Masjid Sebagai Pusat Peradaban? Kenapa Tidak!

Masjid Sebagai Pusat Peradaban? Kenapa Tidak!

Entah kenapa, setiap mendengar sebuah masjid memiliki dana hingga ratusan juta, kadang kerap berpikiran kenapa tidak dana itu diperuntukkan untuk berbagai kegiatan yang peruntukkannya juga kepada masyarakat. Toh, dana yang dimiliki sebuah Masjid juga dari konsep swadaya masyarakat yang ingin berbagi rezeki untuk kemaslahatan bersama.

Teringat, suatu ketika pernah tidak sengaja berbincang sejenak dengan salah seorang pengurus remaja masjid yang mengelola masjid yang tak jauh dari kampus saat itu.

Dia berkata, "Justru kami tidak pernah bangga atau senang kalau dana masjid ini banyak. Karena itu artinya dana kebaikan ini tidak tersalurkan sebagaimana mestinya. Harusnya dana itu bisa kita optimalkan dengan melakukan berbagai kegiatan yang peruntukannya kembali ke masyarakat. Selain untuk fasilitas dan dana tak terduga, kita bisa melakukan kegiatan produktif lainnya seperti donor darah, pengajian rutin, program hafidz, membangun pesantren hingga rencana membuat pusat studi agama (semoga saja sekarang telah terealisasi)."

Sekilas, masjid ini memang jauh dari kesan konvensional. Terdapat semacam tempat cafe(atau apalah namanya), lapak jualan, dan parkirannya yang tertata rapi.

"Tempat-tempat itu semata untuk memberikan kesan berbeda dari sebuah masjid, yang bukan hanya sebagai tempat ibadah semata, melainkan juga sebagai pusat perdagangan, layaknya salah satu fungsi masjid di era Rasulullah saw. Tukang parkir juga kami yang gaji, jadi tidak membebani pengunjung masjid".

Baca ini juga ya: Tantangan Adalah Cara Jitu Untuk Mengembangkan diri

Banyaknya kegiatan dan program yang dicanangkan, toh nyatanya juga tidak berdampak pada finansial masjid itu sendiri.

"Malah semakin banyak sumbangan yang masuk. Mungkin saja karena masyarakat menilai masjid ini punya banyak kegiatan sehingga ingin berkontribusi, entahlah," tutupnya kala itu.

Dalam hati, "wah keren juga nih konsep manajemennya." Apalagi bukan rahasia umum lagi kalau di era Rasulullah saw dulu, masjid merupakan pusat budaya dan ilmu pengetahuan, bukan hanya semata tempat ibadah.

Bahkan juga konon tempat merawat orang sakit dan asrama. Sehingga masjid di era dulu, dianggap sebagai pusat peradaban kehidupan umat muslim yang tak pernah sepi dari kegiatan.

Sangat sayang saja rasanya kalau potensi SDM dan dana itu tidak dioptimalkan. Ya kan, siapa tahu semakin banyaknya kegiatan yang dilakukan sebuah masjid bisa berbanding lurus dengan tingkat partisipasi orang untuk datang ke masjid.

Secara perlahan mengubah paradigma masyarakat bahwa masjid bukan semata tempat yang baru kita kunjungi saat ingin beribadah, melainkan masjid menjadi pusat peradaban kehidupan baik dari aspek religiusitas, sosialis maupun akademis. Semoga saja.

Btw, fungsi masjid juga salah satunya tempat silaturahmi loh. Jadi bagi yang masih di PHP agenda bukber, coba sesekali ke masjid siapa tahu ketemu teman lama, atau sekalian bukbernya di masjid saja, tentu saja enak. Dan, yang jelas gratis haha.

2 Responses to "Masjid Sebagai Pusat Peradaban? Kenapa Tidak!"

Berkomentarlah yang bijak dan sesuai dengan isi konten. Komentar dengan Link hidup/mati tidak akan disetujui.

(✔). Boleh berkomentar menggunakan bahasa jawa

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel