandangan hidup anak didik (manusia).

Sedangkan antropologi pendidikn islam dari bawah keatas mempunyai sesuatu yang diupayakan dalam mendidik anak, agar anak dapat membangun pandangan hidup berdasarkan pengalaman hidup agamanya bagi kemampuannya untuk menghadapi lingkungan.

Masalah ilmiah yang mendasar pada pendidikan agama islam adalah berpusat pada bagaimana  (metode) cara yang seharusnya dilakukan. Sedangkan masalah yang mendasar pada antropologi pendidikan islam adalah berpusat pada pengalaman apa yang di temuhi.

b. Pendidikan Islam dalam Pendekatan Sosiologi

Sosiologi merupakan suatu disiplin ilmu sosial yang mempelajari tentang masyakat. Masyarakat, menurut Emile Durkheim seperti yang dikutip oleh Ishomiuddin, itu terdiiri atas kelomok-kelompok manusia yang hidup secara kolektif, kehidupan tersebutmemerlukan interaksi antara satu dengan yang lain baik secara individu maupun kelompok.

Sedangkan seorang sosiolog yaitu Alvin Beltrand, seperti yang diikuti Bahrein T. Sugihen, memandang sosiologi sebagai suatu ilmu yang mempelajari dan menjelaskan tentang hubungan antar manusia (human relationship).

Dengan demikian, secara esensial sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan manusia dalam hidup ditengah-tengah masyarakat. Unsur utama dalam sosiologi adalah interaksi, masyarakat, proses dan kehidupan manusia.

Dalam prakteknya, sosiologi sepertihalnya ilmu sosial lainnya telah banyak di terapkan dalam berbagai bidang, salah satunya adalah dalam pertanian sehingga muncul ilmu terapan sosiologi yaitu sosiologi pertanian.

Oleh sebab itu, sosiologi juga bisa diterapkan dalam pendidikan ilmu terapan, seperti yaitu sosiologi pendidikan yang bisa didefinisikan sebagai sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental.

Sosiologi pendidikan juga bisa diartikan sebagai ilmu yang berusaha untuk mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untuk mengembangkan kepribadian individu agar lebih baik.

Titik tolak dari pandangan ini ialah prioritas kepada kebutuhan masyarakat dan bukan kepada kebutuhan masyarakat dan bukan kepada kebutuhan individu. Peserta didik adalah anggota masyarakat.

Dalam sejarah perkembangan manusia kita lihat bahwa tuntutan masyarakat tidak selalu etis. Versi yang lain dari pandangan ini ialah developmentalisme. Proses pendidikan diarahkan kepada pencapaian target-target tersebut dan tidak jarang nilai-nilai kemanusiaan disubordinasikan untuk mencapai target pembangunan.

Pengalaman pembangunan Indonesia selama orde baru telah mengarah kepada paham developmentalisme yang menekan kepada pencapaian pertumbuhan yang tinggi, target pemberantasan buta huruf, target pelaksanaan wajib belajar 9 dan 12 tahun.

c. Pendekatan islam dalam pendekatan psikologi

Pendekatan pendidikan islam yang seharusnya dipahami dan dikembangkan oleh para pendidik adalah meliputi:

1. Pendidikan psikologis yang tekananya diutamakan pada dorongan-dorongan yang bersifat persuasif dan motivatif, yaitu suatu dorongan yang mampu menggerakkan daya kognitif (mencipta hal-hal baru), konatif (daya untuk berkemauan keras), dan afektif (kemampuan yang menggerakkan daya emosional).

Ketiga daya psikis tersebut dikembangkan dalam ruang lingkup penghayatan dan pengalaman ajaran agama dimana faktor-faktor pembentukan kepribadian yang berproses melalui individualisasi dan sosialisasi bagi hidup dan kehidupannya menjadi titik sentral perkembangannya.

B. STRATEGI PEMBELAJARAN ISLAM

1. Pengertian Strategi Pembelajaran

Istilah “strategi” berasal dari bahasa yunani strategos yang artinya keseluruhan usaha termasuk perencanaan, cara taktik yang digunakan oleh militer untuk mencapai kemenangan dalam peperangan.

Strategi mempunyai pengertian sebagai suatu garis besar haluan dalam bertindak untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagainpola umum kegiatan guru dan murid dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.

Ada berbagai pengertian strategi pembelajaran yang dikemukakan oleh para ahli pembelajaran (instructional technology), di antaranya akan dipaparkan sebagai berikut:
a. Kozna (1989) secara umum menjelaskan bahwa strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang dipilih, yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu.

b. Gerelach dan Ely (1980) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan metode pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan metode pembelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu.

c. Dick dan Carey (1990) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran terdiri atas seluruh komponen materi pembejajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar yang atau diginakan oleh guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu.

d. Drs, Muhaimin, M.A. strategi pembelajaran adalah metode untuk menata interaksi antara peserta didik dengan komponen-komponen metode pembelajaran lain, seperti pengorganisasian dan penyampaian isi pembelajaran.

Strategi pengelolaan pembelajaran berupaya untuk menata interaksi peserta didik dengan memperhatikan 4 hal yaitu:
1) Penjadwalan kegiatan pembelajaran yang menunjukkan tahap-tahap kegiatan yang harus ditempuh peserta didik dalam pembelajaran.

2) Membut catatan kemajuan belajar peserta didik melalui penilaian yang komprehensif dan berkala selama proses pembelajaran berlangsung maupun sesudahnya.

3) Pengelolaan motivasi peserta didik dengan menciptakan cara-cara yang mampu meningkatkan motivasi belajar peserta didik.

4) Pengawasan belajar yang mengacu pada pemberian kebebasan untuk memilih tindakan belajar yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.

C. METODE PEMBELAJARAN ISLAM

Metode pembelajaran pendidikan agama islam adalah cara-cara tertentu yang paling sesuai untuk dapat diterapkan dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Yaitu diantaranya:

1. Metode ceramah

Sudah sejak lama ceramah digunakan oleh para guru dengan alasan keterbatasan waktu dan buku tes. Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan menganggap metode belajar-mengajar yang mudah digunakan.

Kecenderungan ini bertentangan dengan kenyataan bahwa tidak setiap guru dapat menggunakan metode ceramah dengan benar. Metode ceramah bergantung kepada kualitas personalities guru, yakni suara, gaya bahasa, dan keteraturan guru dalam memberi penjelasan yang tidak dapat dimiliki secara mudah oleh setiap guru.

Metode ceramah adalah suatu cara mengajar atau penyajian materi melalui penuturan dan penerapan lisan oleh guru kepada siswa. Agar siswa efektif dalam proses belajar mengajar yang menggunakan metode ceramah, maka siswa perlu dilatih mengembangkan keterampilan berpikir untuk memahami suatu proses dengan cara mengajukan pertanyaan, memberikan tanggapan dan mencatat penalarannya secara sistematis.

2. Metode Demonstrasi

Yang dimaksud dengan metode mengajar adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan. Muhibbin syah (2000) definisi yang mirip menyatakan bahwa metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu yang proses atau cara suatu benda.

3. Metode diskusi

Diskusi adalah suatu kegiatan kelompok untuk memecahkan suatu masalah dengan maksud untuk mendapat pengertian bersama yang lebih jelas dan teliti tentang sesuatu, atau untuk merampungkan keputusan bersama. Dalam diskusi tiap orang diharapkan memberikan sumbangan sehingga seluruh kelompok kembali dengan pemahaman yang sama dalamsuatu keputusan atau kesimpulan.

4. Metode tugas

Metode pemberian tugas ini merupakan metode untuk lebih memantapkan penguasaan siswa terhadap bahan yang telah disampaikan, maka pada tahap selanjutnya siswa diberi tugas. Misalnya membuat kesimpulan hasil ceramah mengerjakan pekerjaan rumah, diskusi dan sebagainya.

5. Metode eksperimen

Pelaksanaan metode demonstrasi sering kali diikuti  dengan metode eksperimen, yaitu percobaan tentang sesuatu. Dalam hal ini siswa melakukan percobaan dan bekerja sendiri-sendiri. Pelaksanaan eksperimen lebih memperjelas hasil belajar. Perbedaan demonstrasi dan eksperimen ternyata hanya pada pelaksanaannya saja.

6. Metode Tanya jawab

Metode Tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada guru.

D. MODEL PEMBELAJARAN

Pola pembelajaran adalah bentuk atau model yang bisa dipakai untuk menghasilkan suatu atau bagian dari sesuatu, khususnya jika sesuatu yang ditimbulkan cukup mempunyai suatu yang sejenis untuk pola dasar yang dapat ditunjukkan atau terlihat, yang mana sesuatu itu dikatakan memamerkan pola.

1. Pengertian Teacher Center

Pada sistem pembelajaran model Teacher Centered Learning, dosen lebih banyak melakukan kegiatan belajar-mengajar dengan bentuk ceramah (lecturing). Pada saat mengikuti kuliah atau mendengarkan ceramah, mahasiswa sebatas memahami sambil membuat catatan, bagi yang merasa memerlukannya. Dosen menjadi pusat peran dalam pencapaian hasil pembelajaran dan seakan-akan menjadi satu-satunya sumber ilmu.

Model ini berarti memberikan informasi satu arah karena yang ingin dicapai adalah bagaimana dosen bisa mengajar dengan baik sehingga yang ada hanyalah transfer pengetahuan.

2. Pengertian Student Centered Learning (SCL) adalah proses pembelajaran yang berpusat pada siswa (learned centered) diharapkan dapat mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam membangun pengetahuan, sikap dan perilaku.

Melalui proses pembelajaran yang keterlibtansiswa secara aktif, berarti guru tidak lagi mengambil hak seorang pesetra didik untuk belajar. Aktifitas siswa menjadi penting ditekankan karena belajar itu pada hakikatnya adalah proses yang aktif dimana siswa menggunakan pikirannya untuk membangun pemahaman (construcivism approach).

Proses pembelajaran yang berpusat pada siswa atau peserta didik, maka siswa memperoleh kesempatan dan fasilitas untuk dapat membangun sendiri pengetahuannya sehingga mereka akan memperoleh pemahaman yang mendalam yang pada akhirnya dapat meningkatkan mutu kualitas siswa.

Melalui penerapan pembelajaran yang berpusat pada siswa, maka siswa diharapkan dapat berpartisipasi secara aktif, selalu ditantang untuk memiliki daya kritis, mampu menganalisa dan dapat memecahkan masalahnya sendiri.

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dalam proses pembelajaran seorang guru sebagai pengajar harus pandai-pandai dalam mengambil langkah agar proses pembelajaran dapat terlaksana dengan baik dan tercapai tujuan pendidikan. Diantarany adalah dengan memilih strategi pembelajaran yang tepat.

Model pendidikan Islam memberikan pengertian, bahwa mengajar adalah aktifitas dalam pemberian pengetahuan kepada seorang anak didik untuk menghadapi kehidupan yang akan dating, artinya model dalam pengajaran/ mendidik itu penting sebab bisa memberikan efek anak didiknya ketika ia mempersiapkan masa depanya yang lebih baik.

Dari hasil pemaparan diatas maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan antara metode, strategi, pendekatan dalam pembelajaran.

Walaupun perbedaan itu tidak begitu tegas, karena semua istilah merupakan satu kesatuan yang saling menunjang, untuk melaksanakan proses pembelajaran. Jadi, model pembelajaran adalah pembungkus proses pembelajaran yang didalamnya ada metode, strategi, pendekatan dalam pembelajaran.

Antara metode, strategi, pendekatan dalam pembelajaran dan bahkan taktik pembeljaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasrnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yng di sajikan secara khas oleh guru.

Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu metode, strategi, pendekatan dalam pembelajaran.

B. SARAN

Penulis menyadari dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan disebabkan keterbatasan pengetahuan kami dan oleh Karen itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah kami berikutnya.

BAB IV DAFTAR PUSTAKA

Asra dan Sumiati. 2009. Metode pembelajaran, Bandung: CV Wacana Prima.Djamarah, syaiful bahri dan Zain Aswan. 2010. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta.Harto, Kasinya. 2012. Desain Pembelajaran Agama Islam untuk Sekolah dan Madrasah, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.Ladjid, Hafni. 2005. pengembangan kurikulum menuju kurikulum berbasis kompetensi, Qoantum Teaching.Muzzaki, Akh. 2010. Ilmu Pendidikan Islam, Surabaya: copertais IV press.Sabri, Ahmad. 2005. Strategi belajar mengajar micro teaching, Jakarta: Quantum Teaching.Simandjuntak, B.1983. Proses Baelajar mengajar, Bandung: Edisi II Tarsito.Sudjana. 2005. Metode dan Teknik Pembelajaran Partisipatif, Bandung: Falah Production.Trianto, 2007. Model-model pembelajaran inovatif berorientasi konstruktivistik, Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.Uno, Hamzah B. 2006. Perencanaan pembelajaran, Jakarta: PT Bumi Aksara.Yatim, Badri. 1998. Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Graffindo Persada.

 Terimakasih semoga bermanfaat. Jangan lupa mencantumkan sumber

0 Response to "Strategi, Model Pendidikan Serta Metode-metode Pendidikan dan Pembelajaran Islam"

Post a Comment

Berkomentarlah yang bijak dan sesuai dengan isi konten. Komentar dengan Link hidup/mati tidak akan disetujui.

(✔). Boleh berkomentar menggunakan bahasa jawa

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel