Tukang Cukur dan Pentingnya Pendidikan Pesantren

Tukang Cukur dan Pentingnya Pendidikan Pesantren

"Mendidik anak zaman sekarang itu susahnya minta ampun. Wajar aja, sekarang banyak anak yang salah pergaulan dan terjerumus ke hal-hal negatif." Ujar sang tukang cukur mengawali ceritanya dengan seorang langganannya yang duduk tepat di sampingku.

"Ya benar tuh mas. Makanya sejak lulus SD saya mutusin untuk menyekolahkan anak saya di pesantren. Alhasil sekarang anak saya telah menjadi investasi dunia akhirat untuk orang tuanya." Timpal bapak yang berjenggot tebal ini sembari menatap tukang cukur.

"Memangnya selama di pesantren sistem pendidikannya seperti apa pak?"

"Jadi selama di pesantren mereka mendapatkan pendidikan agama dan juga pendidikan yang lazimnya di bangku SMP seperti Matematika, Pendidikan Bahasa, dsb. Tapi di pesantren mereka diasramakan dan diajarkan baca tulis Al-Qur'an, sholat wajib dan sunnah tepat waktu, ajaran-ajaran akidah dan akhlak, serta cara bersikap kepada orang lain. Bahkan sekarang anak saya sudah menghafal 2 juz dan tak sungkan meluruskan bacaan Al-Qur'an saya jika saya salah." Jawab pria dengan lugasnya.

"Bagus kalau seperti itu. Kalau semua anak punya bekal akidah dan akhlak sedari dini, niscaya pasti kedepannya negara ini akan makmur ya pak", kata sang tukang cukur.

Baru kali ini saya mendapati tempat cukur menjadi sebuah ruang diskusi yang asyik. Dan benar kata tukang cukur dan bapak langganannya itu.

Di era modernisasi saat ini, anak-anak muda (remaja) kita seolah menjadi sasaran empuk eksploitasi pihak asing.

Mulai dari penanaman gaya hidup hedonis dan materialistik, degradasi moral nasionalis, hingga kenakalan anak berupa begal, pencurian, sampai penggunaan narkoba.

Boleh jadi hal ini berangkat dari pola pendidikan dini yang jauh meninggalkan sisi spiritualnya.

Mereka yang hanya disuguhkan pendidikan secara intelek tanpa filterisasi ilmu agama hanya akan menjadi generasi robot yang dicipta untuk sekedar memuaskan materi belaka.

Bukankah pejabat negara kita yang saat ini menyandang status koruptor adalah orang-orang pintar yang sayangnya tak dibekali dengan akhlak mulia yang amanah?

Implikasi itu adalah hukum kausalitas yang menghasilkan produk pendidikan yang cacat akan moral. 

Lantas, patut ditunggu terobosan internalisasi nilai pancasialis yang berpadu dengan ilmu agama yang dicanangkan pemerintah, ataukah kita harus menganut model pendidikan ala pesantren untuk membumikan nilai-nilai pendidikan yang memanusiakan?

Satu yang pasti "Ilmu tanpa agama adalah BUTA!"

"Ini cambangnya dipotong yah?"

"Gak usah pak baut nyoblos besok"

0 Response to "Tukang Cukur dan Pentingnya Pendidikan Pesantren"

Post a Comment

Berkomentarlah yang bijak dan sesuai dengan isi konten. Komentar dengan Link hidup/mati tidak akan disetujui.

(✔). Boleh berkomentar menggunakan bahasa jawa

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel