Bernostalgia Bersama Lagu Lawas

Bernostalgia Bersama Lagu Lawas

Kala itu seseorang tepat memutarkan sebuah lagu nostalgia berjudul Gereja Tua dari Panbers, hingga menginspirasi sebuah coretan sore hangat tentang sebuah kisah klasik politik masa kini yang masih tersisa dari beberapa pelaku. Tentang sisi lain perjalanan karir politik yang tak selamanya berjalan mulus. Sisi seberang sana, ketika sebagian bereuforia dan sebagian lagi termenung berbalut duka.

Ketika sisi humanis harus dikubur, kepercayaan dipertaruhkan, dan serentetan orang bermuka dua berdatangan, lalu kemudian pergi tanpa jejak.

Dulu mengumbar  janji, puluhan bahkan ratusan ribu, dan berakhir nihil. Terkutuklah kalian para bedebah.

Suka atau tidak, seperti itulah realitanya. Politik nyatanya tak mengenal landasan batiniah, melainkan dibangun dari skeptisme.

Kesampingkan rasa ibamu, sekalipun dia dan engkau mengalir aliran darah yang sama. Sebab rasa ibamu hanya akan mengantarmu ke para penjilat kejam pencari materi haram.

Lantas budaya seperti apa yang diharapkan bertumbuh dari para otak demoralisasi yang tidak sehat? Masihkah mereka pantas bergelar tim sukses? Ah bullshit. Lebih arif menyebutnya tim parasit.

Rasanya perlahan pandangan perpolitikan sebagai proses perjudian adalah benar adanya. Persis pertunjukan kehidupan klab malam ketika bapak-bapak berdasi dengan perut buncit memenangkan pertaruhan yang memancing orang-orang untuk kemudian mendekat. Bagi yang kalah, tak satupun yang akan menengok.

Boro-boro mengambil hikmahnya, berkaca diri pun tak mau. Yang tersisa hanya setumpuk penyesalan dan bahkan sekedar playing victim khas atraksi orang egois yang tak mau mengakui kekalahan.

Jikalau memang harus mengambil satu pembelajaran secara tersirat, maka petuah "bukan persoalan siapa yang datang lebih dulu, tapi soal siapa yang mampu bertahan" harus dikedepankan.

Berhentilah menjadi orang yang seolah baik dan memamerkan kedermawanan dalam perpolitikan. Sebab orang-orang jauh lebih tertarik dengan sebuah materi. Relasimu tak akan berlaku, kalau kelak kau tak menyisipkan uang pembeli rokok dari sakumu.

Ah sudahlah. Selamat tinggal (sementara) untuk tahun politik. Semoga mereka yang belum beruntung di luar sana tetap diberi keteguhan hati untuk berbagi dan bersahabat.

Untuk keluargamu, kerabatmu, kenalanmu, pasangan hidupmu, semua yang telah memajangkan wajah terbaiknya di penjuru titik, yang berhati mulia namun belum mendapati kesempatan itu, tetaplah berjalan di jalur pengabdian. Sebab rezeki di masa depan siapa yang tahu.

Sesungguhnya kemenangan yang engkau dambakan itu akan lekas tergantikan di "Hari Kemenangan" bersama dengan seluruh umat muslim.

By: Syaifudin Santri Lirboyo yang sekarang lagi merantau di lamongan jawa Timur

0 Response to "Bernostalgia Bersama Lagu Lawas"

Post a Comment

Berkomentarlah yang bijak dan sesuai dengan isi konten. Komentar dengan Link hidup/mati tidak akan disetujui.

(✔). Boleh berkomentar menggunakan bahasa jawa

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel