Megengan, Tradisi Setempat Yang Masih Melekat Dan Masih Lestari Ketika Bulan Ramadhan Tinggal Menghitung Hari

Gambar megengan

Hallo sobat Kopikiran.site, apa kabar? Baik-baik saja tha? Jika Anda baik ya Alhamadulillah. Jika masih sakit bae, ya semoga cepet sembuh. Ya ! Amin..

Tak dirasa, ternyata bulan suci Ramadhan sebentar lagi akan tiba. Tinggal hitungan hari. Maka dari itu, sebagian umat muslim diseluruh dunia umumnya dan muslimin muslimat Indonesia khususnya, melakukan segala hal persiapan.

Kitapun juga terlibat dalam acara menyambut bulan suci yang penuh berkah tersebut. Mulai dari persiapan mental, materi, dan persiapan-persiapan lainnya. Demi bulan yang penuh keberkahan ini.

Pada umumnya, segala persiapan tersebut dilakukan bertujuan agar bisa melakoni ibadah puasa dengan lancar dan tutuk sampai hari kemenangan tiba. Allahumma amin.

Namun, di Indonesia sendiri, dikala menyongsong bulan ramadhan. Ada sebuah kebiasaan atau tradisi yang masih melekat dan lestari. Tradisi tersebut dilalakukan sebagai partisipasi masyarakat Indonesia, untuk menyambut bulan Ramadhan.

Sejujurnya, banyak sekali tradisi-tradisi setempat yang masih melekat dikala bulan Ramadhan dekat. Salah satunya adalah 'Nyekar' atau juga bisa disebut dengan 'Geren'.

'Nyekar' atau 'Geren' sendiri berasal dari bahasa jawa. Jika ditranslate kedalam bahasa nasional Indonesia, 'Nyekar' atau 'Geren' biasa disebut dengan Ziarah Qubur.

Namun, selain Ziarah Qubur, ada tradisi setempat yang terkenal, dikala menyongsong bulan suci ramadhan. Yaitu, "Megengan"

"Megengan" sendiri juga bermacam-macam istilahnya. Beda daerah, kadang beda juga istilah dan namanya. Kalau dirumahku, Desa Gador Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek dan sekitarnya, hal tersebut dinamai dengan "Megengan".

Tetapi didaerah  lain, ada juga yang menamainya dengan "Genduri" atau "Genduren". Selain itu, ada juga yang memberi istilah "Megengan" tadi dengan nama "Slametan".

Kurang tahu jika didaerah lain luar Jawa Timur ada istilah yang lainnya. Informasi yang Saya ketahui hanya nama-nama yang sudah disebutkan diatas tadi.

Meskipun, berbeda nama. Namu  tujuan serta maksudnya masih sama. Pada globalnya, tujuan serta maksud diadakan Genduri/Megengan/Slametan, dikala menyongsong bulan suci ramadan adalah untuk mensyukuri nikmat Tuhan Yang Maha Esa.

Sebab, bulan puasa adalah bulan yang penuh berkah. Bagaimana tidak. Hanya dibulan inilah orang tidur diganjar atau mendapat pahala. Pula dihitung sebai ibadah.

Sedangkan, bulan yang berkah ini hanya satu tahun sekali dilakukan. Bagaimana tidak syukur jika kita masih menemui bulan yang sepecial ini.

Sebagaimana masyarakat Indonesia umumnya, dan Jawa khususnya, menyikapi syukur mereka. Dikala menemui bulan yang berkah ini, dengan melestarikan tradisi dari nenek moyang mereka dan para leluhur.

Jadi, jangan pernah menganggap kalau genduri, slametan, atau megengan itu musyrik dan tidak baik. Yang mengatakan sedemikian rupa adalah orang-orang dengan pengetahuan sejarah yang minim. Atau dapat kita sebut dengan orang yang buta sejarah.

Padahal hakikatnya, megengan atau genduri tadi dilakukan untuk menyambut bulan suci ramadhan dengan tujuan untuk mensyukuri nikmat Tuhan Yang Maha Esa.

Bagaimana tidak, jika diamati. Didalam megengan, Salametan atau genduri, juga ada kalimah-kalimah thayyibah yang dibaca. Bacaan-bacaan surat pendek yang dilalar dan yang lainnya. Masa, hal sedemikian rupa tidak baik. Hanya saja, realisasinya dalam konteks adat dan kebiasaan.

Meskipun demikian, sebagian para ulama di Indonesia tetap bersitegas menilai kalau megengan, slametan, dan genduri adalah hal yang baik.

Sebab, selain didalam megengan, slametan dan genduri di isi dengan hal-hal yang bersangkutan dengan keislamaman. Seperti membaca kalomah thayyibah, ayat kursi dan lain-lain sebagainya. Selain itu, Megengan slametan, atau genduri, juga dinilai melestarikan adat setempat. Bahkan didalam megengan juga ada nilai yang menumbuhkan rasa keraketan dan keruknan sesama warga.

Jika dimasukkan kedalam ilmu pengetahuan sosial, hal yang sedemikian rupa adalah bentuk alkuturasi dari dua budaya atau dua sisi tanpa menghilangkan sifat, ciri, dan bentuk dari kedua sisi tersebut.

Yang melakukan hal tersebut adalah poro wali. Sedangkan islam di nusantara sendiri juga disebarluaskan oleh poro wali.

Jadi poro wali dahulu, menyebar luaskan islam di Indonesia juga menggunakan budaya kita dan menggabungkan atau memasukkan nilai religius keislaman kedalam budaya tersebut. Contoh wayang, dan megengan, genduri, atau slametan itu sendiri.

Jadi masihkah megengan, slametan atau genduri dinilai dengan hal yang tidak baik ? Bagaimana dengan pendapat Anda? Silahkan jawab pendapat anda dikolom komentar.

Kalau menurut Saya sendiri mah, itu baik, dan harus dilestarikan. Lha, wong itu adalah budaya kita. Jadi Saya bangga dan sangat bangga mempunyai budaya seperti megengan, genduri atau slametan.

Sebab, adanya indonesia itu karena adanya budaya-budaya yang bermacam-macam. Dan satu alasan lagi, sebab adanya Indonesia diakui kaya oleh bansa asing, juga karena budaya kita yang sangat melimpah. Sungguh sayang jika kita tinggalkan.

By: Anas Khoirudin

0 Response to "Megengan, Tradisi Setempat Yang Masih Melekat Dan Masih Lestari Ketika Bulan Ramadhan Tinggal Menghitung Hari"

Post a Comment

Berkomentarlah yang bijak dan sesuai dengan isi konten. Komentar dengan Link hidup/mati tidak akan disetujui.

(✔). Boleh berkomentar menggunakan bahasa jawa

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel