Bercengkrama dalam Cinta ~ Chapter 6

Bercengkrama dalam Cinta ~ Chapter 6

“HABIS dari sini kau mau ke mana, Mir?” tanya Humaidi.

“Kalau kamu?” jawabku.

“Kamu ini ditanya kok malah balik nanya toh, Mir?”

“Ya, siapa tau aja, Hum, jawabanmu bagus. Aku kan bisa menyonteknya.”

“Emangnya ujian? Pake nyontek.”

“Siapa yang bilang nyontek hanya berlaku untuk ujian. Hidup itu semuanya nyontek.”

“Maksudmu?”

“Ya, hidup itu semuanya nyontek. Kita bisa bicara kayak gini, itu karena kita menyontek bahasa orangtua kita, orangtua kita nyontek orangtuanya, orangtua orangtua kita nyontek orangtuanya, orangtua orangtua orangtua kita nyontek orangtuanya, dan begitu seterusnya.

Makan juga gitu, bagaimana cara makan, kita itu juga nyontek, nyontek cara makan orangtua, orangtua nyontek orangtuanya. Dan begitu seterusnya. Bahkan, Allah sendiri menyuruh kita untuk nyontek prilaku Rasulullah.”

“Analisismu keren juga ya?”

“Aku gak paham bahasamu.”

“Makanya nyontek...”

Aku merapikan semua barang-barangku, kumasukkan buku-buku dalam kardus, sementara pakaian-pakaian kumasukkan ke dalam tas, karena pakaianku tak cukup banyak. Selama tiga tahun ini, selain seragam, aku hanya membawa tiga baju, tiga celana, dan tiga sarung.

“Kamu belum jawab pertanyaanku, Mir.”

“Pertanyaan yang mana, Hum?”

“Yang tadi. Kamu habis dari sini mau nglanjutin ke mana? Kuliah apa kerja apa nikah?”

“Yang terakhir itu seru sepertinya.”

“Nikah? Gila lo, mau kau kasih makan apa anak istrimu?”

“Ya nasi lah, masa dikasih makan krikil.”

“Tapi kau baru lulus aliyah.”

“Kamu ini gimana toh, Hum. Tadi kamu tanya aku mau ngelanjutin di mana, sudah kujawab kamu gak terima. Terus aku harus bagaimana?”

“Ya terima-terima aja.”

“Kalau kamu, meneruskan di mana? Aku mau nerusin di Pesantren di Lamongan aja, Mir. Mau ngabdi di sana.”

“Sip. Bagus itu. Adikku juga mondok di sana.”

“Oh ya? Siapa nama adikmu?”

“Farah.”

“Oh... eh, ngomong-ngomong Afif mau nerusin di mana ya?”

“Ya tanya dia lah, emang aku pacaran sama Afif?

“Lagi ngomongin aku ya?” sahut Afif yang baru saja datang. “Udah pada rapi nih.. mau pulang sekarang?”

“Ya,” jawabku.

“Gimana kalau kita ngopi dulu, sebelum perpisahan? Setuju?”

“Setuju banget.”

“Setuju. Tapi anterin aku ke pasar swalayan ya? Aku mau kasih hadiah buat calon istriku.”

“Emang kamu mau nikah?”

“Iya, Fif, doakan!”

“Doaku selalu menyertaimu.

Bayangan wajah Ayu terlihat sangat jelas di pelupuk penglihatanku. Aku ingin segera menikahinya dan hidup bahagia bersamanya, bersama orang yang sangat aku cintai sejak kecil. Rasa yang kusimpan selama ini akan kumuntahkan seketika di rumah nanti.

Di pasar swalayan, aku mencari-cari apa yang cocok untuk kuhadiahkan pada kekasih hati belahan jantungku itu.

Dari tabungan yang kukumpulkan, sepertinya aku dapat membeli mukenah, gamis, dan kerudung. 

Setelah muter-muter ke sana kemari, akhirnya aku menemukan yang pas buat Ayu. Aku bungkus semuanya dengan rapi dan siap kuberikan pada Ayu.

Sudah kutaruh di dalamnya surat cinta yang berisi puisi-puisi indah. Aku yakin dia pasti menyukainya. Oh Ayu... i love you...

***

Desaku mengalami banyak perubahan, aku tidak lagi mendapati rumah-rumah panggung yang terbuat dari kayu, semuanya sudah ditembok dan dikeramik.

Hampir tiap rumah sudah memiliki garasi mobil. Tak ada lagi anak-anak yang bermain layang-layang, kelereng, petak umpet, bentik, dan permainan-permainan tradisional lain yang dulu sangat sering kumainkan.

Sekarang anak-anak lebih suka bermain di dalam rumah dengan game onlinenya. Sekarang anak-anak kecil sudah memegang hp dan laptop.

Sekarang sudah tak ada lagi orang miskin. Tak ada lagi orang yang kesulitan hal pangan. Mungkin orang miskin sekarang itu jika tidak memiliki mobil. Entahlah, berarti desa ini ada banyak kemajuan.

Farah, adikku, sudah tumbuh besar. Tubuhnya langsing, kulitnya kuning langsat, lesung pipitnya ketika tersenyum membuat orang yang melihatnya klepek-klepek. Parasnya indah dengan balutan jilbabnya.

“Walah, Mas, gimana kabarnya? Farah kangen banget sama Mas,” kata Farah menyambut kedatanganku.

“Alhamdulillah, baik,” jawabku. “kamu kapan pulang dari pesantren?”

“Kemarin Mas.”

“Kamu sekarang makin cantik, sudah punya pacar berapa?”

“Pacaran itu dosa, Mas, dilarang sama agama. Kalau yang menawarkan diri sih banyak, Mas. Tapi aku kan masih kecil. Aku juga gak mau mendahului yang lebih tua,” ledeknya diikuti ketawa ngakak.
Aku ikut ketawa, lalu nyelonong masuk ke dalam mencari ibuku.

“Ibu di mana, Farah?”

“Lagi belanja ke pasar, Mas. Sebentar lagi juga pulang.”

“Assalamualaikum...” Ibu datang dengan membawa belanjaannya.

“Tuh Ibu.” Farah berjalan mendekati pintu dan membukanya. “Mas Amir pulang, Bu..”

Ibu tiriku itu, ketika melihatku, langsung menaruh semua belanjaannya, lalu berlari mendekatiku dan memelukku dengan erat. “Apa kabar kamu, Nak? Sehat kan?”

“Alhamdulillah, Bu, sehat. Ibu sendiri?”

“Alhamdulillah, berkat doa kamu, Nak.”

Ibu tiriku juga masih terlihat cantik, meskipun tak secantik dulu ketika Ayah masih hidup. Aku baru sadar, ia memang benar- benar setia dengan ayah. Ia sama sekali tidak ingin menikah lagi.

“Oh, iya, kebetulan sekali. Tadi ibu lewat depan rumah Haji Abdullah, beliau menitipkan undangan ini buatmu.” Ibu menyodorkan sebuah undangan.

“Undangan apa ya, Bu?”

“Ayu, temanmu itu, anaknya pak haji sebentar lagi mau nikah, sama Gus Ibad, anaknya Kiai dari jepara tempat Ayu mondok, anaknya baru saja pulang dari Yaman kemarin lusa, langsung datang ke rumah pak haji untuk melamar Ayu......”

Ibu melanjutkan terus ceritanya. Aku tidak ingin mendengarnya sama sekali. Hatiku seperti bawang yang diiris-iris lalu dimasukkan ke dalam minyak goreng yang panas. Sakit. Perih. Aku pasti salah dengar.

“Mir?”

“Iya, Bu.”

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Ayo, makan dulu, Ibu udah siapkan semuanya.”

“Mari Bu..”

***

Semalaman ini aku berada dalam kamar yang kukunci. Hadiah yang sudah kusiapkan itu, dengan bungkus kertas kado gambar bunga dan banyak tulisan ‘I Love You’ kupandangi terus.

Aku tak kuasa menahan air mata. Ini sangat menyakitkan. Aku belum pernah merasakan nikmatnya cinta, tapi aku sudah merasakan patah hati.

Ibu dan Farah berulangkali mengetuk pintu kamarku. Aku tidak membukanya, aku tidak bersuara sama sekali.

Mulutku terasa berat untuk digerakkan. Aku benamkan wajahku semakin dalam pada bantal. 

Sebenarnya aku ingin membenturkan kepala ini ke tembok, tapi pasti sakit, jadi aku tidak melakukannya.

Sayup-sayup terdengar suara azan dari musala al-Muhtadin. Suara itu semakin menyayat-nyayat hatiku. Suara itu mengingatkan masa kecilku.

Masa-masa indah saat bersama Ayu. Bersama bukan berarti bercinta, tapi bersama dalam artian bermain. Bermain layaknya anak-anak kecil.

Aku tidak tahu apakah aku sudah dewasa atau belum. Yang aku tahu aku ingin kembali ke masa lalu. Aku ingin mengungkapkan cintaku padanya, biar tidak seperti ini jadinya.

Aku tidak salat berjamaah, aku salat sendiri di dalam kamar. Aku bisa leluasa menangis di hadapan-Nya. Mengadukan segala permasalahanku pada-Nya.

Aku tau ada ulama yang mengatakan bahwa salat jamaah tidak khusyuk pahalanya lebih banyak daripada salat sendirian yang khusyuk.

Tapi saat ini aku tidak peduli dengan itu. Aku tidak peduli dengan pahala. Aku lagi sakit hati. Sakit hati sama Ayu, sakit hati sama calon suami Ayu, sakit hati sama Tuhan, dan yang paling sakit hati adalah dengan diriku sendiri.

Usai salat hati dan perasaanku sedikit lebih tentram, entah mengapa, mungkin itu juga yang membuatku hingga sekarang aku tidak pernah meninggalkan salat.

Padahal kalau dipikir-pikir, salat itu sangat tidak masuk akal dan seperti pekerjaan orang yang punya kerjaan.

Aku rebahkan lagi tubuhku di atas kasur. Tidak kenikmatan yang dahsyat melebihi nikmatnya tidur di pagi hari.

Kalau ada orang berkata tidur di pagi hari rezekinya di patok ayam, itu kalau orang sudah punya kerja. Kalau orang sepertiku, yang sedang hanyut dalam kesedihan, tidur adalah obat paling mujarrab. Bila perlu tidur untuk selamannya.

***

Tok tok tok, “Mas, banguuun...” ketukan pintu dan suara Farah yang berulang-ulang itu membangunkanku, aku membuka sedikit jendela.

Silau. Cahaya mentari serasa menghantam mataku. Sangat perih, tapi tidak seperih hatiku. Aku lihat wajahku di cermin. Sangat pucat. Mataku masih merah bekas tangisan tadi malam.

“Ngapain aku mikirin dia, perempuan di dunia ini tidak hanya Ayu,” gumamku dalam hati menghibur diri sendiri.

Aku keluar kamar dengan memasang wajah sumringah sesumringah mungkin. Aku sapa mereka dengan senyuman, dan mereka membalas dengan senyuman yang dipaksakan.

“Mas kenapa? Seperti ada yang aneh,” selidik adikku.

“Mas hanya kecapekan aja kok,” jawabku seadanya.

“Sudah, ayo sarapan dulu, ibu sudah siapkan, kamu dari kemarin sore belum makan apa-apa.”
Ibu tiriku masih sangat baik, meskipun ayahku sudah lama pergi. Dia benar-benar menganggapku seperti anak kandungnya sendiri.

Di ruang makan. Sunyi, senyap, hening, sampai selesai makan.

“Kamu habis ini mau kemana, Mir?” tanya ibuku memecah keheningan

“Maksudnya?” klarifikasiku, “habis makan atau...”

“Ya sepulang dari pesantren Tarbiyatud Diniyah ini. Mau mondok lagi, kuliah, kerja, apa nikah?”

Sebenarnya aku ingin yang terakhir itu. Ya, yang terakhir itu. Tapi sayang sekali, yang kuincar sudah jadi milik orang lain.

“Mau ke Jakarta, Bu,” jawabku ngawur, tanpa berpikir dan pertimbangan.

“Mau jadi artis ya, Mas?” sahut adikku, “ya Mas, Farah setuju, Mas cocok jadi artis, Mas kan ganteng dan punya bakat. Yang penting nanti kalau sudah jadi artis jangan lupa sama Farah dan Ibu.”

Aku terdiam sejenak. “Jadi artis? Boleh juga tuh. Tapi nggak ah, setauku jadi artis itu gak enak hidupnya, tidak bisa hidup bebas, memang jadi terkenal dan banyak uang. Tapi mau kemana-mana serba sulit.

“Atau jadi ustadz, Mas? Yang ceramah televisi,” tawarnya lagi, layaknya direktur televisi yang menawari job.”

“Hahaha, jadi ustadz? Ngawur aja kamu. Saya ini orang baik-baik kok disuruh jadi ustadz di televisi.”

Air muka mereka seperti kebingungan mendengar jawabanku itu. Percakapan di ruang makan itu seakan menjadi petunjuk dari Tuhan. Jakarta, jawaban spontanku saat ibu bertanya itu membuatku menjadi benar-benar ingin ke sana. Ke ibu kota.

Aku kembali ke kamarku, menyalakan televisi, mencari acara-acara yang seru. Terdengar suara ketukan pintu, aku bangkit dan meraih kacamataku.

Lalu kubuka pintu. Aku hampir tak percaya dengan apa yang kulihat. Aku ingin menutupnya lagi. Tapi aku bukan lelaki penakut. Aku siap menghadapi apapun. Seandainya aku ada di zaman Rasul pun, aku akan maju paling depan jika diajak perang.

Atau jika aku berada di zaman penjajahan, aku akan tampil paling depan dengan membawa bambu runcing di kedua tanganku. Apalagi hanya masalah perempuan. Itu hal yang sangat remeh. Aku atur pernapasanku, kupasang wajah datar.

Dugaanku salah, perempuan itu lebih ganas dari peperangan, perempuan itu bagaikan anjing liar yang menakutkan. Aku tidak berani menatap matanya.

“Amir?” Wajah cantik itu mengibarkan senyumnya, senyum kebahagiaan. Tidak mungkin dia tersenyum sebab pertemuannya denganku. Dia pasti tersenyum karena sebentar lagi dia akan menikah dengan seseorang yang dicintainya itu, anak kiai dari Jepara lulusan al-Ahgaf Yaman.

“Ayu?” Aku paksa tersenyum, sekuat tenaga aku membendung air mata yang sudah berteriak-teriak ingin keluar.

“Apa kabar? Kok kamu pulang gak bilang-bilang?” senyumnya lebih lebar, mengingatkanku pada masa kanak-kanak.

Dia masih cantik seperti dulu. Bedanya hanya cara memakai jilbabnya. Dia tidak mau ketinggalan zaman. Cara memakai jilbabnya mengikuti trend saat ini. Dia tidak kalah cantik dengan mereka yang masuk komunitas Hijabers.

“Alhamdulillah, baik. Kamu gimana? Makin cantik aja.” Aku tersenyum, tapi tidak selebar senyumnya. “Mari silakan masuk!”

Kami hanya berdua di dalam rumah. Ibu dan Farah sedang pergi belanja.

“Mau minum apa nih? Kopi, teh, jahe, jeruk, sirup, coca colla, sprite, fanta, atau air putih?” aku berhenti sejenak, dia seperti kebingungan. “Air putih aja ya?” tawarku lagi tanpa menunggu jawabannya.

Aku mengambil dua gelas air dingin di dalam kulkas. Berharap dengan minum air dingin hatiku juga ikut dingin.

“Kuperhatikan wajahmu ceria sekali.”

“Ya iyalah, Mir. Ceria itu tanda bahagia. Ketemu temen lama masa gak bahagia.”

Dia bahagia? Bertemu denganku? Tapi kan Cuma sebagai teman lama.

“Kok melamun?” aku terperanjat.

“Oh, enggak, iya aku juga bahagia kok ketemu kamu.”

“Kamu beda Mir sekarang.”

“Bedanya?”

“Ya beda aja, gak seperti dulu. Tampaknya kau menjadi semakin pendiam. Aku kangen kamu yang dulu, yang ceria, yang lucu, yang banyak tingkah, dan nyebelin.” Kami tertawa.

“Ya beda lah, seseorang itu harus beda setiap harinya. Ada peningkatan.”

“Tapi kamu itu penurunan.”

“Siapa bilang, buktinya aku sekarang tambah ganteng, tambah manis, tambah baik hati, tambah tidak sombong.”

“Iya Mir, kamu tambah ganteng kok.” Aku tersipu.

“Kalau di lihat dari sedotan buntu di malam hari saat lampu padam.” Tawanya meledak, memamerkan giginya yang putih dan rata.

Aku ingin sekali mengatakan cintaku padanya. Aku tak peduli dia sudah milik orang lain atau belum. Aku juga tak peduli cintaku ini ditolak atau tidak. Aku gak peduli cinta ini bertepuk sebelah tangan atau sebelah kaki. Yang penting aku sudah mengungkapkannya.

“Yu, aku ada hadiah buatmu.”

“Oh ya?” Matanya berbinar-binar seperti cahaya bintang di kegelapan malam.

“Aku ambilkan dulu ya? Jangan kemana-mana, saya akan kembali setelah pesan-pesan berikut ini.”

“Ternyata kamu tidak berubah.”

“Tadi katanya berubah?”

“Ya berubah lebih jelek doang.”

Aku menuju kamarku dan kuambil sebuah bingkisan berisi mukenah, sajadah, dan Alquran warna pink khusus perempuan.

“Ini!” kuserahkan bingkisan itu padanya. Jantungku gemetar sangat hebat, menjalar ke seluruh tubuh hingga terlihat seperti gemetar.

Dia menerima dengan tangan kanannya. Saat kuberikan, jemariku tersentuh jemarinya. Aku merasakan kenyamanan yang sangat. Andaikan aku bisa memilikinya, tidak hanya bisa menyentuh jemarinya, tapi semua yang bisa kuinginkan.

“Aku loh lupa kalau hari ini adalah ulang tahunku. Ternyata kamu mengingatnya.” Padahal aku juga tidak tahu kalau ini adalah ulang tahunnya. Tapi aku tidak mengatakan padanya. “Suatu saat, aku juga akan memberi hadiah padamu.”

“Kapan?”

“Kapan-kapan.”

“Kenapa tidak sekarang aja?”

“Aku belum membelinya.”

“Yang ada aja. Gak perlu beli.”

“Apa ya? Aku gak punya apa-apa.”

“Ciuman.”

“Ngawur.”

Tentu saja aku bercanda, dan aku yakin dia juga menganggapku bercanda.

“Kok Ibumu sama Farah gak pulang-pulang ya?” tanyanya.

“Iya, gak tau juga tuh. Mereka berangkat saat aku masih tidur pagi.”

“Dasar kebiasaan buruk.”

“Tidur pagi itu kebiasaan baik, tau?”

Kami terdiam beberapa saat. Aku masih bimbang untuk mengatakan atau tidak. Tapi kenapa aku harus bimbang. Aku menarik napas panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan. Kuletakkan kacamataku di atas meja.

“Aku mencintaimu.” Aku tidak berani melihat matanya.

“Apa?” Ayu mendekatkan telinganya kepadaku dan menaruh tangan kirinya di belakang telinga kirinya yang tertutup jilbab.

Kali ini aku menatap matanya tajam. Aku akan mengatakannya. Tapi, ternyata aku tak kuasa mengatakannya. Aku yakin tadi dia sudah mendengarnya.

Aku kembali merebahkan tubuhku di sofa.

“Acara nikahanmu kapan?” lagi-lagi aku tidak memandangnya saat mengajaknya bicara.

“Maksudmu?”

“Iya, yang sama anak kiai Jepara itu.”

“Sudahlah Mir, jangan bahas itu.”

“Kenapa? Apa seorang teman tidak boleh mengetahui kapan pernikahan temannya ini dilaksanakan?”

“Sudah kubilang jangan bahas itu!” nadanya meninggi.

Lalu berlinanglah air mata dari sela-sela matanya.

Aku mendekat ke tempat duduknya.

“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud...”

“Aku sama sekali tidak cinta sama orang itu. Aku sudah mencintai seseorang. Aku mencintainya sejak aku masih kecil.”

“Siapa?” pertanyaan itu keluar dari mulutku begitu saja.

Ayu mengalungkan tangannya ke leherku dan secepat kilat bibirnya menyambar bibirku. Aku belum pernah merasakan kenikmatan sedahsyat ini, aku seperti terbang bebas ke angkasa, aku seperti berada di dalam surga.

Tanpa kusadari, Farah dan ibu sudah berdiri tegak di belakang kami.

Aku dan Ayu tergeragap. Farah dan ibu terlihat sangat shock. Ayu bergegas pamit. Dia keluar setelah menyalami Farah dan ibu dan mengucapkan terima kasih padaku atas hadiahnya.

Malam ini sangat malam, gelapnya sangat gelap. Petir dan halilintar bersahutan menyuarakan gelegarnya. Angin puting beliung semakin membesar putingnya.

Sebelumnya: Bercengkrama Dalam Cinta | Chapter 5

Guyuran hujan dari langit begitu lebatnya hingga tak tampak lagi apa yang ada di depan. Beberapa malaikat asyik foto selfie dan cahaya flashnya menerangi dalam sekejap.

Aku berbaring di atas kasur tempat tidurku. Kupanda-ngi langit-langit kamarku. Tak ada lagi yang istimewa, masih sama seperti biasanya. Aku ingin hal yang berbeda. Aku ingin atap baru, atap yang dipenuhi pernak-pernik keindahan dan lampu dengan aneka warna.

Aku melihat ayah dalam tidurku, ia memakai pakaian putih-putih berjalan mendekatiku. Lalu duduk di sampingku dan mengangkatku ke pangkuannya. Kemudian berkata,

“Mir, mlakuo! Berjalanlah! Bumi Allah ini sangat luas, maka berjalanlah! Kamu akan mendapat banyak sesuatu. Imam Syafi’i pernah bersyair, syairnya sangat indah, begini:

Orang yang berakal dan berpendidikan itu tidak ada enaknya berdiam diri.

Tinggalkan kampung halamanmu! Merantaulah!

Lakukanlah perjalanan!

Akan ada pengganti dari orang yang kau tinggalkan.

Kerja keraslah!

Sebab, nikmatnya hidup ada dalam kerja keras. Kulihat air yang menggenang akan berubah keruh.

Jika air mengalir, ia tetap segar.

Jika menggenang, ia akan tercemar

Jika seekor singa tidak meninggalkan wilayahnya, ia tidak akan berburu.

Jika anak panah tidak terlepas dari busurnya, ia tidak akan mengenai sasaran. Jika matahari selalu mengawang di angkasa, semua penghuni bumi akan bosan.

Jika bulan tidak terbenam, orang-orang pada setiap masa tentu tidak akan melihatnya .

Di tempat asalnya, biji emas seperti tanah yang terbuang.

Ditempat asalnya, kayu gaharu hanyalah jenis kayu bakar.

Jika biji emas telah berpindah, ia akan menjadi mahal.

Jika kayu gaharu berpindah, ia akan berharga seperti emas.

Bagaimana, Siap gak?”

“Lalu ke mana saya harus pergi, Yah?”

Ayah tersenyum, ia belum menjawab pertanyaanku, tapi aku sudah terbangun dari tidurku karena suara halilintar yang menggelegar. Aku menutup telingaku dengan bantalku dan kembali tidur lagi.

Belum ada Komentar untuk "Bercengkrama dalam Cinta ~ Chapter 6"

Posting Komentar

Berkomentarlah yang bijak dan sesuai dengan isi konten. Komentar dengan Link hidup/mati tidak akan disetujui.

(✔). Boleh berkomentar menggunakan bahasa jawa

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel