Nadzoman dan Tradisi Sastra Santri

Nadzoman dan Tradisi Sastra Santri

Di pesantren salaf, tanpa mengesampingkan bentuk-bentuk lainnya, banyak mata pelajaran, mulai dari fiqih hingga tata bahasa, disampaikan dalam bentuk Nadzaman. Disebutkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Nadzam berarti karangan atau susunan.

Istilah tersebut sebenarnya mengacu pada puisi yang berasal dari Parsi, yang terdiri atas 12 larik, berirama dua-dua atau empat-empat.

Dalam tradisi asalnya ia banyak menggambarkan hamba sahaya istana yang setia dan budiman.

Jenjang Karir Santri


Nadzam memiliki arti yang sangat penting bagi seorang santri. Bisa dikatakan, seorang santri dapat melanjutkan jenjang pengajian dari satu kitab ke kitab berikutnya, dari sebuah tingkat ke tingkat berikutnya, dengan melihat kemampuannya dalam menghafalkan nazdaman. 

Maka tidak mengherankan jika kemudian di kamar-kamar santri yang sederhana, atau di lorong-lorong pesantren yang khidmat pada tengah malam, atau di makam sang kiai yang keramat dan hening, kita akan memergoki para santri terangguk angguk melantunkan nadzaman, dalam keadaan di antara khusyuk dan mengantuk, demi memenuhi standar kualifikasi dalam bidang pelajaran yang sedang dikajinya.

Kenyataan itu membuktikan bahwa Nadzaman, atau dengan kata lain sastra, telah menjadi ukuran penting yang menentukan sukses tidaknya seorang santri dalam karir mondoknya.

Jadi, untuk menjadi santri yang berhasil disyaratkan kecakapan, dalam bidang sastra, yang di dalamnya terkandung etika, moralitas, teologi, hukum, filsafat, astronomi, dan bahasa.

Sastra telah menjadi salah satu pilar penting yang membentuk dunia pesantren ke dalam tatanan yang koheren dan khas, yang oleh orang Yunani Kuno disebut sebagai kosmos.

Tradisi Suluk

Di samping nazhaman yang lebih diperuntukkan untuk fungsi pengajaran dan melaluinya dunia pesantren diikat ke dalam tatanan yang koheren dan khas, kaum santri juga memiliki tradisi sastra dalam bentuk suluk.

Bentuk suluk ini, sebagaimana dikatakan Nancy K. Florida, telah memberi sumbangan penting terhadap sastra Jawa, baik dalam jumlah naskah, bentuk estetik, serta kemampuannya dalam memberi orientasi terhadap kebudayaan Jawa. 

Pada tengah malam, ketika para petani sedang beristirahat setelah bekerja pada siang harinya, mereka menikmati suluk yang dilantunkan dengan berbagai metrumnya.

Pada saat itulah orang Jawa, dengan cara yang halus dan indah, sedang digubah dan diisi ulang kandungan jiwanya, sehingga arah hidupnya perlahan mengikuti kandungan dalam suluktersebut.

Nadanya yang berputar berulang bergerak menuju titik pusat yang di ketinggian, dl mana Tuhan secara simbolik berada.

Bagi orang Jawa, mendengarkan suluk telah menjadi semacam mekanisme untuk menetralisir rayanya: segala pedih-perih di bumi diobati di langit, paradoks dan kontradiksi dunia didamaikan angkasa sebaliknya, segala yang ideal, agung, dan suci di langit diturunkan ke bumi, dengan mengikuti nada suluk yang perlahan merendah.

Sehingga dunia yang profan, terbatas, dan sementara, menemukan cermin sempurna untuk berbenah, hingga ke wujud penghayatan yang paling hakiki: maka material ekonomi yang diraih pada kerja di siang hari mendapatkan status ruhaninya di malam hari, pengalaman hidup yang sementara di saat bekerja memiliki harapan abadinya di puncak malam, dan segala yang terbatas dari apa yang mereka dapatkan saat bekerja menemukan gambaran tak terhingga yang dimanifestaskan dalam praktik syukur.

Jadi, jika nadzaman berfungsi mengikat dunia pesantren ke dalam koherensi sosial dan kulturalnya secara internal, maka suluk memiliki fungsi elksternal dan sosial, dimana melaluinya api yang menyala di pesantren ikut memancar di masyarakat disekelikingnya.

Dongeng Kaum Santri

Di luar suluk dan nadzaman, kita masih dapat mengingat, kendati dengan potret yang kurang jelas, tentang kuatnya tradisi dongeng yang adalah bentuk sastra paling imajinatif. 

Pada masa kanak-kanak, di tengah malam yang senyap dan menakutkan, para ibu menentramkan jiwa anaknya yang gelisah dengan memberinya bermacam dongeng dan tembang. Mulai kisah pewayangan, sejarah Jawa, hingga kisah 1001 Malam.

Dengan mendengarkan dongeng, rasa takut si anak terhadap hantu-hantu pun mereda, dahaga imajinasinya yang kering terpenuhi, dan sang ibu pun terpuaskan karena telah menyalurkan gagasannya untuk membentuk VISI dan karakter anaknya, dengan sejenak bersikap sebagai seorang aktris sastra yang bersahaja.

Peristiwa tersebut menunjukkan, betapa sastra telah (1) ikut membentuk perkembangan kesadaran  seorang anak, (2) mengikat sebuah keluarga ke dalam identitas kultural tertentu, (3) memberi sentuhan imajinatif terhadap sejarah hidup sehari-hari yang kering dan mapan, (4) menghubungkan peristiwa masa kini dengan sejarah masa lalu, dan (5) membuat relasi historis antara sebuah kawasan dengan kawasar lain.

Pada keluarga-keluarga tertentu, dimana akses buku lebih mudah didapatkan dan kesadaran membaca telah tumbuh, para ibu membacakan kisah-kisah dari berbagai negeri untuk putra-putrinya, sehingga tanpa sadar anaknya telah memiliki wawasan yang lebih luas daripada pergaulan lokal dengan teman-teman sebayanya, dan ketika anak itu tumbuh besar, ia tidak begitu kaget ketika seorang guru bercerita tentang globalisasi, modernisasi, dan keberadaa bang bangsa lain.

Itu terjadi karena sastra buka imajinasi yang tak berpijak pada realitas, melainkan sebuah potret halus, imajinatif, dan kreatif atasnya.

Dapat dibayangkan, sekadar gambaran kasar: seorang anak yang dididik dengan astra di keluarganya, ketika usianya menginjak remaja ia dikirimkan pesantren, ia mendapatkan tradisi sastra dalam bentuk yang lebih canggih, dengan fungsinya yang penting, baik untuk pesantren sebagai sebuah institusi, maupun untuk menghubungkan institusi tersebut dengan masyarakatnya.

Jika setiap pesantren terdiri dari santri dari berbagai daerah yang berbeda-beda, maka di pesantren terjadi transmisi budaya antar wilayah, yang kemudian menyebar ke berbagai daerah manakala para santri itu telah lulus, dan menjadi seorang kiai yang cakap membuat nadzaman dan suluk, di samping mumpuni dalam berbagai furu' ilmu agama.

Maka jaringan antar pesantren, karenanya, pada dasarnya adalah jaringan sastra, yang dimanifestasikan dalam bentuk institusi pendidikan, perkawinan antar santri putra-putri kiai, ritual ziarah ke makam-makam keramat, dan kitab-kitab yang ditukar silang hingga isinya dibagikan secara adil dan merata kesungguhan ke semua santri, tergantung dan tirakatnya masing-masing; lalu akhirnya, semua itu (kîtab, perkawinan, ziarah, institusi pesantren, geografi), ditulis kembali oleh seorang santri yang berbakat ke dalam bentuk sastra, sehingga terjadi produksi literer dan budaya terus menerus seperti yang kita kenal sekarang ini. Dengan cara itulah pesantren menemukan jati dirinya. (Athoillah Santri Langitan)

Belum ada Komentar untuk "Nadzoman dan Tradisi Sastra Santri"

Posting Komentar

Berkomentarlah yang bijak dan sesuai dengan isi konten. Komentar dengan Link hidup/mati tidak akan disetujui.

(✔). Boleh berkomentar menggunakan bahasa jawa

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel