Ramadhan di Tanah Rantau, Oleh: Syaifudin [Santri Lirboyo]

Ramadhan di Tanah Rantau, Oleh: Syaifudin [Santri Lirboyo]

Ramadhan merupakan momen terindah berkumpul dengan keluarga, ramadhan kali ini sama seperti dulu, tidak ada yang istimewa, mungkin hatiku telah mati karena terlalu banyak luka yang aku pendam, atau memang bukan ahlul ilmi, ketika bersliweran ceramah-ceramah agama yg diadakan disurau-surau kecil yangg terkesan monoton, nggak ada yang baru, paling-paling menjelaskan tentang fadhilah fadhilah dibulan ramadhan.

Hidup selalu dimanja adalah impian semua orang, baik yang kecil maupun yang dewasa, setiap orang mempunyai cerita yg beragam, ada yang hidupnya selalu ngenes, ada yang bahagia tapi hanya pura pura, tidak ketinggalan pula pura pura sedih tapi sebenarnya bahagia, ada juga kebahagiaan yang tertunda. Selain itu ada kebahagiaan yang disegerakan namun berakhir dengan air mata.

Entahlah kamu mau pilih yang mana, karena hidup itu pilihan bukan?, pura-pura bahagia sakit rasanya, pura pura sedih yang sebenarnya bahagia itu juga lama kelamaan akan lelah juga, ngenes terus lama kelamaan kamu akan mengutuk tuhan, tuhan tidak adil.

Ramadhan dinegri orang atau ditanah rantau, sebagian orang menilai hal yang bener bener berat,  terbayang kan? ketika berbuka dengan keluarga, keributan kecil siadik menangis karena tidak mau jajannya dimakan oleh kakaknya.

Sewaktu sahur dengan berkali kali siemak membangungkan si sulung yg males beranjak dari tempat tidur, yang semuanya adalah momen momen yang akan selau dikenang.

Berbeda yang merantau jauh dinegeri orang, kota orang, mereka berjuang untuk kebahagiaan keluarga, kekasih, atau paling tidak agar dianggap bahagia.

Mulai bangun dengan muka manyun, rambut acak acakan, terlihat ngenes dan tidak terawat, kecoa pun ikut mungkin tertawa kecil, hanya saja kamu tidak dengar, mungkin karena sebuah alesan takut dosa.

Membereskan tempat tidur, bersiap siap menyalakan kompor, memasak, hingga mencucipun sendiri, persis dalam lagu dangdut “bagaikan angka satu”, belum lagi tagihan bulanan listrik, kos, ataupun spp yang belum sempat terbayar, pokoknya berjubel dikepala menjadi satu.

Disore hari, penjual mulai dari penjual tempe penyet, es dawet, cilok, batagor, cireng, cimol, terang bulan, es pisang hijau, pisang lumpur, kebab turki, india, kebab local (lumpia), singkong keju, tak ketinggalan pula tukang odong odong ikut mencari pundi pundi uang untuk lebaran.

Menjelang maghrib banyak lalu lalang emak dengan anaknya beserta sibapak naik sepeda motor sambil tertawa ikhlas mewarnai kekhasan dibulan ramadhan.

Aku dan temanku juga rutin melepas penat dari rutinitas yang padat, temanku berbisik  "rasanya aku tidak kuat kang melihat mereka, aku tiba-tiba kangen ingin pulang”, "Memangnya kenapa?" Tanyaku.

Bapak yang sudah tua renta, ibuku juga sama, adiku yang dipesantren  belum juga pulang, dibulan puasa ibuku pernah menelpon “awakmu gak mulih toh le? (kamu nggak pulang nak?.).

Temanku itu, semenjak lulus SMP dirumah, memang tidak pernah pulang, rasa haus tentang pengetahuan terbukti, Sekolah SMA dibrebes, kemudian mondok di pondok pesantren Lirboyo, stelah selesai, temanku diberi tugas untuk membantu salah satu pesantren  didaerah lamongan, dan sekarang masuk perguruan tinggi semester akhir, temanku berkonsentrasi dalam bidang ilmu alquran dan tafsir, ya meski kadang uang saku  tidak sesuai kebutuhan.

Aku hanya menebak saja alasan kenapa ia tidak pernah pulang, mingkin apa dia saudara bang toyib?, ah entahlah.

Diujung kulon jawa tengan temanku dilahirkan, kota yg terkenal nusakambangnya, ketika waktu berbuka aku beranikan diri untuk bertanya, kang kenapa sih ndak pulang-pulang? Emangnya nggak kangen sama orang tua?.

Temanku diam saja, seakan ada sesuatu yang dia sembunyikan, waktu tiba tiba hening, rasanya aku telah bersalah, mengapa aku tanyakan hal ini, dengan suara berat temanku bilang “aku memang bukan orang yang punya segalanya, aku hanya punya cinta disepertiga malam yang dikirim lewat angin untuk kekuatan dalam menggapai anganku. Hati kecilku berdoa “semoga saja temanku selalu dipermudah segala urusanya."

0 Response to "Ramadhan di Tanah Rantau, Oleh: Syaifudin [Santri Lirboyo]"

Post a Comment

Berkomentarlah yang bijak dan sesuai dengan isi konten. Komentar dengan Link hidup/mati tidak akan disetujui.

(✔). Boleh berkomentar menggunakan bahasa jawa

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel